
pagi harinya livia keluar dengan menenteng beberapa buku yang lumayan tebal di tangannya, livia keluar untuk menuju rumah bi nini untuk sarapan bersama seperti biasanya.
" non livi.. ayo sarapan dulu " ucap bibi mengajak livia.
" iya bi. di mana mereka bi, kog sepi? " tanya livia tak melihat 3 pria yang biasanya ribut di pagi hari dengannya.
" aku di sini vii... " ucap ardan dengan berjalan di depan very.
" heheheh. aku kira udah berangkat kak. kan biasanya aku belum datang di sini udah rame" ucap livia sambil duduk di meja makan dengan di ikuti mereka.
bi nini menyiapkan beberapa makanan yang iya masak untuk mereka makan bersama.
dengan hikmat mereka sarapan dan dengan tenangnya livia menghabiskan makanannya.
" vii aku liat liat ya. makan mu banyak trus kamu juga suka ngemil dan makan di malam hari, tapi kog badan mu krempeng aja si. gak ada gendut gendutnya." kata si very menatap cara livia makan.
" hahahah. ya itu lah sebuah anugrah buat ku. kalau aku dari dulu memang gitu kak. trus kira kira makanan yang udah aku makan kemana ya kak,...?" tanya livia polos.
" hahahah. iya juga ya gak jadi daging dong makanannya ckckckck" ucap ardan cengengesan.
" ia makanan livia tu nimbun di pipinya aja. gak mau masuk perutnya wkwkwkwkwk" ejek very.
" kog pipi si kak" livia cemberut saat very menyinggung pipinya.
" salah sendiri kenapa punya pipi kog tembem banget tapi badan tak ada bantet bantet nya. alias krempeng wkwkwkwkkw" very tertawa karna melihat livia cemberut di pagi hari.
bi nini dan ardan juga ikut tertawa saat melihat wajah cemberut lucu livia sambil memanyunkan bibirnya.
" bodo... biarin lak yang penting itu sehat tau. " ucap livia.
" dasar cibul.... " ucap very lagi mengejek.
livia semakin mengembungkan pipinya. ia merasa di ejek trus. akhirnya iki mencari cari seseorang yang mungkin dapat membelanya.
" kak leee... kak leeeleee keluar doonk. aku di ejekin trus nii" teriak livia memangil leo. livia kira leo masih ada di dalam.
dan itu sontak membuat mereka ber3 yang di depan livia diam sesaat.
" kak leee... di mana si tu orang di pangilin gak muncul muncul" kesal livia.
" bibi... kak leele mana sih. kog gak keliahatan" tanya livia menatap bi nini.
" itu non tadi subuh nak leo pergi ke kota a menyusul nak dave " jelasnya.
" lo.. kog gak bilang semalem. malah katanya mau ngaterin aku kuliah pagi ini " livia lesu mendengar bibi tadi. karna selama ini ia lebih deket dengan leo.
" udah vi nanti biar aku yang antar ya. " ujar ardan.
"... " livia hanya diem. namun ia memberikan senyuman dan anggukan untuk ardan.
setelah itu livia hanya diam saja hingga ia pun menyudai acara makan paginya.
" kak ar.. livia sudah kenyang. livia tunggu di teras ya kak, kak ry bi nin aku duluan ya. asalamuallaikum" pamit livia dengan di akhiri salim ke bibi.
" walaikumsalam " ucap mereka membalas salam livia.
di teras livia memainkan ponselnya sedari tadi. ia mencoba menghubungi leo namun tak ada jawaban dari leo. livia akhirnya mengirimkan pesan chat untuk leo.
" kak leee kog pergi gitu aja gak kabarin livi. apa ada masalah di sana, aku harap kak leele dan kak dave cepet balik ya, " send.
" vii.. kenapa?? " tanya ardan menepuk pundak livia, hingga livia kaget di buatnya. .
" ahhh.. kak ar ngangetin aja sih. ayuk kak berangkat" kata livia. livia mengikuti langkah ardan memasuki mobilnya untuk mengantar livia ke kampus.
di dalam mobil livia diam saja menatap jendela. dan itu membiat ardan binggung dengan perubahan livia yang biasanya cerewet.
" kamu baik aja kan vi" tanyanya sambil tetep fokus menatap jalan. ardan hanya melirik livia sebentar.
" kak ar... apa ada yang terjadi hingga kak leele pergi mendadak, kak dave juga sudah seminggu ini gak balik." tanya livia balik menatap ardan di sebelahnya.
" bos tadi malam menghubungi kami, dia di sana ada beberapa masalah saja yang membutuhkan bantuan leo di sana. kamu tenang aja mereka akan segera kembali "
" tapi kenapa hanya kak leele aja yang kesana, buktinya kak ar dan kak ry masih di sini "
" iya memang yang di butuhkan di sana saat ini hanya keahliannya leo aja vi. ada beberapa orang yang mencoba meretas data perusahaan di pusat. jadi leo ke sana untuk membantu mereka mengagalkan rencana mereka. "
" memang kak leo ke ahliannya apa kak"
" leo itu peretas terbaik selama ini. iya bisa mengagalkan seseorang yang mencoba mencuri data di sana, leo juga ahli di bidang IT. "
" wah gitu ya. kalau kak ar di bidang apa?? "
" kalau aku standar si... gak ada yang special" ucap ardan namun di dalam hatinya ia berkata " kalau kamu tau vi bisa pingsan kamu hahah. " benar saja dari 3 anak buah dave itu pasti memiliki keahlian khusus
pasalnya leo memilihi keahlian di bidang IT,
ardan di bidang senjata atau biasa merakit senjata, sedangkan very bisa di bilang penembak jitu. namun di balik itu semua mereka sudah menguasai segala macam ilmu beladiri. bahkan seorang leo yang terampil dalam mengotak atik komputer ia juga mampu menembah musuh dengan tepat sasaran.
namun mereka menyembunyikan itu dari livia. livia nampak percaya dengan ucapan ardan padanya. hingga mobil ardan sampai tepat di depan fakultas livia.
" kak makasih ya aku duluan " kata livia sambil membuka pintu.
ardan yang melihat livia keluar. dengan cepat ia menurunkan kaca mobilnya dengan memangil livia.
" viii... "ardan ingin memastikan sesuatu.
" ya kak.. ada apa "
ardan tersenyum saat melihat livia. ia menatap kalung di leher livia saat livia menunduk ke arah nya. karna sedari tadi ardan tak dapat melihat kalung itu karna tertutup baju livia.
" heheheh. semangat yaa. " ucap ardan sumringah.
" oke kak arr. " livia berlalu setelahnya. .
ardan lega karna ia tak perlu lagi kawatir untuk mengawasinya walau saat kerja. karna kalung yang di peruntukan khusus untuk livia dari kai masih terpasang dengan cantik di lehernya.
di balik kalung yang berbandul matahari itu telah terpasang gps di sana. maka dari itu mereka dengan mudahnya mengetaui posisi livia di manapun livia berada.