Let'S Get Married

Let'S Get Married
Kebenaran



“Pagi Pak,” para Staf menyapa, Agatha dan Sahira baru tiba di kantor.


“Pagi Kak,” Sesil memutar-mutar kunci mobil di tangannya, dari tadi ia menunggu kedatangan Agatha.


“Sesil, kamu ngapain disini?”


“Lihat Kakaklah, ngapain lagi. Lagian semua Staf di kantor ini tahu kalau aku pacarnya Kakak,” Sesil melirik Sahira yang merah padam.


“Maksud kamu apa?”


“Para Staf ramai bergosip tentang kita tadi, sepertinya gosipnya bakalan jadi kenyataan.”


“Ceh, bukan mereka yang suka bergosip. Tapi kamu yang suka menyebar HOAX,” Agatha menuju lif.


Sasil menatap diam, melirik Sahira dengan tatapan sinis. Bagaimana mungkin triknya menjauhkan mereka tidak mempan, bukannya seharusnya Sahira resign setelah ia berbicara empat mata tempo hari. Tapi bukan menjauh mereka malah datang ke kantor secara bersamaan.


“Eh, Sahira. Saya boleh bertanya?” seperti biasa, Sesil berkata penuh kelembutan.


“Tanya apa Mbak. Saya harus segera menyusul Pak Aga.”


‘Ceh, sejak kapan dia ikut panggil Aga.'


“Kamu bisa datang secara bersamaan dengan Kak Aga. Kebetulan sekali ya?” nada menyindir.


“Bukan kebetulan Mbak, tadi saya memang di jemput kok.”


“Apa? Jadi kamu di jemput.” Sesil kaget dan marah, namun seketika ekspresinya berubah kembali biasa saja.


“Sahia, saya kan sudah bilang tempo hari. Saya dan Kak Aga sedang marahan, tidakkah kamu punya rasa kasihan dan membantu saya, bukannya malah menusuk dari belakang.”Sesil sengaja mengeraskan suara agar para Staf lain mendengar.


Sebelum Agatha dan Sahira tiba ia sudah menyebarkan gossip ke para Staf kalau dia adalah pacarnya Agatha yang baru pulang dari LN. Para Staf tentu percaya melihat penampilannya yang memang menarik dan sepertinya bukan dari kalangan biasa saja.


“Mbak Sesilia yang terhormat, bukannya anda bilang anda sepupu dengan Pak Aga dan Pak Aga membenarkan itu. Bukan sebuah masalah jika sepupu berantem dengan sepupu yang lain, tidak perlu di bantu juga bakalan baikan.”


“Kata siapa sepupu tidak boleh berpacaran Sahira?”


“Aissstt,” Sahira mulai kesal, memang benar tidak ada larangan bagi sepupu untuk berpacaran apalagi menikah, hal seperti itu banyak terjadi.


“Sahira,” Agatha kemabali setelah melihat ke belakang Sahira tidak ada.


Sekarang perdebatan mereka sudah menjadi tontonan beberapa Staf kantor.


“Kalian ngapain? Bubar.” Agatha bersuara tinggi. Karna Sesil konsentrasi bekerja para Staf menjadi terganggu.


Semua Staf yang tadi berkumpul mulai membubarkan diri satu persaatu.


“Sesil, silahkan pulang sebelum saya benar-benar marah!”


“Tapi Kak.”


“Sesil pulanglah. Saya tidak ingin keluarga kita punya masalah nantinya karna ulahmu.”


Dengan manyun Sesil memulai langkah gontai untuk pergi, sebelum itu ia kembali melirik Sahira yang menyunggingkan sudut bibirnya sedikit tertawa tak mengenakan.


“Sahira ayo naik!” tanpa membari jawaban Sahira langsung masuk ke dalam lif yang sudah terbuka.


“Ra, tunggu!” Agatha mulai bisa membaca, ada yang tidak beres dari suasana calon istrinya.


“Ra, kamu marah?” Sahira sudah duduk di meja kerjanya.


“Untuk apa marah? Aku tidak berhak marah untuk hal yang belum pasti menjadi milikku.”


“Baiklah, besok saya akan datang lagi kerumahmu."


“Untuk apa?”


“Untuk menculik ayahmu agar setuju dengan pernikahan kita.”


“Apa?” sahira kaget, ide Agatha tidak waras.


“Apa, kau pikir aku sungguhan. Kau terlalu pintar untuk di bilang bego’ Sahira.”


“Lalu apa maksudnya?”


“Aku akan melamarmu secara resmi di depan ayahmu. Terserah mau setuju atau tidak. Kalau tetap tidak suka akan ku culik putrinya.”


“Haha, jangan bercanda seperti itu di depan ayahku. Anda bisa habis.”


“Kau pikir aku tidak bisa bercanda seperti itu. Heh kemarilah!” Agatha menjentikkan tangan, seorang bertubuh tinggi dan besar mendekati mereka.


“Kau lagi. Bukannya anda bodyguard satu hari.”


“Ceh, terserah kalian sajalah.”


“Boss ingin saya menculik ayahnya?” Tanya bodyguard seram namun lucu pada Agatha.


“Apa? Kalian mau di hajar ya,” Sahira bangkit.


“Hehe, maaf Nona hanya beracanda.” Agung cengengsan, Agatha sudah terbahak.


Pekerjaan rutin ke kantor memang membosankan, membuat proposal, merancang proyek baru, lounching produk baru, agenda rapat tiap hari. Begitu-begitu saja bukan. Dengan menemuai suasana yang membosankan tiap hari, hari ini Agatha ingin pulang cepat untuk sejenak bisa berkeliling ria bersama Sahira di Mall terdekat.


#


“Ra, kamu ingin apa?” Agatha bertanya di depan toko perhiasan, ia takut Sahira tidak suka kalau langsung beli saja.


“Mmmm,” Sahira Nampak berpikir.


“Saya ngak di Tanya Boss?” Bodyguard lucu selalu mau di perhatikan.


“Kamu?” sengaja Agatha lama terdiam.


“Iya Boss.”


“Beli sendiri. Kamu pikir saya Bapakmu apa?”


“Hehe. Kali aja gitu di beliin cincin buat ngemar pacar saya.”


“oohh, punya pacar? Kirain semua cewek takut sama kamu, huhaa.” Sahira menimpali.


“Sayang aku mau yang ini,” Suara di samping Agatha yang sangat pemiliar bagi mereka berdua.


“Yang mana?” Suara berat menyahut.


Agatha dan Sahira terfokus pada laki-laki dan wanita yang bergandengan yang hanya bisa mereka lihat dari samping.


Agatha terus mengamati, sepertinya ia kenal. Tanpa sengaja wanita itu menoleh dan terpaku.


“Kak Aga.”


“Ceh, sudah kuduga,” Agatha menarik sedikit sudut bibirnya.


“Mbak Sesil sama Kak Rudi?” Sahira kaget, bukannya Sesil sedang mengejar-ngejar Agatha tapi malah begitu asyik berpacaran dengan Rudi.


“Sahira, kalian jalan berdua?” Sesil terlihat tidak suka.


“Eh Rudi apa kabar?” Agatha berbasa-basi.


“Baik,” Rudi bersuara dingin.


”Kak Aga kami hanya jalan-jalan biasa saja kok, ngak lebih.” Rudi menatap Sesil sinis.


“Yah, udah kepergok juga.” Sahira menimpali.


“Diam kamu!” Sasil bersuara tinggi.


“Sesil, kamu sudah berjanji tidak akan bersikap seperti ini. Kamu bilang kamu akan belajar mencintaiku.” Rudi mulai marah pada Sesil.


“Rudi bukan begitu, aku hanya tidak mau ada kesalah pahaman.”


“Kesalahpahaman apa? Jelas-jelas kamu menunjukkan di depan saya kalau kamu lebih suka sama dia. Lagian apa hebatnya dia dari pada saya hah? Selain uanganya yang lebih banya dia tidak ada lebihnya. Laki-laki cacat yang tidak berguna.”


“PLAAK,” tamparan mendarat di wajah Rudi sebelum sang bodyguard bertindak terlebih dulu, tangan Sesil terasa kebas.


“Ohh, begitu.” Rudi meraba pipinya yang memerah.


“Kau terlalu munak Sesil.” Rudi tidak sanggup membalas.


“Bukannya kau sudah tahu dari dulu kalau Sesil munafik. Kau yang bodoh masuk perangkapnya kedua kali.” Agatha menimpali.


“Maaf Boss, tolong perintahkan saya untuk menghajarnya,” Agung mengepalkan tangan, ada emosi tinggi yang ia tahan.


Agatha mengangkat tangan mengisyaratkan tidak perlu.


“Kenapa kalian memandangku seperti itu, salah kalau aku mencintai Kak Aga,” Sesil merasa terpojok.


“Mbak Sesil anda tidak salah mencintai seseoarang. Yang salah itu cara anda ingin mendapatkan Sesutu dengan segala cara.” Sahira mencoba menasihati.


“Siapa yang menyuruhmu berbicara. Kau hanyalah rakyat jelata yang kebetulan punya sedikit keberuntungan. Aku bersikap baik padamu selama ini bukan berarti kau bisa berbicara sembarangan di depanku. Ingat ya level kita itu berbeda.”