
livia.
aku mendengar langkah kaki yang mendekat. tapi aku tetap menatap kedepan. mungkin kak ar yang datang membawakan makanan untukku.
" liili.... "
namun aku mendengar seseorang memanggilku dari belakang. aku cukup kenal dengan suara itu. dengan reflek akupun menoleh ke arahnya. aku terdiam menatapnya, ini mimpi pasti mimpi.
ia mendekat berdiri tepat di depanku. aku terus memandangnya dalam diam, seakan waktu terhenti. ingin ku berdiri dan memeluknya namun otakku masih membatu tubuhku tak mampu lagi bereaksi. hanya diam menatapnya.
kudengar suara itu lagi saat aku tetep menatapnya.
" boleh aku duduk..... " ujarnya namun aku tetap diam seperti patung. entah kenapa lidahku terasa keluh hingga aku tak mampu berucap apa yang ada di benakku.
saat ia duduk dan perlahan menatapku dalam hatiku seakan ini tak nyata.
" tuhan kenapa ia kembali, jika aku bermimpi aku tak ingin bangun saat ini. "
" liiii... apa kau baik baik saja, " ucapnya menyentuh tanganku. ku alihkan pandangan ku menatap sentuhan tangannya. tanpa di minta pun air mataku menetes dengan perlahan. namun aku tetep diam melihat pria di depanku.
aku merasakan sentuhan tangannya menyentuh pipiku yang basah. saat merasakan bahwa ini nyata aku semakin terisak di buatnya.
dekapan yang ia berikan tiba tiba mampu membuatku semakin jatuh lagi.
" lii... jangan nangis. maafkan aku lii. "
usapan tangan lembut di kepalaku tak mampu membuatku tenang.
tak berapa lama. aku pun dapat mengendalikan diriku. aku sedikit lebih tenang dengan melepas pelukannya. aku mulai tenang untuk membuka suara.
" hahahah. sudah aku tak apa. maaf " ucapku dan ingin beranjak untuk meninggalkannya.
" tunggu lii. bisa kita bicara " ia menarik tangan ku agar aku berhenti.
ku hela nafas dalam dalam.
" oke bil. bicara lah, " ku berikan senyuman padanya. walau itu senyuman terpait dalam hati.
" liii... maaf ...."
" lo gak salah, tak perlu minta maaf "
" liii... "
" hmmmb" aku tak lagi menatapnya sesak rasanya, sudut mataku juga masih berair namun langsung ku hapus karna tak ingin ia melihatnya.
" liii lihatlah aku. ..." ucapnya menyentuh pipiku mengarahkan ke arahnya.
"aku tau salah. kau boleh marah kau boleh hina aku kau boleh caci maki aku tapi jangan diam."
" kenapa.... "ucapku
billy hanya diam.
" kenapa... apa salahku "
" jika ingin pergi, kenapa beri harapan "
" jika aku salah, katakan aku salah"
" jika ingin melupakanku kenapa harus.... "
tak mampu lagi aku berucap di depannya.
billy memeluku menenangkanku.
" cukup lii... maaf aku yang salah. semua salahku lii. maafkan aku. "
saat aku terisak dalam tangisku. betapa terkejutnya saat aku melihat kak ar dan kak leo menarikku dalam pelukannya.
" viii... " ucap kak leo mengambil alih tubuhku.
." berani nya kau mendekatinya lagi. apa kau tak mengerti ucapaan tuan muda memperingatkan mu haa.. " teriak kak ar mencengkram baju billy. aku terkejut menatap mereka.
aku melepaskan diriku dari kak leo. ku menapik tangan kak ar dari tubuh billy saat ini.
" kak.. cukup. jangan sentuh dia. aku mengenalnya, " ucapku karna berfikir mereka tak saling kenal.
aku menghadang tubuh billy agar tak mereka hajar karna membuatku menangis.
" ayo vii.. kita pulang, ini sudah ada kak leele kan. ayok pulang yuk. " ajak leo.
" biarkan saja mereka bicara kak " ucap kevin datang menghampiri ku.
" kak leo percaya sama aku. biarkan mereka menyelesaikan hari ini juga. tuan muda juga sudah mengijinkan "
" dan kamu bill... ingat ucapan tuan muda padamu " ucap kevin kembali.
mereka pun pergi meninggalkan ku. dan kini hanya ada aku dan billy duduk bersebelahan.
" tenang rasanya... melihat mu di kelilingi orang yang mampu menyayangi dan menjagamu, ..... tak seperti aku yang pengecut ini" bill berkata dengan lirih di akhir ucapannya namun masih bisa aku dengar.
" kau tau bill, apa yang ingin aku dengar dari mu saat nanti kita berjumpa lagi.! "
"..." billy hanya diam.
" lili.... aku menyayangimu. "
" ucapan itu yang aku harap dari mu. bukan kata maaf yang sedari tadi lo ucapin bill. karna kata kata itu yang dulu slalu kau ucapkan setiap kita bertemu "
" lili.... aku menyayangimu" ucap billy gemetar. aku lihat ia meneteskan matanya.
" heeheh. makasih bill sudah mengucapkannya. lo gak salah jadi lo gak perlu minta maaf, karna aku tak menyalahkanmu "
" liii. tapi aku salah. aku sudah menyakitimu "
" kamu tak menyakitiku. jika kau menyakitiku mungkin aku sudah berdarah waktu itu. aku sadar itu juga keputusan terberat waktu itu buat mu"
" kita sama sama merasakannya. apa kau masih sama seperti biilly yang ku kenal dulu"
" liii... aku menyayangi mu. aku rindu lii.. "
" hmmmb. itu baru billy yang ku kenal. "
" liii apa kita masih bisa berteman kali ini "
" lo ngomong apa si bill. lo itu tetep temenku lo tetep billyku lo tetep pangeranku sampai kapan pun "
billy terkejut menatap ku saat aku berbicara.
" aku tau kita berbeda. itu bukan salah kita, walau kita tak bisa bersama, kita masih bisa kog saling menyayangi dan merindu, karna kita teman. kita pernah menjalaninya walau kita tak bersama. aku harap kamu bisa mengucap cinta dengan orang yang kau pilih nanti " kataku lagi
" kau tak membenci ku lii"
" untuk apa membencimu. kan kita saling menyayangi. aku bahagia mengenalmu. bahkan aku ingin berterima kasih karna sudah membuat ku tau apa itu menyayangi dan merindu. "
" jadi aku masih boleh mencarimu lii. "
" tentu karna kita teman bil. kamu tetep pangeranku dan aku tuan putrinya. ya gak " ku berikan senyuman ke arahnya.
ia pun memelukku. kulihat ia menangis memelukku.
" aku takut li kau membenciku aku takut kau tak memaafkan ku. aku takut kau tak mau mengenalku lagi. makasih lii makasih lili ku "
" hey kenapa nangis... aku tak akan membencimu. aku ingin hidup bahagia dan aku harap kau juga bahagia."
" liii... aku ingin kau tersenyum seperti ini. semoga orang orang itu tak menyakitimu sepertiku dulu. "
" sudah... aku akan tersenyum untukmu. kau tau aku tak secengeng itu lagi. emang pernah kau liat aku nangis dulu "
" gak lah. kan kamu kalau nangis selalu sembunyi di sini minta di tutup jaket rapat rapat " tunjuk billy di pundaknya
" hahahaha. ow ya. aku tak yakin itu aku "
kita pun sama sama tersenyum. dan melepas rindu yang selama ini tertanam di dada.
" owh ya li. apa aku beneran masih bisa berbicara dan menghubungimu "
,"tentu saja bill. sini ponselmu "
billy memberikan ponselnya. dan aku memencet nomer dan savenya.
aku juga mengarahkan ponsel billy hendak selfi bersamanya.
" bill.. sini.. senyum yaa "
kami tersenyum di foto yang aku pasang di profil kontak di ponselnya.
" sudahkan. lo bisa kapan aja chat aku. oke "
billy mengangguk.
" yadah.. aku pulang dulu ya bill. gpp kan tuuh mereka sudah nunggu "
" ia lili. makasih ya hati hati. "
" lili... aku menyayangimu. " ucap billy mengakhiri.
" oke. aku juga menyayangimu " ucapku kembali dan akupun berjalan membelakanginya.
" bye bye liii" teriak billy. namun aku tak menoleh kearahnya aku hanya melambaikan tanganku membelakanginya.
aku berjalan ke arah kak lele dengan tetesan air mata yang sedari tadi aku tahan. terlihat kak leele mendekatiku dan tersenyum merangkulku untuk berjalan keluar dengan di ikuti kak ar.