
suasana pagi hari cukup cerah, beberapa orang yang memulai aktifitas nya di pagi hari nampak memadati kota ada yang berjalan atau mengendarai kendaraan mereka.
kini dengan semangatnya livia menilai penampilannya di depan cermin dengan memakai pakaian rapi dan riasan sederhana namun membuatnya lebih cantik dengan kesan natural.
ia pun bergegas untuk ke rumah bi nini untuk bersarapan bersama.
" hai bii.. hai kak.. " sama livia di meja makan.
" hai vii... wiiih beneran ini kamu vii" ucap very tak percaya menatap livia yang terkesan lebih feminim dan dewasa.
" kenapa kak... ada yang aneh " ucap livia dengan mencari tau ada apa di wajahnya.
" gak. cocok deh jadi wanita karier hahahah"
ucap ardan ikut menilai. dan di angguki semua orang di sana.
" udah udah buruan cepet sarapan. jam berapa nanti interview nya vi " tanya leo.
" jam 9 kak. kaka berangkat jam berapa?"
" jam 8 kita berangkat duluan ya. nanti kabari jika sudah selesai interview ya. "
" oke kak. aku gugup kak. takut gak di terima " ucap livia.
" udah gak usah takut. santai aja " ucap ardan menenangkan.
" kamu gpp kan berangkat sendiri. kita gak bisa telat saat ini, banyak kerjaan soalnya " ucap leo.
" gampang itu kak. "
" ya dah kamu habiskan makannya. kita berangkat dulu ya. yuk guys! " ucap very berpamitan.
livia pun hanya makan sarapannya dengan di temani bi nini. ia tak melihat dave se dari tadi. bi nini bilang kak dave sudah pergi sedari pagi karna menyiapkan sesuatu.
livia hanya duduk dan sesekali bercerita dengan bibi dengan menunggu waktu untuk nya berangkat.
" non livi gak berangkat. "
" 10 menit lagi bi.. sambil nunggu taksi online"
" semangat ya non. bibi doain lancar "
" iya bi. makasih ya bi"
tak butuh waktu lama taksi online yang di pesan livia pun datang untuk menjemputnya. bergegas livia pun berangkat setelah berpamitan dengan bi nini.
ka sandara.
gedung yang menjulang tinggi dengan gaya modern itu tak luput dari pandanga livia yang terkagum menatap bangunan di depannya.
beberapa orang nampak berjalan memasuki gedung itu. livia dengan gugup melangkahkan kakinya untuk memasuki pintu yang terbuka secara otomatis.
livia menuju recepsionis yang terlihat dua wanita di sana.
"selamat pagi nona, ada yang bisa saya bantu " ucap salah satu wanita di sana.
" pagi kak. saya ke sini untuk mengahadiri interview. di sebelah mana ya kak? "
" ow nona bisa tunggu di sana, " tunjuknya
yang nampak di sana sudah berjejer orang yang akan melakukan interview sama dengan nya.
" terima kasih. " ucap livia dengan berjalan menuju tempat yang telat di tunjukan tadi.
cukup lama ia menunggu hingga seseorang memanggil namanya di belakangnya.
" liviaa... " panggil leo.
" kak leele... ngapain di sini" tanya livia.
" heheh tadi pas mau ke lobi gak sengaja liat kamu. belum di panggil ya ?" tanya leo.
" belum kak. 3 orang lagi , aku takut kak "
" iya kak. "
" yadah aku duluan ya. semangat oke! "
" oke kak. bye bye " leo pun pergi meninggalkan livia yang masih di selimuti perasaan gelisah.
setengah jam berikut nya kali ini giliran livia untuk memasuki ruangan.
" nona ayesha olivia. " ucap seseorang di depan pintu.
" iya saya.. "
" silahkan masuk... " ucap wanita itu dan mengantar livia untuk masuk di hadapan seseorang yang saat livia kenali.
livia kegirangan saat mengetaui sosok yang akan menginterview nya. namun ia mencoba untuk profesional karna masih ada wanita tadi yang mengantarnya.
" kamu pergi dulu " ucap pria itu meminta asistennya untuk pergi.
" baik tuan. saya permisi"
seperginya wanita itu livia merasa lebih nyaman saat ini.
" silahkan duduk.. "
" ayesha olivia... " ucap pria itu dengan memandang kertas di depannya.
livia binggung harus menjawab apa. ia pun hanya menganggukan kepala. walau livia mengenal pria itu ia tetep merasa aura yang berbeda saat berhadapan dengannya kali ini.
"udah vi jangan tegang gitu. gak ada siapa siapa di sini, "
" hehehe. iya kak. eh pak " ucap livia gugup.
" apaan si emang gue kaya bapak bapak " dave tak terima.
" iya kak "
" udah langsung aja ya. kamu di terima di sini... "
" tapi kak. kak dave belum kasih aku pertanyaan apapun dan tes juga belum aku lakukan.. " tanya livia dengan heran.
" udah.. gak usah itu aku juga udah tau kemampuan mu, pkok kamu di terima. "
" kak ini namanya gak adil. kasian dong yang antri di depan ku tadi. "
" via.... aku ini tak pernah salah menilai orang. beberapa juga ada yang aku terima kog. udah gak usah bawel. bisa hilang wibawaku jika ada gadis yang berani mengomeli ku. "
" igh kaka nyebelin. gimana kalau bos kaka tau jika kak dave curang. itu malah akan membuat masalah untuk mu. "
" malah kalau aku gak nerima kamu bisa di cincang aku vi... " ucap dave tak sadar.
" maksud kakaak... " livia menatap dave tak percaya dengan ucapan dave.
" ooh maksud ku. bisa rugi perusahaan jika tak menerima kamu yang cukup berkompeten "
" oowh.. terserah kaka deh. "
" ya dah ini kamu pelajari lagi kontrak kerja ini. nanti bisa kamu serahkan waktu di rumah aja. mulai hari senin kamu bisa masuk kerja. "
" baik pak. terima kasih atas kemurahan hati bapak yang mau menerima kebodohanku " ucap livia penuh sindiran.
" bawel aah... sudah saat pulang. leo sudah menunggu di depan, dia yang nganterin kamu "
seakan tak percaya dengan perilaku seorang assisten bos yang kini menjabat sebagai wakil direktur itu. livia hanya mengeleng gelengkan kepalanya tak nyangka akan semudah itu.
" apa kak leo gak ada kerja aan sampai harus nganterin aku segala. bos mereka rada somplak apa ya. bisa bisa ya memilih pegawai kayak gitu. " gumam livia lirih namun masih di dengar dave di depannya.
" liviiiiiaaaaa.. " ucap dave geram dengan kecerewetan livia yang tak bermutu.
" hehehe.. iya iya aku pulang dulu pak bos. sampai ketemu di rumah " ucap livia yang pergi meninggalkan ruangan itu. dan bergegas menuju lobi saat melihat leo duduk di sana.