Let'S Get Married

Let'S Get Married
Kesal



Sahira memandang lekat Tas di atas meja kerja, Tas yang barusan di berikan Agatha. Memutar-mutar pulpen di tangannya. Bingung apa harus senang atau biasa saja karna belum tentu Agatha memang ingin memberikan Tas itu untuknya.


"Ya Tuhan, dia terkadang manis sekali," sesekali terpesona oleh kebaikannya dan kadang jengkel karna sikapnya.


"Tak...tak...tak," suara hakhell yang menyadarkan Sahira.


"Maaf anda siapa?" Sahira langsung bangkit ketika melihat seorang yang berpakaian modis dengan rambut yang di gelombang dan make up full yang sialnya memang dari sananya sudah cantik.


"Anda Sekretaris Kak Aga?" ucapnya.


"Ya, apa anda ingin bertemu Pak Agatha? Tapi maaf nama anda siapa? Saya seperti mengenal anda."


"Ya, saya mau ketemu Kak Aga. Dia ada di ruangannya? "


"Maaf anda bisa tunggu di sebelah sana, saya akan menelpon Pak Aga dulu," Sahira menunjuk sebuah kursi.


"Tidak perlu, saya dekat dengannya Kak Aga pasti tidak akan menolak bertemu dengan saya."


"Maaf Nona, tapi ini prosedurnya," Sahira sedikit kesal dengan orang yang ngeyel.


"Krek," Agatha keluar ruangan.


"Kak Aga," wanita itu berlari mendekati Agatha dan bergelayut manja di kehernya.


Sahira tidak percaya apa yang di lihatnya.


'Konyol, mengapa aku berpikir jika dia menyukaiku setelah mendapatkan Tas itu,' benak Sahira dengan mulut menganga.


"Sesil, kenapa kamu bisa di sini," Agatha melepas pelukan sesil di lehernya.


'Apa Sesil? Apa harus sesil bersikap seperti itu. Mereka bahkan bisa sah jika di nikahkan secara Agama.'


"Kak Aga, sudah dua minggu aku berada di Indonesia tapi ngak sekalipun bertemu dengan Kakak." ucap Sesil penuh kemanjaan.


"Kenapa kau tidak menghubungiku terlebih dulu."


"Aku ngak punya nomor Kakak, Amara menolak memberikan padaku," ucapnya manyun-manyum manja.


Mendengar ucapannya Sahira merasa ingin muntah saja.


'Perasaan waktu SMA dia tidak bicara dengan nada seperti itu. Oh ya... Dia bilang baru pulang, artinya selama ini dia di luar negri. Wah begitu hebat dunia luar merubah karakter orang.'


"Kakak, aku rindu sama Kakak," Sesil duduk dan bergelayut lagi di tangan Agatha.


"Sesil jagan seperti ini!" Agatha mencoba melepaskan tangannya sambil melirik Sahira yang wajahnya merah padam.


"Kakak, itu Sekretaris Kakak masak ngelarang Sesil masuk tadi."


"Apa?" Sahira makin ingin marah, jelas-jelas tadi ia bukan melarang tapi menyuruh menunggu.


"Bikinin minuman buat Sesil ya!" Agatha mencoba tersenyum pada Sahira meskipun Sahira memandang dengan kemarahannya.


"Baiklah, Mbak Sesil ingin minum apa?" Sahira mencoba tersenyum semanis mungkin meski rasanya ada bom yang ingin meledak.


"Saya mau jus Alpukat," ucapnya ketus.


"Maaf Mbak, di sini cuma ada teh, kopi dan susu," ucap Sahira mencoba hormat.


"Lalu kenapa kau menawariku minum kalau yang ada cuma itu saja. Harusnya jika sudah menawari kau siapa menyediakan apapun yang aku minta." Sesil berbicara dengan nada tinggi.


"Sesil cukup, kenapa harus marah hanya karna minuman," Agatha juga ikut kesal.


"Kak dia dari tadi ngeselin," Sesil sedikit kesal karna sepertinya Agatha membela Sahira.


"Sahira buatkan teh manis saja," ucap Agatha berbalik menuju ruangannya.


"Apa Kak? Siapa namamu tadi?" menunjuk Sahira, tak percaya dengan yang barusan ia dengar.


"Sahira Mbak," Sahira tersenyum.


"Sahira? tapi tidak mungkin kau Sahira yang itu," ucap Sesil masih dengan telujuknya yang di angkat.


"Ya Mbak, saya Sahira yang Mbak maksud."


"Sahira yang dulu sekolah di SMA bakti?"


"Ya betul Mbak."


"Hahaha, Sahira aku tidak menyangka itu kau," mendekati Sahira dengan senyum manis yang membuat Sahira bingung dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba berubah 180 derajat.


"Mbak suka teh?" tanya Sahira ulang.


"Ya, apapun yang kau buatkan pasti saya minum. Maafkan sikap saya yang tadi ya, saya tidak tahu kalau itu kau."


"Ya Mbak, saya permisi ke bawah dulu bikin minum."


"Oh ya silahkan," tersenyum namun nampak di paksakan.


Sahira turun ke bawah.


"Ra..." Rere berlarian mendekati Sahira.


"Ada apa?"


"Barusan saya liat Sesil naik ke atas," ucap Desi yang ngos-ngosan.


"Iya. Kenapa? Kau merasa bersalah padanya? Mau minta maaf?" nada Sahira kurang bersahabat.


"Merasa bersalah? Minta maaf? Maksudnya apa sih Ra?" Rere bingung, bukan itu tujuannya.


"Ria bilang, dulu kau selingkuh dengan Rudi ketika Rudi masih pacaran sama Sesil."


"Huhaha," malah terbahak.


"Kenapa tertawa?"


"Bukan itu cerita sebenarnya Sahira."


"Lalu apa? Bicaralah."


"Waktunya ngak cukup kalau certanya di sini. Ntar deh pulang kantor kita janjian gimana?"


"Baiklah."


Sahira membuat teh dan kembali lagi ke atas.


#


"Saya ngak bisa," suara Agatha terdengar dari luar karna pintu ruangan tidak tertutup.


"Kenapa ngak bisa Kak? Sesil sungguh-sungguh Kak," suara Sesil setengah berteriak.


Sahira ingin masuk tapi ragu.


"Maaf," Sahira mencoba bersuara saat di dalam hening.


Sesil menoleh dan langsung tersenyum.


"Sahira, masuklah!" suara Sesil lembut.


Sikap Sesil sungguh membuat Sahira bingung. Tiba-tiba naik, tiba-tiba turun.


"Baiklah. Mbak ini tehnya. Saya keluar dulu."


"Baiklah terima kasih ya."


"Tetaplah si sini. Bawa berkas yang ingin kau kerjakan kemari," ucapan Agatha barusan membuat Sesil tercengang.


'Sial, kapa juga dia bisa kerja di sini' benak Sesil.


"Tapi Pak, mungkin Mbak Sesil masih ingin bicara sesuatu."


"Tidak ada yang di bicarakan secara pribadi, jadi kau bisa di sini."


"Ya Pak," dengan ragu-ragu Sahira masih mengambil apa saja yang ia perlukan lalu masuk kembali keruangan.


"Kak Aga, saya masih belum selesai bicara," ucap Sesil menutup pintu ketika Sahira keluar.


"Tapi saya sudah selesai, jika kau tidak ada urusan lagi silahkan pulang. Di sini kami kerja Sesil bukannya mau berdebat," ucap Agatha mulai lelah denga sikap Sesil.


"Tok,tok," Sahira mengetuk pintu.


"Masuklah!" jawab Agatha yang di pandenga sinis oleh Sesil.


"Sahira, saya mau pulang dulu ya. Urusan saya sama Kak Aga sudah beres," Sesil berkata manis kembali.


"Tapi Mbak Sesil belum meminum teh yang saya buatkan."


"Oh iya, saya lupa," Sesil meminum sedikit teh.


"Ya udah, saya permisi dulu ya."


"Ya Mbak."


Sesil pergi dengan senyum manisnya, sekali melirik Agatha yang tak bergeming sama sekali.


"Pak, ini berkas yang harus Bapak tanda tangani," Sahira menyerahkan berkas yang ada di tangannya.


"Mmm," Agatha menarik berkas dari tangan Sahira dan memeriksanya.


"Apa kau marah?" tanya Agatha tidak menoleh.


"Marah untuk apa?" Sahira bingung kemana arah pembicaraan Agatha.


"sudahlah, tidak usah di bahas. Duduk dan bekerjalah dengan baik," masih fokus dengan berkasnya.


"Baiklah," Sahira duduk dengan pikiran yang masih bertanya-tanya.