
"Jam berapa kita rapat?" tanya Agatha selesai sarapan.
"Jam 10 Pak. Dan setelah makan siang Pak Preadir akan berkunjung ke kator katanya." jawab Sahira.
"Baiklah, kita masih punya waktu sebelum rapat. Kita ke Mall Xxx saja dulu."
"Buat apa ke sana Pak? Bukannya Pak Edu sedang menunggu Bapak di kantor, lalu untuk apa ke kita ke Resto?" Sahira bingung.
"Siapa bilang kita ke Resto, tadi kan saya bilang kita mau ke Mall."
"Tapi Pak, kerjaan saya di kator gimana?"
"Nanti saja, itu gampang."
"Oh gitu, ya udah ayok!" Sahira malah lebih semangat.
#
Desi mondar mandir di depan pintu ruangan Agatha, mau langsung masuk tapi tidak berani.
"Krek," pintu ruangan di buka dan Edu keluar.
"Eh Pak Edu di sini, apa kabar Pak?"
"Eh Bos mu itu kemana sih, katanya cuma sarapan. Jam segini masih belum balik juga," Edu melihat jam tangannya. Ia tidak sadar untuk apa Desi di depan ruangan Agatha.
"Mungkin mereka ada urusan di luar Pak."
"Ah, mana mungkin. Bos mu itu pasti menghindari saya."
"Mungkin Pak Agatha memberikan waktu buat kita berdua Pak."
Edu mengerutkan kening.
"Maksud kamu?"
"Supaya kita bisa bicara?"
"Ya. Dari tadi kita bicara." ucap Edu sedikit kesal.
"Yang dari hati ke hati begitu Pak maksudnya." ucap Desi malu-malu
Edu mulai paham dan tersenyum.
"Hey Nona, apa kau tidak menyesal mau bicara dari hati ke hati denganku?" Mulai mengeluarkan jurus.
"Haha, Bapak. Mana mungkin saya menyesal," menepuk pundak Edu.
"Kalau begitu ayo kita jalan-jalan keluar," sifat playboy nya keluar.
"Tapi saya kerja Pak." bingung dengan tawaran yang mungkin tidak terulang untuk kedua kalinya.
"Bolos saja. Agatha juga tidak ada di kantor," bisik Edu.
"Ngak bisa Pak, kalau saya di pecat Ibu saya makan apa nanti," masih bisa berpikir jernih meskipun buta karna cinta.
"Ya sudah, minta nomor ponselmu. Nanti saya hubungi."
Edu dan Desi tukaran nomor ponsel dan kemudian Edu pergi menyisakan merona di wajah Desi. Inilah alasan mengapa Agatha tidak bisa mempercayakan Edu untuk mendekati Sahira meskipun alasan lainnya adalah masih sayang.
#
Agatha meluncur saja ke toko tas bermerk dan berkeliling di sana.
"Bapak mau beli tas? Buat apa Pak?" tanya Sahira yang mengikuti saja kemana Agatha meluncur, di luar kantorpun ia tetaplah Sekretaris.
"Saya mau beli buat Mama, coba kamu pilihkan yang mana yang biasa di sukai wanita!"
"Tapi saya takut Mamanya Bapak ngak suka, sayakan ngak tahu seleranya Pak."
"Pilih saja! yang mana yang kau suka Mama pasti suka."
"Emang bisa begitu?"
"Mmm."
Sahira memilih tas yang di sukainya, ada lima tas yang ia suka dan bingung mau pilih yang mana.
"Pilih dua yang kau suka!"
"Kenapa dua Pak?"
"Pilih saja tidak usah protes!"
"Baiklah," Sahira memilih dua tas.
Agatha membayar kedua tas itu dengan kartunya, entajlh kartu apa Sahira tidak paham. Yang ia tahu jelas itu bukan sebuah ATM.
"Jam berapa sekarang?"
"Jam 09.30 Pak."
"Baiklah ayo kita balik ke kantor!"
#
Agatha tersenyum riang saat masuk keruangannya tidak ada si pembual tentunya.
"Berguna juga si Desi di suruh kesini tadi," ucap Agath tersenyum-senyum sendiri.
Sahira harus bergegas sholat Zduhur agar tidak terlambat menyambut Presdir yang mau berkunjung ke kantor hari ini.
Semua Staf berdiri ketika Pak Presdir tiba di kantor. Pak Presdir Papanya Agatha langsung menuju ruangan Agatha.
Pak Iman Presdir Imanuel Cooperation Group biasa di panggil Pak Yos di kalangan kolega bisnisnya.
Ternyata yang dayang bukan sekedar Pak Iman tali juga bersama istrinya Bu Amira.
"Pah," Agatha memeluk Pak Iman di sambut hangat oleh Pak Iman.
"Semua baik?" tanya Pak Iman menatap Agatha yang mendongak.
"Baik kok Pah."
"Papa ke sini mau bahas soal proyek baru kita?"
"Bukan Nak, bukan itu. Papa bisa bahas tentang proyek lain waktu. Papa ke sini karna Dokter Rudi tempo hari menemui Papa." ucap Pak Iman yang mulai membelakangi Agatha.
"Aga ngak suka bahas itu Pa."
"Agatha Papa sedang tidak bertanya, tapi Papa sedang memberikanmu tugas!"
"Pah..." ucap Agatha lelah.
"Papa tidak mau bantahan, minggu ini kau harus kembali melakukan terapi. Lakukan tugas yang Papa berikan jika kamu masih menghormati dan menghargai orang tuamu."
"Iya Sayang, turuti saja kemauan Papamu. Tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya." Bu Amira menimpali.
"Iya Mah." ucap Agatha lemah.
Sahira hanya diam di bagian ruangan yang mungkin belum terlihat oleh Pak Presdir dan isteinya. Sejak datang Presdir langsung memeluk anaknya.
"Gitu dong sayang. Bolehkan minggu ini terapinya Mama temani."
Agatha hanya mengangguk.
"Oh iya Mah, Aga ada sesuatu buat Mama," Agatha mengambil tas yang tadi ia taruh di dekat kursi.
"Apa itu Sayang?"
"Buka aja Ma," Agatha menyerahkan Tas belanjaan yang isinya juga Tas.
"Wah, ini cantik sekali. Makasih ya." Ibunya hanya menghargai, pilihan Sahira jelas-jelas tidak ke ibu-ibuan banget dan kurang di sukai Bu Amira.
"Mama suka?" tanya Agatha dengan senyum.
"Suka sekali Sayang," membelai Rambut Agatha.
"Dia yang pilihin buat Mama," Agatha menunjuk Sahira yang diam saja dengan ujung matanya.
"Oh... siapa dia sayang?" tanya Bu Amira heran, tumben anaknya ini seperti sedang memperkenalkan seseorang padanya.
"Dia Sahira Ma, Sekretaris Aga."
"Saya Sahira Bu," Sahira mencium tangan Bu Amira.
"Kamu cantik banget Sayang, pakek hijab lagi," memegang ujung kerudung Sahira.
"Pah, sini deh," Bu Amira memanggil Pak Iman yang sudah menjauh karna menelpon.
"Kenapa?" tanya Pak Iman sudah dekat.
"Ini Pah Sekretarisnya Agatha yang pilihin Tas buat Mama kaya Aga Pah," ucap Bu Amira sengaja mengedip-ngedipkan matanya.
"Oh begitu. Aga kamu ngak beliin buat dia? Masak cuma di suruh pilih aja," Pah Iman menoleh pada Agatha yang sudah duduk di meja kerjanya.
"Ada kok Pa." ucap Agatha santai.
"mana coba?" melirik-lirik meja Agatha.
"Ini Pa," Agatha mengangkat Tas dengan tangan kanannya.
"Sini biar Mama yang kasih."
Bu Amira mengambil tas dari tangan Agatha dan meyerahkannya pada Sahira.
Sahira menatap Agatha bingung, Agatha hanya tersenyum.
"Ini beneran buat Saya Buk, bukannya Buat Ibuk."
"Loh kan kamu dengar sendiri tadi Agatha bilang apa."
"Iya denger Bu tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi inikan Mahal Buk," ucap Sahira pelan.
"Huhaha," Bu Amira malah terbahak.
Sahira lebih bingung lagi ketika orang tertawa.
"Ambil saja dan berterima kasihlah."
"Baik Buk, terima kasih," usap Sahira menunduk.