
seminggu berlalu.
livia saat ini sedang perjalanan pulang ke kosannya. dengan berjalan kaki ia berjalan dengan langkah yang sedikit cepat, karna waktu sudah malam, dengan membawa beberapa snake yang tadi sempat ia beli untuk ia makan nanti saat santai.
sesampainya di sana livia mengganti pakaian dan membersihkan diri. tak butuh waktu lama untuk nya kini ia mengistirahatkan tubuhnya dengan bersandar di ranjangnya. saat ini livia memainkan ponselnya hingga ia pun terkejut melihat panggilan di ponselnya.
" yaa viiin.... ada apa?? " tanya livia saat kevin menelponnya di tenggah malam.
" asalamuallaikum vii "
" ahhh.. iya. walaikum salam. sory viin"
" lo tu kebiasaan... "
" hehehhe... ada apa nii malem** telp aku"
" lo udah di kos kan "
"udah donk.... udah dari tadi kalee"
" besok loo off kan kerjanya. ikut aku yuuk"
" hemmmb.. kemana dulu nii, aku gak mw kalau cuma suruh nemenin kalian kencan doang"
" enak aja... ngapain kencan ajak lo vii... enak juga dua duaan."
livia mendengar tawa kevin di telinganya.
" truuus.. lo mau ngajak kemana"
" aku udah dapet kontrakan buatmu, bagus tempatnya murah lagi "
" seriusan loo vin "
" ia vii.. beneran, ngapain gue boong"
" jam berapa besok... ?" tanya livia dengan antusias.
" besok sore aja pulang kampus.. "
" oke.... makasih ya viiin, semoga aja cocook "
" lo tenang aja vii.. pasti lo suka deeh "
" oke oke thank's yaa.. lo emang the best brother"
" yo ii laa. buat princess apa sih yang gak "
" heheheh... lo bisa aja deh viinvin"
" udah sana lo tidur, besok gue jemput sama ranran. oke "
" siap bos.... bye bye.. ketemu besok ya vinvin"
" oke bye lili" kevin menutup telpnya tanpa ia sadari telah membuat livia mematung di balik telpnya.
tanpa sadar kevin memanggil nama livia seperti dulu.
" hemmmb... vin. kamu sadar gak si.
kenapa tuhan, aku merasa takkan ada yang bisa sepertinya dan mengantikannya " ucap livia lirih pada dirinya.
sore di kemudian hari.
kevin kini mengajak livia untuk melihat kontrakan yang akan iya tinggali. dengan antusias livia senang waktu kevin mengajaknya.
" vin jauh gak si tempatnya " tanya livia duduk di dalam mobil.
" gak kog.. bentar lagi sampai "
kevin menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah halaman rumah yang di tumbuhi tanaman yang cukup terawat.. terlihat dua rumah sederhana di kanan kirinya. saling bersebelahan hanya dengan satu lantai.
" sudah sampai vin"
" yuk turun vi "
kevin pun keluar dengan di ikuti livia.
terlihat ibu ibu berusia 50 tahuan keluar dari rumah yang bercat biru muda.. menemui kami berdua.
" nak kevin ya. "
" ia bi... saya kevin, ini temen saya yang mau kontrak rumah di sebelah bi, " ucap kevin memperkenalkan livia.
livia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan ibu itu.
" saya livia bi.. .. "
ucapan bi nini terpotong saat kevin tiba tiba menyelahnya.
" bii.. tolong liatin ke livia ya bii rumahnya. ayoo" ucap kevin menarik tangan ku melaju ke rumah itu.
" hampir aja bi nini keceplosan huffft untuk livia ta curiga" dalam hati kevin saat berjalan.
bi nini terlihat membuka rumah sederhana itu yang nampak bersih dan nyaman. saat pintu terbuka livia melihat beberapa perabotan yang di tutupi kain putih untuk menghalang debu debu.
" bi... apa bener rumah ini di kontrakin "
" iya non livi.. rumah ini memang di kontrakan, karna pemiliknya sudah pindah ke luar kota non. "
" tapi perabotannya gimana bi... kan aku cuma kontrak rumah aja tanpa perabotan "
" non tenang aja.. non livi bisa memakai perabotan yang ada di sini kog "
" tapi bii... "
" udah vii.. kan itu lebih bagus untuk lo gunakan nanti. aku rasa rumah ini cukup bagus untuk ukuran gadis kecil sepertimu " kevin menyela
" enak aja lo bilang aku kecil. maksudnya vin biaya ya apa gak semakin mahal "
" non tenang aja. biaya nya tetep kok "
" emang berapa bi setahunnya "
" kata tuan muda... oh maksud ku kata pemilik rumah ini non hanya perlu membayar
3 juta aja pertahunnya" ucap bi nini menjelaskan.
" haaa serius bi rumah ini harga segitu, apa lagi udah ada perabotannya "
" iya non. itu kata pemilik rumah ini "
" gila. murah banget... pemiliknya apa gak butuh uang ya sampai sampai ngontrakin rumahnya dengan harga jauh di bawa harga normal" cerocos livia sambil melihat sekitaran rumah itu.
" gimana vi, murah kaan. apa gue bilang lo pasti suka deh sama ni rumah. " imbuh kevin.
" iya si vin tapi gak habis pikir deh sama yang punya rumah. apa dia gak butuh duit ya!! "
" hahahha... lo bisa aja vi. di kasih harga murah heran heran. nanti kalau di kasih harga mahal syok berat. udah lo deal aja. bereskan. tak usah beli perabotan lagi "
" iya deh... pada siapa aku bisa bayar uangnya. "
" dengan saya aja non. nanti saya serahkan ke pemiliknya"
livia memberikan uang sejumlah yang telah di setujui. dan si bi nini memberikan kuintasi bukti pembayaran dan kunci kunci pintu yang ada di dalam rumah itu.
" non livia mulai kaan pindahnya?"
" dua hari lagi bi.. saya juga perlu berbenah dan membersihkan rumah ini dulu "
" non tak perlu repot repot. nanti biar saya yang membersihkanya"
" tidak bi.. saya bisa sendiri"
" tapi non.... "
ucapan bi nini terhenti saat melihat kevin memberikan anggukan kepala, memberi isyarat untuk sesuai kemauan livia.
" baiklah non. tapi jika nanti ada yang di perlukan saya akan membantu non livi"
" iya bi.. makasih yaa " ucap livia tulus.
livia meneliti setiap sudut tempat itu.
terdapat 2 kamar, 1 kamar mandi luar, dapur minimalis dan ruang tamu yang ada tv di sana. livia memasuki kamar sederhana yang sudah di lengkapi kasur lemari dan meja rias sederhana. kamar itu bernuansa biru muda sama seperti kesukaan livia. namun satu kamar di sebelahnya bernuansa abu abu dan hitam seperti kamar seorang pria.
" viin.. aku pilih kamar depan aja deh. yang ini serem.. "
" oke vii kalau gitu kamar ini untuk tamu aja. "
" oke vin.. bantu aku bersih bersih ya besok lusa "
" siap nona cantik , udah yuk pulang. udah sore nii.. aku mau jemput rania bentar lagi "
" oke brother.. yuk yuk "
livia berjalan keluar bersama dengan kevin. iya tak lupa juga berpamitan pada bi nini.
" bi aku pamit pulang dulu ya. lusa aku akan datang untuk menempatinya"
" ia non livi .. mas kevin hati hati ya "
bergegas livia dan kevin meninggalkan halaman rumah itu.