
“Abang, apa harus belanja di sini? Di sini semuanya mahal-mahal tahu Bang. Ira tahu kok tempat belanja bagus dengan harga terjangkau,” ucap Sahira di saat mereka berada di toko baju di kawasan mall. Satu potong baju tidak ada yang harganya di bawah lima ratus ribu, dan itu membuat Sahira merinding.
“Sayang, ngak perlu ke sana kemari. Kamu tinggal pilih aja terus Abang yang bayarin. Jangan di bikin ribet. Abis belanja baru kita makan terus nonton,” ucap Agatha selalu sibuk dengan ponselnya.
Sahira melihat lagi Agatha yang berdiri tegak, teringat kejadian saat terakhir kali mereka nonton. Agatha dengan songongnya melakukan apa saja yang ia mau tanpa mau tahu aturan, hingga akhirnya bertemu Agung sang bodyguard serem namun ternyata aslinya kocak abis.
Hari ini mereka pergi berdua saja tanpa membawa Agung sang bodyguard. Agung juga tahu diri, ngak mau mengganggu dua manusia yang lagi dimabuk asmara.
Sebagai gantinya, Agung ditugaskan oleh Agatha untuk menjaga kantor supaya kondusif saat di tinggal sang Direktur. sebagian Staf suka semaunya saat Agatha tidak berada di kantor.
“Ngak perlu sebegitu terpesonanya, sekarang keseluruhan tubuh Abang dan jiwa Abang milik Eneng,” Agatha melirik genit, meskipun ia tidak memperhatikan namun ia tahu kalau Sahira sedang menatapnya.
“Isstt, apa an sih Bang? Ngak boleh bilang begitu pamali,” Sahira balik menatap genit.
“Loh, kenapa?” Agatha menggoda.
“Seluruh jiwa dan raga hanya milik Allah semata. Mencintai seseorang tidak boleh melebihi cinta kepada Sang pencipta,” Sahira bersuara Ustadzah.
“Cup,” Agatha mencuri sebuah kecupan di pipi Sahira.
“Abang,” Sahira kaget setengah mati. Ia melihat sekeliling, untung tidak ada yang memperhatikan.
“Itu kecupan syukur, dapet istri sesholehah kamu,” Agatha sembari melipat tangan di dada sambil menunduk menatap wajah Sahira yang mungil.
“Abang, gimana kalau ada yang lihat?” Sahira masih memperhatikan sekitar.
“Emang kenapa? Kamu kan istri Abang,” ucap Agatha genit, mata tak terlepas dari tatapan pada wajah Sahira.
“Iya, tapi kan malu Bang. Ini tempat umum tahu,” ucap Sahira manyun.
“Biarin, kita kan sudah halal. Jadi ngak akan ada yang bisa melarang, Allah aja ngak ngelarang kan?” ucap Agatha seperti anak kecil.
“Terserah Abang lah,” Sahira lanjut keliling toko.
“Abang bantu pilihkan ya,” Agatha ikut melihat-lihat.
Sahira mengangguk, sambil melihat-lihat baju dan gamis, tak lupa ia melihat harganya. Sahira berusaha memilih yang paling murah saja, lagian ia pikir ia cocok pakai baju mana saja. Baju kan bukan buat gaya, tapi buat menutupi tubuh agar tidak bisa di pandang orang lain.
“Nah ini,” Sahira menemukan gamis yang harganya lima ratus ribuan.
“Ini aja Bang, Ira udah dapet,” Sahira menunjukkan satu potong baju.
“Pilih lagi Ra, masak cuma satu,” Agatha mengambil gamis di tangan Sahira.
“Satu aja cukup Bang, lagian baju Ira masih banyak kok.”
“Ini apa? Ini kegedean untuk tubuh kamu yang mungil Ira. Ini untuk yang tingginya kayak model. Ngak mungkin kamu mau kecilin kan. Pilih yang pas aja!” Agatha kembali menggantung gamis itu.
Sahira manyun. Dari tadi ia melihat yang pas buat dia tapi semuanya ngak ada yang harganya di bawah satu juta. Masak beli satu baju aja satu jutaan. Itu udah bisa buat jajan dia satu bulan.
“Nah ini cocok nih,” Agatha mengambil satu gamis yang tadi di taksir sama Sahira, ia menyandingkannya pada tubuh Sahira, dan Agatha merasa itu cocok.
“Bagus kan? Kamu suka ngak?” tanya Agatha dengan senyumnya.
“Kita belanja di lain aja Bang, di sini ngak ada yang cocok buat Ira,” Sahira mencoba mengajak Agatha pergi saja. Rasanya terlalu banyak buang-buang uang jika harus belanja di sini.
“Nanti, kalau di sini udah b aru ke tempat lain. Abang pilih beberapa dulu ya,” Agatha kembali memilih dan tak perduli perkataan Sahira. Akhirnya Sahira hanya pasrah, Agatha memilih dan mencocokkan di badannya. Sahira hanya diam seperti patung tanpa ekspresi saat Agatha mencocokan baju pada tubuhnya dan pada warna kulitnya.
“Bang udah dong! Ini udah banyak, Abang mau ambil berapa emangnya?” Sahira menarik tangan Agatha yang masih terus memilih, sementara di tangan Sahira sudah ia pegang dua potong baju.
Agatha tak perduli dengan perkataan Sahira, terus memilih seolah ia seorang perempuan yang hobi belanja.
Setelah mendapatkan lima potong baju ia baru mengajak Sahira menuju kasir.
Saat ia membayar totalnya hampir sepuluh juta. Itu sukses membuat Sahira melongo, itu hampir melebihi gajinya satu bulan.
Mau protes tapi ia tahu kalau Agatha tidak suka dibantah.
“Yuk, kita lanjut beli baju rumahan,” Agatha menarik Sahira menuju toko yang menjual baju untuk di rumah saja.
“Abang, Abang, nanti aja deh. Ira capek,” Sahira mencari alasan. Lagian baju tidurnya masih banyak, tidak perlu beli lagi.
“Mau Abang gendong?” Agatha malah menawarkan bahunya.
“Hah, bukan itu maksud Ira Bang. Kita istirahat aja dulu, capek keliling-keliling.”
“Baru juga satu toko Ra. Nanti aja istirahatnya, kan ada pas waktu makan sama nonton,” Agatha menarik Sahira tanpa ampun.
Lagi, Sahira hanya bisa pasrah. Ternyata yang dimaksud Agatha baju rumahan adalah baju-baju dinas malam di rumah. Yaitu baju-baju tidur yang terlihat seksi dan menggugah selera.
“Abang, Ira ngak mau pakai baju kayak gitu,” Sahira menggerdik ngeri melihat banyaknya baju-baju seksi dengan kebanyakan model menerawang. Sama saja seperti ngak pake apa-apa.
“Loh kenapa? Tampil cantik di depan suami itu wajib loh Sayang,” ucap Agatha masih dengan kegenitannya.
“Tapi kalau pake yang begitu bukan cantik namanya Bang,” Sahira menatap seisi toko yang semuanya hanya pakaian terbuka.
“Tapi ****,” sahut Agatha dengan senyum yang tak bisa Sahira artikan.
“Bang,” Sahira merengek hendak keluar.
“Sssttt, Ira ngak perlu pilih, biar Abang yang pilihkan,” Agatha membungkam mulut Sahira.
Dan lagi sahira diam mematung, pelayan toko ramah menyapa Agatha dan menunjukkan barang-barang unggulan mereka.
Agatha melihat barang yang ditunjukkan pelayan toko sembari tersenyum geli. Sahira terbaca betul apa yang ada di otak suaminya. Pasti sudah membayangkan Sahira di waktu malam dengan baju tidur **** itu. Sahira menutup wajah saat Agatha menatapnya dari jauh, membayangkan itu membuat Sahira merasa malu sendiri.
Seperti biasa Agatha mendekati Sahira mencocokan baju pada tubuh Sahira. Sahira tak mau menoleh tapi menurut saja dengan apa yang dilakukan Agatha.
Melihat wajah Sahira yang malu membuat Agatha semakin terkekeh.
Agatha juga membeli lima potong baju tidur **** itu dan tanpa ragu membayar harganya yang malah.
Sahira hanya berpikir, mungkin jalan-jalan hari ini akan menghabiskan uang sekitar setahun biaya hidupnya bahkan lebih, dan itu hanya dihabiskan dalam satu hari saja.
“Ini ngak apa-apa kalau satu aja. Aku masih sanggup bayar kok,” Sahira mendengar suara familiar saat menunggu Agatha membayar di kasih. Ia mencari sumber suara yang terhalang oleh pengunjung lain.
Ia kaget bukan main saat menemukan sosok Rere dan Rudi sedang tertawa sambil memilih baju tidur **** itu. Pikiran Sahira jadi menjalar kemana-mana mengingat apa yang mereka beli sekarang.
“Ira,” Rere melihat Sahira yang diam mematung.
Yang benar saja, terakhir ia melihat Rudi masih jadi bucinnya Sesil dengan tanpa malu menampilkan kemesraan mereka di depan umum. Dan sekarang Rere melakukan hal yang sama, dan bahkan lebih dari itu.
“Sahira, kamu ke sini sama siapa?” tanya Rudi sambil melihat-lihat sekitar tapi belum melihat Agatha.
“Harusnya saya yang tanya. Rere, kenapa kamu bisa sama dia?” Sahira menunjuk Rudi.
“Ra, kami,” Rere tampak ragu mau menjelaskan.
“Eh, kalian di sini juga,” Agatha mendekat. Rudi dan Rere juga terpana sama paper bag yang di bawa Agatha yang mana mereka tahu kalau isinya adalah barang-barang dari toko ini. Jelas Rudi dan Rere tidak tahu kalau Agatha dan Sahira sudah menikah, karena hanya orang terdekat yang tahu dan mereka masih merahasiakan pernikahan itu guna memberi kejutan di pesta pernikahan yang akan di buat besar-besaran nantinya.
“Em, yah. Itu” Rudi menunjuk barang bawaan Agatha.
“Em yeah,” Agatha melirik Sahira lalu berkedip pada Rudi.
“Oh, iya, iya, iya,” Rudi dan Agatha kemudian terkekeh.
Rere dan Sahira tampak bingung, apa lagi Rere yang tidak tahu sama sekali.
“Kalian mau beli juga? Sekalian saya yang bayar sebagai kado pernikahan. Kebetulan saya belum sempet beli kado kan kemarin pas dateng. Lagian lu mendadak banget kasih tahunya,” ucap Agatha menyenggol lengan Rudi.
Sahira mengernyit bingung dengan apa yang dikatakan suaminya. Lagian sebelumnya mereka seperti musuh dan sekarang akrab banget kayak ngak ada apa-apa lagi yang mengganjal. Ada banyak hal yang membuat Sahira penasaran selama ia pergi, sebab ada banyak kejadian yang sepertinya belum ia ketahui.
“Beneran? Boleh pilih bebas nih?” jawab Rudi kegirangan.
“Maksudnya apa sih Bang? Kado pernikahan, emang siapa yang nikah?” tanya Sahira penasaran.
“Hem, emang ngak tahu kalau mereka udah nikah. Rere ngak kasih tahu?” tanya Agatha bingung.
“Apa? Jadi kalian udah nikah? Kok bisa?” ucap Sahira keras hingga seisi toko menatap mereka.
“Sayang, Sayang kamu ngak perlu sehisteris itu,” Agatha merangkul Sahira.
Rere juga bingung melihat kemesraan sahabat dan bosnya itu. Biasanya Sahira ngak mau di sentuh oleh laki-laki, tapi sekarang kok pasrah begitu saja.
“Rere, jelasin! Kenapa kamu bisa nikah sama dia? Kamu tahu kan dia seperti apa nyakitin kamu,” tanya Sahira lagi.
“Dia udah berubah Ra, dia bukan Rudi yang seperti dulu lagi,” jawab Rere sambil menunduk. Ia mau jawab kalau dengan ekspresi marah juga karena mesra-mesraan di tempat umum sama laki-laki yang bukan makhrom, tapi ia takut sama bosnya.
“Berubah, hah? Dari mana kamu tahu kalau dia berubah?” tanya Sahira emosi.
“Dari dia,” Rere menunjuk Agatha sambil menunduk.
“Hah dia, dia kamu bilang,” Sahira juga ikut menunjuk Agatha.
“Bang, gimana sih ini. Ira bingung deh,” ucap Sahira menatap Agatha.
“Nanti Abang jelasin dari awal ya. Biarin mereka pilih-pilih barang di sini dulu, abis itu bayar. Dan Abang akan jelasin pas kita makan nanti ya,” Agatha masih merangkul istrinya. Rere melirik sesekali tangan Agatha yang terus melingkar di bahu Sahira, tapi ngak berani komen.
Sahira terus menatap sinis Rudi, Rudi yang memilih pakaian untuk Rere jadi ngak fokus karena tatapan Sahira.
“Udah?” tanya Agatha.
Mereka berdua mengangguk.
“Yuk kita ke kasir,”Agatha terus menggandeng tangan Sahira.
Selesai itu mereka langsung menuju café di mall tersebut.
“Sekarang jelasin!” ucap Sahira setelah duduk.
“Sabar Sayang, belum juga pesan makanan,” jawab Agatha santai.
Sahira melipat tangan, masih terus menatap Rudi sinis. Rudi merasa tidak enak sebab ia ingat kalau dialah orang yang mencelakai Sahira waktu itu. Lagian Rere dan Sahira juga belum tahu kebenaran itu, kalau Agatha cerita dari awal takutnya bukan cuma Sahira yang marah, tapi juga si Rere istrinya sendiri karena ia tidak jujur selama ini.
Agatha memanggil pelayan café dan mereka memesan makanan terlebih dulu. Sambil menunggu makanan tiba, barulah Agatha bercerita dari awal. Rere merasa kaget saat tahu kalau suaminya pernah menabrak Sahira. Rere hanya tahu kalau Agatha sudah sahabatan kembali sama Rudi karena Rudi sudah berubah, hanya sebatas itu. Ia tidak tahu cerita awal mengapa Rudi bisa berubah.
Berbeda dengan Sahira yang tidak terlihat kaget saat Agatha bilang kalau yang menabraknya waktu itu adalah Rudi.
Sekarang malah Sahira sudah menatap teduh dan gantian Rere yang menatap Rudi dengan tatapan sinis.
“Aku minta maaf Ra. Aku sempat mau jujur ke kamu, tapi aku takut kamu makin benci sama aku dan ngak bakal setuju kalau aku sama Rere,” ucap Rudi tertunduk.
“Aku udah tahu Rud kalau itu kamu. Tapi aku tahu kalau kamu pastinya di suruh sama Sesil, itu sebabnya aku kaget saat tahu kalau kalian sudah menikah,” ucap Sahira lembut.
“Tapi kalau kamu sudah menyadari kesalahan kamu dan sudah berubah, tentu aku akan mendukung jika itu yang membuat sahabatku bahagia,” timpal Sahira lagi.
“Jadi kamu udah ngak marah dan mau maafin aku Ra,” ucap Rudi berani menatap.
“Mmm,” Sahira mengangguk dengan senyuman.
“Tapi aku belum,” sahut Rere di sampingnya Rudi.
“Loh, Sayang. Sahira aja yang jadi korban udah maafin loh, kenapa kamu ngak?” ucap Rudi membujuk.
“Harusnya kamu jujur dari awal. Aku ngak nyangka kamu bisa jadi sejahat itu hanya karena di suruh sama nenek lampir itu,” ucap Rere ketus.
“Tapi itu kan udah berlalu Yang, kamu tahu aku udah berubah,” ucap Rudi menggenggam tangan Rere.
“Harunya kamu bilang dari awal Rudi!” bentak Rere.
“Rere udah, udah. Mending kita hapus masa lalu dan mulai semua hal baru dengan pikiran positif,” ucap Sahira menasihati.
“Pikiran positif kamu bilang Ra. Terus apa maksudnya kamu mesra-mesraan di depan umum sama kekasih kamu ini. Ini bukan kamu yang dulu yang katanya udah hijrah itu,” Rere berbalik marah sama Sahira.
Sahira melirik tangan Agatha yang terus saja melingkar di bahunya semenjak duduk.
“Hahaha,” kemudian mereka bertiga tergelak. Hanya Rere yang tampak bingung mengapa mereka tertawa serentak.
“Sayang, sama seperti kita. Mereka udah nikah,” Rudi menjelaskan.
“Udah nikah, kok ngak kasih tahu,” Rere dengan ekspresi linglung.
“Kamu aja ngak kasih tahu kalau kamu nikah sama Rudi,” Sahut Sahira masih dengan sisa tawanya.
“Ya ampun, padahal aku udah mikir buruk dari dalam toko pakaian **** tadi loh,” Rere menepuk jidad.
“Aku juga sama saat melihat kalian pertama kali di toko itu,” sahut Sahira sambil terkekeh geli.
“Berarti diantara kalian berdua, ngak ada yang bisa berpikiran positif,” ucap Agatha sambil menoyor kepala istrinya biarpun ngak keras.
“Iya yah,” sahut Rere polos.
“Ngomong-ngomong makanannya kok ngak nyampe-nyampe ya? Laper nih,” tutur Rudi melirik pelayan yang ngak nganter-nganter dari tadi.
“Eh, jangan pikir aku udah maafin kamu ya,” Rere menepuk bahu suaminya.
“Ampun nyonya,” Rudi terkekeh dengan tangan menangkup. Rere ngak tahan jadi ikut tertawa.
Jodoh itu tiada yang tahu, tiada yang bisa menebak dan tiada yang bisa memastikan. Jodoh itu utuh rahasia ilahi dan jodoh itu menandakan kebesaran sang pencipta.