
" pagi kak. " sapa livia melihat leo.
" udah siang kali vi... lo si tidur kaya kebo" ujar leo mendekati livia.
" heheheh...." livia menyengir di atas kasurnya.
" kak lee sih gak bangunin.. untung aja hari minggu" keluh livia memonyongkan bibirnya.
" udah buruan sana mandi... trus habisin ni susu, aku bikinin sarapan ya " perintah leo.
" bibi kemana kak.. "
" bi nini pergi bentar katanya "
" sarapannya biar aku bikin sendiri aja kak. gak usah repot2"
" udah sana buruan. gak usah cerewet " leo menarik pelan tangan livia agar cepat mandi.
" iya iya kak.. aduuh " livia manyunkan bibirnya.
tak butuh waktu lama untuknya mandi. leo yang sudah menyiapkan makanan untuk livia menata di meja makan.
" waah pas sekali. ini makanan mu udah siap. buruan makan " ucap leo saat melihat livia keluar dari kamarnya.
" waah.. kakak tau aja aku lagi pingin nasi goreng telur mata sapi setengah matang lagi.. asiik, makasih ya kaak. kak leele yang terbaik " ucap livia dengan memberikan senyuman manisnya.
" iya vi. buruan mumpung masih anget " leo mengacak rambut livia gemes.
" igh kakak. berantakan lagi nii "
leo hanya tertawa melihat tingkah gemesin livia.
seusai makan livia berjalan keluar duduk di teras rumahnya.
" duduk sini deh kak... " ucap livia meminta leo untuk duduk di sampingnya.
" kenapa vi... "
" kak... semalem ada yang dateng ke kamarku gak?? "
terlihat leo menegang saat livia bertanya, namun ia hanya mengelengkan kepalanya.
" saat aku tidur kakak kemana? "
" aku.... ya balik ke rumah lah vi "
" kakak yakin gak liat ada yang masuk ke sini"
leo hanya menganggukkan kepalanya.
" masa iya cuma mimpi, tapi....? "
" emang ada apa vi... kamu gak kenapa napa kan?? "
" aku si gak pa pa kak. cuma semalem aku ngerasa nyaman aja pas tidur. rasanya sama seperti dulu ketika aku di peluk ayah"
" mungkin kamu cuma mimpi "
" iya mungkin aja kak, karna biasanya kalau aku nangis sampai ketiduran pasti waktu aku bangun aku liat ayah yang meluk aku pas tidur" wajah livia terlihat sedih menginggat ayahnya.
" udah jangan sedih gitu... "
" makasih ya kak. saat aku lagi butuh kakak pasti selalu ada. apalagi seperti kemaren tiba tiba kaka datang buat aku "
" ow tunggu. gimana kaka bisa..... aku kan gak pernah kasih tau siapa pun tentang billy. yang tau juga kevin dan rania aja. "
" aku... kebetulan lewat waktu kamu nangis.. jadi... " leo berkata dengan gugup dan tak menatap livia.
" kaka. jawab yang jujur. kaka tau dari mana "
" kaka juga seakan tau semua nya tentangku bahkan kesukaan ku apa aja tanpa aku beri tau "
" jelasin kak.... kak lee tau kan aku gak suka ada yang di sembunyi in "
" beneran vii. aku hanya kebetulan lewat aja. "
" kalau kaka kebetulan lewat, kenapa kak ardan begitu marah saat melihat billy "
" ya karna ardan juga liat kamu nangis. kami pikir dia nyakitin kamu "
" aku tak tau vi. sungguh "
" tak mungkin kaka gak tau. jelas jelas kevin juga menyinggungnya waktu itu "
" kaka tak apa jika tak ingin beri tau aku. yang jelas aku akan mencari tau nya "
livia berjalan menuju rumah bi nini uuntuk menemui ardan.
" kak ar.... kak... kak ardan...?! "
teriak livia hingga pria itu keluar.
" apaan si vi teriak teriak "
" siapa tuan muda yang kak ar sebut kemaren.. " ardan melotot seketika. ia menatap tajam leo yang berasa di belakang livia menggelengkan kepalanya.
" aku... tak tau " ucap ar lirih.
" oke. jika kalian tak mau katakan. jika aku mengetaui nya aku tak kan diam saja dengan kalian berdua. " ucap livia dengan meninggalkan mereka.
namun ia terhenti saat melihat dave datang dari arah depannya.
" via... ada apa ini. ?" tanya dave menatap tajam kearah 2 anak buah nya.
" kak dave udah pulang. "
" mereka menganggumu? " tanya dave tanpa menjawab ucapan livia.
livia menganggukkan kepalanya. mengubah ekspresinya sedih
" kalian apa kan livia"
" gak bos. ini hanya salah faham.. " ucap ardan.
" iya bos. " imbuh leo menundukkan pandangannya.
dengan tajamnya dave memberikan tatapan membunuh. livia hanya tersenyum mengejek mereka dari balik tubuh dave saat melihat mereka tak berkutik.
" lalu... jelasin atau aku "
" kak... jangan marah.. biarin mereka, aku akan cari tau sendiri. jangan marah lagi ya kak. aku pergi dulu" ucap livia mencoba menenangkan dave.
igh serem juga ya kak dave kalau marah. baru kali ini aku liat. ighhh.
gumam livia meninggalkan mereka. untuk menelpon seseorang di rumahnya.
namun kini dave tetap menatap tajam kedua anak buahnya.
" leo kamu yang jelasin. "
leo pun menjelaskan apa yang ia bicarakan dengan livia hingga mampu membuat livia kesel dengan nya.
ardan pun tak mampu berkata lagi karna ia juga tak tau jika kejadian kemaren akan membuat livia marah padanya.
" huuuft. ya sudah, kalian boleh pergi "
" jangan ada yang buka mulut kalian untuk membongkarnya "
leo dan ardan pun mengangguk dengan melangkah pergi dari hadapan sang devil.
" pusing aku bos... gadis mu yang peka tapi kau malah sembunyi... " keluh dave dengan memijat pelipisnya.
dikamar
livia menelpon kevin untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. namun ia juga tak mendapatkan jawaban yang pasti. semua bungkam. livia merasa ada yang di tutupi darinya. ia pun mencoba untuk menenangkan hatinya.
dengan memeluk guling yang masih tercium harum yang tak asing untuknya.
" apa benar mereka hanya kebetulan. dan ini hanya mimpi aja "
" tapi ini.... aku yakin kemaren ada yang kesini. "
" oke mungkin suatu saat dia akan muncul "
" aku akan menemukan mu suatu saat nanti tuan muda "
" dan ketika aku tau jangan harap aku akan luluh pada mu " ucap livia dengan yakin.