
"Aiiiissstt,,... Apa sih maunya Bapak? Kadang bersikap begini, kadang begitu. Apa Bapak seekor bunglon selalu berubah-ubah?" teriak Sahira kesal.
"Bisa jadi," jawaban singkat dengan wajah datar.
"Aiiissstt," berdesis kesal.
"Dar," Sahira keluar ruangan, menutup pintu dengan kasar.
Agatha hanya cekikikan.
Pak Adi yang dari tadi mematung belum sempat keluar ruangan karna memang ada rada sedikit kepo tersenyum-senyum melihat mereka.
"Loh Pak Adi ngapain masih di sini?" tanya Agatha yang baru sadae kalau Pak Adi belum keluar ruangan.
"Lagi nonton drama Mas. Ternyata Mas Aga pandai main drama ya, hehe."
"Ceh, Pak Adi udah tua masih kepoan. Sudah, siapkan mobil saya mau keluar!"
"Mau kemana Mas?"
"Lihat saja nanti." Agatha tersenyum, senyum yang menyisakan tanda tanya bagi orang lain.
"Baiklah, Terserah saja. Asal Mas Bahagia, Bapakpun ikut bahagia, hehe."
#
"Iya Pak maaf," Sahira berbicara di telpon dengan klien dengan suara terlembutnya.
Karena ulah Bosnya ia harus membereskan masalah sendiri.
"Iya saya mengerti Pak, tapi Pak Agatha ada urusan yang tidak bisa di tunda." sambungnya pada klien yang sudah ia tebak akan marah-marah.
Sahira menutup telpon dan mencoba menghubungi klien yang lain.
"Gara-gara dia, hari ini saya harus banyak berbohong. Harus banyak istighfar ini. Sabar Sahira, sabar." sambil menguatkan hati untuk menelpon klien yang lain lagi.
Agatha keluar dari ruangannya, mendekati Sahira yang mencoba berbicara semanis mungkin dengan klien.
Agatha tersenyum, ada tawa yang ingin pecah yang ia tahan.
Karna mencoba berbicara manis di telpon Sahira mencoba tersenyum dengan sedikit gertakan giginya.
"Udah?" tanya Agatha ketika Sahira menutup telpon.
Sahira tidak menjawab, hanya menatap sinis.
"Bersiaplah, ikuti saya!" Agatha langsung melaju ketika sudah memberi aba-aba.
"Tunggu! Kita mau kemana?"
"Ikut saja, kau akan tahu," berbicara membelakangi Sahira.
Dengan cepat Sahira memasukkan barangnya-barangnya ke dalam tas.
"Pak, tunggu!" Sahira berjalan cepat. Kursi roda canggih memang menyebalkan.
#
"Mau kemana kita Mas?" tanya Pak Adi yang baru keluar pintu gerbang kantor mengemudikan mobil.
"Jalan saja, nanti saya tunjukkan," ucap Agatha yang memandangi layar ponsel.
Agatha mengarahkan Pak Adi. Sahira hanya menatap kenluar diam dengan manyun yang masih belum hilang.
"Mas ini kan?" Pak Adi sudah mulai tahu kemana tujuan Agatha.
Sahira hanya melirik tidak paham.
'Terserah kalian saja, asal jangan bawa kabur anak orang.'
"Turun!" Agatha memerintah Sahira yang masih melongo tak percaya.
"Dufan?"
"Mmm," Agatha mengangguk.
"Ini serius mau kesini, ngapain?" tanya Sahira yang masih tak percaya.
"Apa kamu pernah kesini?"
"Tidak, hehe." Sahira menggeleng.
"Karna itulah saya mengajak mu kesini?"
"Cepat turun!" Pak Adi sudah menunggu di depan pintu mobil untuk membantu Agatha turun.
"Tapi...." lama berpikir. Dengan kondisi Agatha yang seperti ini, wahana apa yang bisa ia mainkan.
"Saya hanya akan menyemangati, tidak usah berpikir macam-macam.
"Pak Adi ikut main kan?" Agatha menatap Pak Adi.
"Hehe, saya sudah tua Mbak. Bukan waktunya lagi buat main-main. Saya di luar saja," sadar diri akan kondisi.
"Masuklah, biarkan Pak Adi di luar. Bukannya dulu kau bermimpi ingin ke Dufan bersama ku?" Berkata dengan kepedeannya.
"Aiiistt, anda yang kemarin menolak saya. Untuk apa mewujudkan mimpi itu coba?" Sahira kesal dengan sikap Agatha yang tidak bisa di tebak.
"Diamlah, kau masih saja cerewet."
Agatha membeli tiket dan mereka masuk.
"Kau mau naik apa? Aku akan menjadi suporter yang meneriakimu dari bawah."
"Haha, sepertinya seru punya suporter seorang Bos yang semena-mena."
"Jelas seru. Ini jarang terjadi, dan ini pertama kali dalam hidup saya menjadi suporter pemain wahana." Agatha tersenyum.
"Naiklah, aku akan menunggu di sini."
"Katanya mau meneriaki saya. Ayo!" untuk pertama kalinya Sahira mendorong kursi roda Agatha, baru tahu kalau kursi roda canggih juga bisa di dorong, hehe.
"Ra,ra,ra. Tunggu dulu!" Agatha mengangkat tamgannya.
"Apa?"
"Saya pusing liatnya kalau terlalu dekat. Disini saja ya."
"Yah," Sahira manyun.
"Gimana kalau ngak usah main wahana, kita masuk aquarium aja. Gimana?" ide baru Sahira.
"Mmm, baiklah." Agatha menurut saja.
Akhirnya mereka masuk Aquarium saja, dari pada main wahana juga sendirin tidak ada yang menemani.
"Wih, canggih. Pak Ada duyung."
"Benarkah, dimana?" Agatha mengedarkan pandangannya mencari sang duyung.
"Tapi Boong, huhaha." Sahira berlari pergi.
"Sahira, awas kau ya," Agatha tertawa, sebegitu penasarannya ia sama duyung.
Agatha melajukan kursi roda dengan cepat mengejar Sahira.
"Ra..."
"Mmm,"
"Kamu suka ikan apa?" makanan favorite tahu, tapi kalau ikan favorite tidak tahu.
"Ikan mujaer."
"Kenapa?"
"Suka aja dengernya kalau Mbak Ayu nyanyi."
Agatha mengerutkan kening.
"Hehe, humor Bapak di level rendah ya."
"Kamu yang ngak bisa bikin humor."
Selesai aquarium mereka menuju rumah hantu.
Chiah, idenya Agatha pengen di peluk, haha.
"Hua," teriak Agatha ketika hantu-hantuan muncul.
Ternyata Sahira malah melihat dengan ekspresi datar.
"Ra, apaan sih. Kok kamu ngeliatnya begitu banget."
"Bapak yang apaan? Kalau takut ngapain ngajak kesini?" ucap Sahira yang dari dulu tidak tahu jika Agatha takut wahana rumah hantu.
"Justru saya yang harusnya bilang, kalau ngak takut ngapain kesini. Buang-buang waktu." tidak mau kalah, meskipun tahu salah.
"Bapak itu yang aneh, berlebihan begitu. Jelas-jelas mereka manusia biasa." ucap Sahira acuh.
"Aaaa..." Agatha berteriak histeris ketika sosok perempuan berpakaian putih mendekat.
"Peluk aja Mbak yang kenceng," teriak Sahira ketika perempuan itu mendekat.
Agatha menutup matanya.
"Ra, kita keluar sekarang!" suara Agatha setengah berteriak.
"Huhaha," Sahira masih sibuk dengan tawanya dari tadi.
"Cepetan Sahira, ketawa mulu."
"Haha, iya, iya," masih dengan sisa tawanya.
#
Flash Back On
"Ra, nanti kalau abang lulus kuliah dan bisa menghasilkan uang sendiri abang akan mengajakmu jalan-jalan." tanya Agatha di resto depan sekolah. Mereka memang sering mampir ke resto ketika pulang sekolah.
"Hahaha, lulus sekolah dulu Bang, baru ngomongin lulus kuliah."
"Ra, gantunglah cita-citamu setinggi langit. Itu yang sering Abang baca di sampul buku waktu masih SD, hehe."
"Bukannya rajin pangkal kaya dan malas pangkal miskin. Huhaha."
"Seperti itulah sebagian. Ra jawab dong kamu maunya kemana?"
"Mmm,... Dufan."
"Kok Dufan? luar kota atau luar negri sekalian maksud abang yang mau Sahira kunjungi do mana?"
"Ngak. Aku maunya Dufan aja."
"Kenapa harus Dufan coba. Apa serunya Dufan?"
"Habis Ira dari kecil pengen kesana tapi belum kesampean, hehe."
"Miris," Agatha menepuk jidadnya.
Flash Back Off