Is'T Love Story

Is'T Love Story
pengintai



langit malam tak memperlihatkan cahaya bintang, seakan tertutup awan yang menyatu dengan gelapnya malam.


kevin memutar setirnya untuk memarkirkan kendaraan nya.


masih di dalam mobil, livia sedikit merasakan kepalanya terasa berdenyut. ia meredamkan nya dengan memejamkan mata dan memijat pelipisnya.


rania dan kevin menatap livia kawatir.


" livia kau tak apa, apa kau sakit! " tanya kevin sambil melepaskan seatbeltnya.


" tak apa jika kau sakit, lebih baik kita kembali pulang" kata rania kawatir.


" tenang lah aku hanya sedikit pusing, tak apa apa. oke mariki kita turun, yang lain pasti menunggu " ucap livia menyakin kan.


" jangan menatap ku seperti itu gays, ayo kita senang senang. " ucapnya tersenyum sumringah.


mereka bertiga memasuki restauran itu yang tampak ramai dengan remaja se usianya.


di pintu dia melihat teman teman kelasnya melambaikan tangan dan memanggil manggilnya.


kevin dan rania berjalan di depan olivia dengan bergandeng tangan mesrah.


saat mereka melihat livia yang sedari tadi tertutupi tubuh kedua sahabatny. mereka bersorak sorak kegirangan. livia menampilkan senyuman anggun nya.


salah satu teman ku roy dia berdiri menyambut ku.


" selamat datang tuan putri olivia" sapanya menyambutku. mereka tersenyum tawa Merekah mengegegar riuh di sana.


aku tersenyum melihatnya. itu lah julukan ku sewaktu sma.


predikat tuan putri yang selalu melekat di diriku. saat aku mendekat mereka sedikit melihat kanan kiri binggung.


salah satu dari mereka bertanya.


" pangeran mu tak ikut li.. ?" tanya nya mencari sesuatu. karna mereka tak melihat siapa siapa di belakang livia.


livia berusaha memberikan senyuman manisnya.


roy pun mempersilahkan livia duduk. mereka sedikit binggung merasa ada yang kurang.


" sudahlah...oh yaa kawan kawan bagaimana kabar kalian semua. " tanya kevin saat olivia sudah duduk manis di samping nya.


perbincangan dan candaan mulai bercuat dari mereka, sedikit lupa dengan pangeran olivia yang tak datang.


hidangan sudah tersedia sesuai pesanan mereka. semuanya menikmati acara dengan suka cita mengenang masa sma dulu. tak jarang ada yang menyebutkan cerita livia dan bill. namun livia tetep memberikan senyuman manisnya.


***


terlihat seseorang duduk agak jauh dari tempat keramaian para remaja itu.


memakai kaos putih berbaluk jaket jeans dan topi hitam untuk sedikit menutupi wajahnya, menatap salah satu gadis di dalam keramaian itu.


sepeti mengintai dengan tatapan penuh kerinduan.


" aku bersyukur, bisa melihat senyum mu lagi" ucapnya pada diri sendiri.


kevin merasa ada yang sedang memperhatikan kegiatan mereka. ia sedikit menelisir setiap sudut, hingga ia mengernyikan keningnya menatap sosok yang dapat iya kenali. kevin menatap tajam ke arah pria itu.


bill yang merasa kevin menatapnya tajam dari kejauan sedikit menundukkan kepalanya. ya bener saja pria itu adalah pria yang tadi sempat mereka cari saat livia datang.


kevin mengambil ponselnya di saku celananya ia bergegas keluar untuk melakukan panggilan.


" yank aku kedepan dulu ya, jaga livia. " bisik nya ke rania. ia berlalu meninggalkan meja. membuat rania panik dan sedikit gusar. ia berpindah menempati tempat kevin yang dekat dengan livia untuk menjaganya.


" kemana kekasihmu?? " nya livia melihat rani mendekat.


" biasa toilet. beser dia" ucapnya menyembunyikan kegusaran nya.


semakin lama mereka semakin asik dengan berbagai cerita yang mereka alami setelah lulus sekolah. sekembalinya kevin rania kembali bergeser di tempatnya semula.


" kebelet banget ya vin... smpek lama amet" ucap livia mengejek kevin karna terlalu lama ke toilet.


kevin menatap rania binggung. sedetik kemudian ia mulai faham akan alasan yang di berikan kekasihnya itu.


" aaa iya vii.. sakit banget ni perut." ucap kevin sambil mengelus perut ratanya.


###