Is'T Love Story

Is'T Love Story
pelukan



***


livia seketika terduduk lesu dengan wajah yang sedikit tetesan air mata. ia kecewa pada dirinya sendiri, karna tak bisa menjaga barang yang berarti untuknya.


" aku menghilangkan nya, aku ceroboh sekali, **** livia ****" ucap dia menyalahkan diri sendiri.


" vi tenanglah. jangan seperti ini. " ucap rania sambil mengelus pundak livia.


kevin pun berbicara menipali ucapan mereka.


" vii memang sudah waktunya kamu melepaskan barang itu " ucap kevin lirih.


livia melotot mendengar ucapan sahabatnya.


" apa maksudmu vin " ucap livia menatap kevin kesal.


" ini sudah 2 tahun viii, seharusnya kamu melupakan dan bisa melepaskan semuanya " ucap kevin mendudukkan dirinya di depan livia.


livia tak percaya dengan apa yang di ucapkan nya. rania dan kevin duduk di depan livia untuk mencoba memberikan pengertian untuk sahabatnya.


" kevin benar vi. dia sudah pergi, tak seharusnya kamu seperti ini trus. " ucap rania tulus.


" bagaimana aku bisa lupa, " dengan menundukkan pandangan nya.


mereka bertiga berpelukan menenangkan hati livia. rania dan kevin tau perasaan livia, tapi ini juga untuk kebaikan nya livia.


***


dari arah pintu aula terdengan langkah kaki yang tegas memasukinya. yang perlahan mendekati mereka di dalam kekalutan mereka.


" kalian cari sesuatu " ucap pria itu mengangetkan ke tiganya.


mereka memandang ke arah suara itu. mereka benggong dengan pikiran mereka masing masing.


" ada apa tuan, apa ada yang bisa kami bantu " ucap kevin ke arah nya. ya pria itu kai. tuan muda pemilik perusahaan yang tadi diseminar.


kai menatap lekat ke arah livia.


kai mengerutkan keningnya heran mengapa melihat gadisnya dengan penampilan kacau mata merah dan wajah yang sedikit lemas.


" apa ada yang terjadi dengan nona ini" tunjuk kai ke arah livia tanpa menjawab ucapan kevin.


" ow maaf tuan.. tidak ada apa apa."


" apa ada sesuatu yang bisa kami bantu?? " ucap rania. rania dan kevin binggung dengan kedatangan tuan muda itu ke arah mereka.


berbeda halnya dengan livia yang hanya diam, dia masih panik dalam pikirannya sendiri.


" viiaa mau kemana? ucap rania menatap sahabatnya pergi meninggalkan nya.


" maaf tuan kami harus pergi. " pamit kevin dan rania sambil nenundukkan kepalanya hormat.


" via tunggu " kejar kevin.


namun langkah kevin dan rania tak secepat langkan kai menghampiri livia dan membalikan badan livia menghadapnya saat sudah di dekat livia.


" tunggu..! " serunya dengan menahan tangan dan membalikan badan livia.


livia menatap kai dengan pandangan sendu.


kai mengeluarkan sesuatu di saku celananya.


" kau mencari ini " ucapnya sambil menunjukan benda di tangannya. kai menatap livia dengan pandangan tajam.


mata livia berbinar saat melihat benda itu. di ambilnya dari tangan kai dan mengenggam nya. senyuman cerah se cerah mentari memenuhi wajahnya..


" tuaaan... trimakasih.. trima kasih ucapnya dengan memeluk tubuh kai tiba tiba.. dengan sedikit loncatan di pelukan pria itu kegirangan.


semua yang menyaksikan di buat melongo melihat kelakuan livia, begitu dengan kai.


namun ada sedikit kehangatan menjalar di tubuh kai saat mendapatkan serangan tiba tiba livia.


livia melepaskan pelukan sepihak itu dan tanpa malu nya ia terus kegirangan sambil menggengam gelang itu di kedua tangan nya.


rania dan kevin mendekati livia.


" vin ran... ketemuuuuu " mata nya berkaca kaca dengan binar binar kebahagian.


" maaf tuan atas apa yang di lakukan teman kami yang tak sopan ini" ucap kevin kepada kai, dan juga seketika menyadarkan livia akan sikap nya tadi.


semua terdiam setelah nya. livia menundukkan kepala nya ke arah kai.


" tuan maafkan ketidak sopanan saya tadi "


" dan..... terima kasih sudah menemukan gelang saya. " ucapnya tulus.


seulas senyuman sedikit di bibir kai. ia merasa senang dengan kejadian hari ini. tapi ia tak menjawab sedikit pun ucapan maaf livia.


dave pun mendekati kai dan berbisik sesuatu ke arah bos nya.


kai meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kata. dave dan beberapa orang bodyguard nya pun mengikuti langkah bos besarnya.


****