Let'S Get Married

Let'S Get Married
Sebuah Cincin



"Menikahlah denganku!" Agatha mengulang kata-katanya.


"Apa Bapak berpikir menikah seperti permainan? Bapak bisa mengajak seseorang lalu Bapak bisa tarik lagi kata-kata Bapak. Begitu?" Kesal karna Agatha melamar dengan nada yang datar.


"Lalu apa mau mu?"


"Datanglah pada kedua orang tuaku!" Sahira bingung harus senang atau bagaimana, mendapat lamaran secara tiba-tiba.


"Baiklah, ayo!" Agatha langsung meluncur.


"Tapi sebentar lagi ada rapat Pak," ucap Sahira tiba-tiba gugup.


"Kau masih ingat rapat saat kau memilih untuk resign?" Agatha menoleh pada Sahira yang sudah tertinggal.


"Saya mengingatkan, siapa tahu Bapak lupa," Sahira berkata pelan.


"Baiklah, sekarang kita bicara di ruangan saya saja," Agatha langsung menuju ruangannya, Sahira mengikuti dengan mudahnya. Sudah lupa kalau tadi dia marah besar.


"Kamu belum jawab pertanyaan saya Sahira, kamu tadi dari mana?"


"Saya keluar sebentar Pak?" Sahira menunduk


"Ada urusan apa, sampai kamu keluar tidak memberi tahu saya," sekarang Agatha mendominasi.


"Itu Pak," Sahira bingung harus berkata apa.


"Katakan Ra, bagaimana kau bisa jadi istri saya kalau kau tidak mau berkata jujur."


DEG...


Istri?


Kata-kata itu sukses membuat jantung Sahira mau copot.


"Itu Pak, tadi Sesil mau bicara sebentar katanya," Sahira berkata pelan.


"Sesil? Ceh, bicara apa dia?" raut wajah kesal mulai terlihat pada Agatha.


"Dia minta bantuan supaya Bapak ngak marah-marah lagi sama dia," Sahira menunduk semakin dalam.


"Lalu kau mau?"


Sahira menggeleng.


"Kau tahu orang seperti apa Sesil itu?"


Sahira menggeleng kembali.


"Saya ingatkan untuk tidak percaya dengan semua omongannya."


"Baik Pak."


"Baiklah. Apa kau sudah makan siang?"


Sahira menggeleng lagi.


"Sekarang kau hobi menggeleng kepala ya?"


"Belum Pak," jawab Sahira tegas.


"Baiklah, kita keluar."


Dan lagi Agatha mengajak Sahira makan di restourant mewah.


Sahira menatap heran hidangan yang baru pertama kali ia lihat.


"Kenapa? Apa kau berharap di dalamnya ada sebuah cincin?" ucap Agatha ketika Sahira menatap heran semangkuk ice cream di hadapnnya.


"Aaa... tidak, tidak bukan itu


Hanya saja bentuknya aneh jika di bilang ice cream." Sahira menyeringai.


"Makanlah, rasanya tidak akan kau jumpai di manapun." Agatha mulai menyendok makanannya.


"Mmm, baiklah," Sahira makan ice cream dengan pelan.


"Apa Bapak akan membawa cincin jika melamar saya?" bertanya memberanikan diri.


"Lihat saja nanti!"


#


Selesai rapat, Agatha mengajak Sahira pulang cepat hanya untuk berjalan-jalan di pusat perbelanjaan terdekat.


Sahira mengikuti saja kemana Agatha menjalankan rodanya. Sahira tercengang ketika tahu Agatha berhenti di sebuah toko perhiasan.


'Ternyata Pak Agatha romantis juga, hiks.' Wajah Sahira sudah merona sebelum di belikan apapun.


"Ra, pilihkan sebuah kalung!"


"Kalung? Buat apa Pak?" seingat Sahira di mana-mana melamar selalu pakai cincin.


"Aku ingin membelikan ibuku sebuah kalung untuk hadiah ulang tahunnya."


Seketika wajah sahira yang tadinya merona berubah manyun.


'Apa harus aku yang memilih, aku sudah kepedean setengah mati.'


"Sahira ayo cepat!"


"Ya baik Pak."


Selesai memilih kalung, Sahira melirik sebuah cincin dengan permata kecil di tengahnya. Terlihat kecil namun tetap mewah.


Seumpama Agatha menawarinya mungkin cincin itulah yang akan ia pilih. Tapi Agatha sama sekali tidak bergeming, hanya menatap lurus pada kalung yang di pilih Sahira tadi.


Agatha memutuskan untuk mengantar Sahira pulang.


"Datanglah," Agatha menyerahkan sebuah undangan ulang tahun ibunya yang di adakan di rumah besar milik orang tuanya. Mereka masih di perjalan dengan mobil yang melaju sedang.


"Apa pestanya meriah?" Sahira takut salah kostum.


"Mmm," Agatha mengangguk, pandangannya lurus melihat ponsel.


"Apa Sesil akan datang?" tanya Sahira ragu.


"Tentu, dia kan keponakan Mama," Agatha ingin menegaskan sesuatu.


Tiba-tiba saja perasaan sahira jadi tidak mood untuk hadir.


"Apa kau menganggapnya sepupu?"


"Harus, kenyataannya memang begitu."


'Harus? jawaban yang menjengkelkan. Harus itu terdengar seperti terpaksa tau.'


"Kenapa?"


"Tidak, pengen tahu aja."


Agatha mengambil sebuah tas belanjaan di dekat kakinya, ia mengekuarkan sebuah kotak besar di dalamnya.


"Ini, bukalah!" Agatha menyerahkan kotak itu pada Sahira.


"Apa ini?" menatap bingung.


"Buka saja. Kau akan tahu."


Sahira membuka kotak itu, ada sebuah kain yang nampaknya sebhah gaun yang sedang di lipat. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian Sahira.


Di atas pakaian itu ada sebuah kotak kecil yang di tatap Sahira dengan heran.


"Apa ini Pak?"


"Bukalah!"


"Bakankah ini?" Sahira kaget. Di dalam kotak kecil itu ada sebuah cincin yang mirip sekali dengan cincin yang ia lirik tadi.


"Mmm, kau suka?" Agatha tersenyum.


"Bagaimana anda bisa tahu?" tanya Sahira tak percaya.


Agatha dan Pak Adi saling lirik di kaca spion mobil.


Flash Back


Sahira melirik cincin yang berkilauan didalam lemari kaca.


Agatha melirik Pak Adi yang dari tadi membuntuti mereka, memberikan isyarat agar mendekat.


Agatha menunjuk Sahira dan cincin yangnia pandangi dengan ujung matanya. Pak adi langsung mengerti apa yang Agatha maksud.


"Saya sudah transfer uangnya ke rekening Pak Adi," pesan di kirim Agatha dari ponsel yang ia pangku.


"Baik Mas," jawab Pak Adi. Walaupun sudah lumayan tua tapi Pak Adi masih bisa di andalkan.


Agatha membawa Sahira pergi dengan berbincang-bincang sengaja lambat menunggu Pak Adi yang masih bertransaksi.


Pak Adi sudah bergegas berlari menuju mereka. Memberikan kotak kecil ke tangan Agatha ketika Sahira sedang tidak melihat tingkah mereka.


Ketika sampai di mobil Agatha memasukkan kotak kecil itu kedalam sebuah kotak besar berisi gaun yang ia beli kemarin bersama Pak Adi. Ia melihat postur tubuh Sahira yang tidak jauh dari masih SMA dan bisa dengan mudah menebak pakaian yang pas dan cincin yang juga pas.


Flash Back Off.


"Kau tidak ingin mencobanya?"


Sahira melirik Gaun yang ada di kotak besar.


"Bukan gaunnya, itu bisa kau pakai untuk menghadiri pesta besok. Aku ingin melihat kau memakainya besok."


"Saya pakek ya Pak," ucap Sahira mengeluarkan cincin dari kotaknya.


"Mmm, itu yang saya maksud."


"Wah, Pas. Sepertinya cincin ini mamang di takdirkan menjadi milikku, hehe." Tak tanggung rasa bahagia yang di terima Sahira saat ini. Ia ingin dunianya selalu seperti ini.


"Besok harus kau pakai!"


"Siap Bos," Sahira mengangkat tangan hormat.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan rumah Sahira.


"Mbak sudah sampai," ucap Pak Adi mengetuk jendela.


Sudah bebera menit Pak Adi berdiri di luar mobil namun pintu mobil belum juga terbuka.


Karna terlalu asyik berbincang mereka lupa kalau sudah tiba di rumah.


Sahira keluat mobil. Agatha membuka kaca jendela dan tersenyum. Ia bukan tersenyum pada Sahira akan tetapi tersenyum pada ayah Sahira yang ternyata dari tadi memperhatikan mereka dari teras depan rumahnya.