Let'S Get Married

Let'S Get Married
Sebuah Pertanyaan.



"Pa," Sahira masuk ke kamar ayahnya. Kamar sederhana yang minimalis namun menampilkan kesan rapi dan bersih.


Ayahnya dudduk dikursi dekat jendela. Ayahnya tidak bergeming saat Sahira memanggil.


"Kenapa Pa?" Ayah Sahira menoleh.


"Pa, apa salahnya jika dia penyandang cacat. Bukankah ayah tahu dalam agama kita Allah tidak memandang fisik namun apakah hambanya bertaqwa atau tidak." Suara Sahira lirih.


"Sahira, ayah tidak bermaksud sama sekali memandang fisik terlebih menghinanya." Ayah Sahira bangkit.


"Lalu kenapa? Sikap Papa benar-benar menunjukkan kalau Papa tidak menyukainya." Sahira yang tadi menunduk mulai menatap.


"Papa bukan tidak suka padanya Sahira, ada hal yang tidak bisa kamu mengerti." Ayahnya menghadap ke jendela membalakangi Sahira.


"Apa Pa, jelaskan agar Sahira bisa mengerti."


"Papa yang mengurusmu dari kecil, memberikanmu kasih sayang sepenuh hati. Papa yang merawatmu dengan seluruh raga Papa. Papa merasa tidak rela jika harus menyerahkanmu pada orang yang tidak bisa merawatmu dengan baik."


"Pa... dia hanya tidak bisa berjalan. Dia bukan orang yang tidak bisa melakukan apa-apa. Terbukti dengan prestasinya yang banyak, dia bahkan bisa memimpin perusahaan dengan baik."


"Begitu kah? Apa itu alasanmu untuk menikah dengannya. Apa karna dia dari keluarga terpandang dan punya kekuasaan?"


"Pa... Kenapa Papa berkata demikian? Apa menjadi anak Papa selama dua puluh delapan tahun bersama masih tidak bisa mengerti karakter Ira." Ada sesak yang ingin pecah di dada Sahira dengan perkataan ayahnya.


"Lalu kenapa? Kenapa kau berisi keras ingin menikah dengannya?"


"Kami sudah saling kenal lama Pa, dia adalah cinta pertama Sahira waktu SMA."


"Heh, cinta pertama? Bukankah Papamulah seharusnya yang menjadi cinta pertama mu."


"Papa..." suara Sahira lirih, air mata mulai membanjiri wajahnya.


"Tidak bisa sekarang Sahira. Tunggulah hingga Papa yakin jika dia bisa mengurusmu dengan baik."


Sahira terisak dengan ayahnya yang membelakanginya.


#


Hari ini weekend. Sahira duduk di cafe di sebuah Mall, mengedarkan pandangannya mencari sosok lelaki pujaannya yang janjian dengannya satu jam yang lalu.


"Abang dimana?" pesan ia kirmkan.


lengkungan senyum di bibir Agatha merekah, ternyata Sahira memang sudah mengubah panggilannya seperti dulu. Walaupun bukan Sayang dan lain sebagainya seperti halnya panggilan romantis anak muda zaman sekarang.


"Maaf ya Ra, aku ada urusan. Nanti saja ketemuannya." Agatha membalas.


"Apa?" Sahira langsung spontan berdiri.


"Dari tadi bilang kalau kau tidak bisa datang. Membuatku repot saja." Mengomel pada layar ponselnya.


Agatha dan Pak Adi tertawa keras di belakangnya.


"Kalian," Sahira menoleh mendengar tawa di belakangnya.


"Syok ya?" ucap Agatha menggoda.


"Kalian ngerjain saya ya," Sahira setengah berteriak.


Agatha kembali terbahak.


"Tunggu! Kalian?" Agatha baru sadar kalau dari tadi Pak Adi terus di sampingnya menatap kedua orang ini dengan senyum-senyum.


"Ngapain Pak Adi ngikut kesini juga?"


"Mau makan Mas, kenapa ngak boleh?"


"Ngak boleh lah, makan tempat lain saja. Kesannya kan bukan kencan kalau bertiga Pak."


"Ohh... emang ini namanya kencan ya Pak?"


"Emang kita sekarang lagi kencan Bang?" Sahira ikut bertanya.


"Kalian berdua sama aja." Agatha kesal sendiri.


"Kalau begitu Pak Adi permisi dulu ya Mas, Mbak. Happy weekend....." Pak Adi berteriak mengangkat tangannya ke atas membuat pengunjung lain memandangnya aneh. Begitupun Agatha da Sahira yang melongo dan merasa malu terhadap orang sekitar yang menganggap mereka orang aneh.


"Hehe, pergi dulu ya Mas," ucap Pak Adi tidak enak sendiri. Akhirnya mereka berdua bisa lega.


Lama Agatha mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, memikirkan kencan yang indah itu seperti apa?


"Bapak tidak mau pesan?"


Agatha menatap Sahira tajam.


"Ups,.." Sahira menutup mulutnya.


"Abang mau pesan apa?" Sahira berkata penuh kelembutan.


"Tapi..."


"Tapi apa? Tidak usah pakai tapi ayo ikut!" Agatha sudah bergerak duluan.


"Apa di apartemen Abang ada orang?" Sahira berjalan cepat menyeimbanhkan gerakannya dengan kursi roda Agatha.


"Mmm, Bi Inah." Agatha tidak menoleh.


"Alhamdulillah kalau begitu." Mengelus dada, setidaknya tidak berdua saja.


"Bi Inah akan saya suruh pergi jika kau minta."


"Eh jangan, biar saja. Kita mau ngapain di apartemen Abang?"


"Saya mau makan ramen buatan mu,"


"Oh.. itu, Baiklah. Kita masak ramen yang enak."


#


Agatha mengusir Bi Inah dari dapur yang di isyaratkan oleh tangannya. Bi Inah mengangguk dan pergi ke ruang depan.


"Ada yang bisa saya bantu Nona?" Sahira tersenyum mendengar perkataan manis Agatha.


"Tidak ada. Abang diam di situ biar saya photo."


Agatha menurut saja.


"Krek, krek, krek," Sahira memotret tal cukup satu kali. Ia pandangi hasil pemotretannya di layar ponselnya.


"Kayaknya mirip sang aktor Ryusei. Hehe."


"Benarkah? Siapa itu?" Agatha rebut ponsel Sahira.


"Ceh, bukannya Abang keturunan Jepang. Masak ngak tahu aktor Jepang." Melihat Agatha yang serius memandangi photonya.


"Kau pikir saya suka menonton drama apa?"


"Hehe, lupa kalau Abang sibuk terus. Mana ada waktu buat nonton drama atau film."


"Yah, nonton film. Kenapa saya baru kepikirian ya," tiba-tiba ada pemikiran cerah dalam otak Agatha.


"Maksudnya Bang?"


"Kencan itu... seperti nonton film, diner, pergi ke pasar malam, melakukan hal lain yang menyenangkan."


"Abang pernah kencan?" Agatha menggeleng.


"Abang, dulu kan kita pernah kencan di alun-alun kota. Kita makan snack dan membeli minuman disana berdua." manyun karna Agatha lupa.


"Itu kamu namakan kencan?"


"Dulu Abang bilang itu kencan, Abang sendiri yang bilang. Gimana sih?"


"Itu kencan versi anak-anak. Selesaikan masakanmu kita akan pergi menonton."


"Menonton drama Bang. Kita perlu beli dvd drama yang bagus kalau begitu."


"Drama? Cowok apaan nonton drama. Nonton di bioskop Ra. Susah kalau punya calon istri lemot."


"Hehe, nonton di bioskop Bang. Saya belum pernah nonton di bioskop bareng laki-laki Bang. Terakhir nonton bareng Rere dan Ria waktu baru lulus sekolah."


"Katrok kamu," Agatha tersenyum. Masih mending Sahira nonton bareng teman. Ia terakhir nonton bioskop ketika SD bareng keluarga besar.


Sahira melanjutkan membuat mie. Ada sebuah alat yang jika di masukakn adonan maka keluarlah sebuah rentetan mie. Sebuat saja rentetan mie, apa lagi penyebutan untuk mie yang berderet-deret.


Agatha hanya membantu lewat do'a, semoga ramen Sahira kali ini seenak sebelum-sebelumnya, sambil melihat Sahira yang memasak dengan khusuk.


Selesai membuat mie ia membuat kuahnya.


Sahira memyajikan tiga mangkuk ramen.


"Kenapa tiga?"


"Buat Bi Inah."


"Bi Inah bisa makan nanti setelah kita."


"Enakan makan bareng bertiga Bang. Lebih rame, lebih enak."


"Ceh, cepatlah makan! kita mau ke bioskop."


"Baiklah Abang ganteng," Sahira mulai genit, Agatha hanya tersenyum menanggapinya.