Let'S Get Married

Let'S Get Married
Ungkapan



Edu mondar mandir di ruang tamu pura-pura mengepel lantai. Sesekali ia melirik Agatha dan Sahira yang sedang memakan ramen berdua.


"Lu mau?" Agatha menyodokan mangkuknya.


"Hehe, ngak deh. Makasih."


"Ngapain dari tadi mondar mandir?" bertanya sinis.


"Gwa kan lagi ngepel," Kasian si Edu tiap hari ngepel lantai.


"Kemari!" Agatha menjentikkan jarinya.


Edu mendekat, dengan manyun dan menggerutu yang tidak terdengar jelas.


"Berkemas dan kembalilah ke alammu!"


"Maksud lu?" Edu kurang paham.


"Ya. Lu bebas dari hukuman sekarang. Pergilah!"


"Lu serius?" Teriak Edu tak percaya.


"Mmm, pergilah atau aku berubah pikiran."


"Eissttt, jangan coba-coba berubah. Oke gwa berkemas sekarang."


"Ya. Pergilah dasar tukang ganggu."


Edu berkemas, selesai berkemas ia keluar kamar dengan wajah cerah seperti habis di bebaskan dari kurungan bertahun- tahun.


"Dadah," Edu melambaikan tangan dengan tawa girangnya, meloncat-loncat tidak karuan. Padahal tujuan Agatha menyuruhnya pergi agar tidak menggoda Sahira lagi.


Agatha dan Sahira tertawa melihat tingkahnya.


Edu menghilang di balik pintu aprtemen.


"Apa kau punya sesuatu yang ingin di katakan?" Agatha memecah sunyi di antara mereka. Meskipun ada sesekali dengtingan suara Bi Inah yang sedang mencuci piring di dapur.


"Apa boleh kita bicara di luar?" Sahira menunjuk pintu dengan ujung matanya.


"Mmm, baiklah."


Agatha dan Sahira keluar gedung apartemen. Sahira hanya memgikuti saja kemana roda Agatha menuju. Sampai akhirnya Agatha berhenti di sebuah taman yang tidak jauh dari apartemennya.


"Duduklah!" Ada sebuah kursi di taman.


Sahira duduk menurut.


"Sekarang bicaralah!"


Sahira memutar-mutar unjung jarinya, bingung harus mulai dari mana. Ia takut Agatha akan marah terlebih pada Pak Adi jika ia terus terang tentang apa yang ingin ia bicarakan.


"Apa Bapak mau ice cream?" kebetulan ketika mendongak ada Ice cream lewat.


Agatha menoleh ke arah yang sama.


"Pak," Agatha mengangkat tangan memanggil si penjual ice cream.


"Kau mau?"


"Mmm," Sahira mengangguk denga senyum cerah.


Agatha pergi mendekati si penjual ice cream. Sahira masih duduk dengan senyum merekah. Hanya di belikah Ice cream sudah seperti di belikan berlian saja.


Agatha tidak perlu bertanya ice cream apa yang Sahira inginkan. Hampir dua tahun mereka bersama dulu menjadikannya tahu semua yang di sukai Sahira dan juga yang tidak ia sukai. Ia masih ingat dengan jelas jika harus di beberkan satu persatu.


"Ini," Agatha mengulurkan Ice cream coklat di tangan kanannya, sementara ada satu lagi ice cream coklat di tangan kirinya.


Sahira mulai memakan ice cream dengan hati berdebar-debar. Lebai kan, di belikan ice cream saja sudah berdebar-debar bagaimana kalau Agatha melamarnya?


Mereka mulai berbincang ringan mengelilingi taman di pagi hari yang memanglah cerah.


Ada banyak tawa di sela-sela obrolan tentang orang-orang di sekitar taman dan juga tingkah lucu anak-anak yang berlarian di sana. Beberapa dari mereka membawa hewan peliharaannya.


"Apa harus membawa hewan peliharaan ketika olah raga?" gumam Sahira.


"Heh, Sekretaris katrok. Kalau kita sudah menyukai sesuatu maka sesuatu itu akan kita bawa kemanapun kita pergi. Begitupun juga hewan peliharaan."


"Tapi kan merepotkan," celetuknya.


"Mereka tidak merasa repot karna mereka menyukainya. Tapi kalau orang sepertimu akan merasa repot memang. Orangnya saja merepotkan, huhaha." teetawa sendiri. Sahira hanya melototi.


Terakhir berhenti di bawah pohon rindang karna matahari mulai terik.


Lama terdiam menikmati angin sejuk dan melihat hamparan rumput menhijau.


"Apa Bapak tidak akan marah jika saya menanyakan sesuatu?" Sahira melirik Agatha yang memandang langit biru dengan senyum.


"Jika kamu tahu saya akan marah, maka jangan tanyakan," Agatha berbicara tidak menoleh.


"Saya tidak akan tahu sebelum saya bertanya kan."


"Tanyakan! maka terima hukuman jika saya marah." Melirik sebentar.


"Mmm," Sahira mengangguk matap. Lebih baik Agatha marah sebetar dari pada ia pendam seumur hidupnya.


"Kenapa dulu Bapak tidak berkata jujur? Apa dulu Bapak tidak percaya sepenuhnya sama saya?" ucap Sahira dengan takut-takut.


Agatha hanya diam tak menampakkan ekspresi apapun. Masih menatap langit hijau dengan entah apa yang ia pikirkan.


"Apa Pak Adi mengatakannya padamu?" balik bertanya.


"Saya yang memaksa Pak. Saya minta maaf, tapi apa saya salah kalau saya masih sama." Sahira berbicara menunduk. Mana mungkin ia berani berbicara jika menatap Agatha.


"Sahira," Agatha menoleh dan menatap sendu.


"Saya rela jika sekarang Bapak mau marah, atau benci sama saya Pak. Tapi satu hal yang tidak bisa saya ubah tentang semua masa lalu yang masih sama dalam ingatan saya. Masa lalu yang sampai sekarang tidak bisa saya hapuskan."


Agatha masih diam, masih dengan tatapan yang sama.


"Dalam sepuluh tahun saya menggu untuk bisa bertemu denga Bapak walaupun hanya sebentar. Meskipun Bapak pergi dengan meninggalkan lubang yang menganga di hati saya. Tapi entah mengapa lubang yang menganga itu perlahan menghilang, hanya kenangan yang baik yang masih tertinggal." Mata Sahira mulai berkaca-kaca.


Agatha masih sunyi menatap langit.


'Ya Tuhan... Apa yang sudah ku katakan? Keberanian dari mana yang muncul?'


"Maaf Pak saya lancang. Tapi sampai sekarang hati saya masih bertanya-tanya mengapa Bapak sengaja melakukan itu?"


"Sahira, berhentilah bertanya dan hiduplah dengan bahagia. Anggaplah masa lalu kita sebagai sebuah pelajaran dalam hidupmu." Agatah dengan tatapan sendunya.


"Begitukah? Bagaimana jika saya tidak bisa." menoleh sejenak lalu dengan cepat berpaling.


"Sahira, apa yang kamu harapkan dari orang sepertiku. Aku bukanlah orang yang bisa membuatmu bahagia."


"Jadi begitu? Itu yang anda pikirkan selama ini, atau aku yang salah tanggapan jika menganggap anda juga belum berubah."


"Sahira... Sama atau tidak sama, jangan lagi ungkit tentang masa lalu kita dan mencari tahu tentang itu semua. Tinggalkan itu semua, kamu berhak bahagia Ra."


"Bahagia atau tidak bukanlah anda yang memutuskan. Tapi hati saya yang tidak bisa saya kendalikan yang membawa saya pada kebahagian atau tidak."


"Sahira, saya mohon berhentilah. Kita sudahi pembicaraan ini sampai di sini saja," lama terdiam.


"Saya ingin kembali ke apartemen. Kamu pulanglah!"


Sahira hanya diam menunduk menatap tangannya ya memilin-milin jarinya mengiringi hati yang perih.


Agatha menghilang perlahan meningalkan Sahira yang menunduk dalam. Menyembunyika air mata yang dari tadi sudah menghujan.


'Apakah saya harus menyesali perkataan saya tadi? Apa saya harus merelakannya pergi meninggalkan saya untuk kedua kalinya. Apakah barusan saya di tolak?'