
*jonathan*
aku jonathan, orang orang biasa panggil aku nathan ato nath. aku berusia 25 tahun saat ini.anak tunggal dari keluarga yang tergolong keluarga terpandang memiliki beberapa cabang perusahaan di berbagai kota. karna aku anak yang cukup mandiri. aku memilih membuka usahaku sendiri tanpa mau di bayangi usaha keluarga.
orangemart itu lah plat yang terpasang di depan mini market yang aku jalankan. usaha ini sudah berdiri 3tahun yang lama kelamaan jadi terlihat kemajuannya.
beberapa karyawan telah kumiliki untuk ku perkerjakan. namun saat aku melihat gadis di depan ku yang terlihat lesu tak ada ceria di wajahnya. ntah kenapa wajahnya membuatku terfokuskan kepadanya. yang awalnya hanya sebatas keisengan untuk menyairkan suasana kali ini, aku mencoba berbicara dengan nya.
awalnya aku terkejut saat ia memanggilku dengan sebutan "kak joo", karna asing bagiku. mw protes dong, tapi saat melihat senyumnya aku pun merelakan ia memanggilku sesukanya. asik berbicara tak sadar aku malah menawarkan pekerjaan di tempat ku. padahal aku tak membutuhkan karyawan tambahan saat ini. entah kenapa aku malah tertarik untuk memberikan nya pekerjaan.
berulang kali aku terenyuh melihat senyumannya di saat ia kegirangan mendapat pekerjaan dari ku. seperginya dia dari kedai itu aku menatap cv yang saat ini ada di hadapan ku..
" ayesha olivia... nama yang cantik. seperti orangnya" gumam ku lirih. menatap foto yang terlampir di halama depan.
" besok kita akan berjumpa lagi dedek kecil. " sambil tersenyum. ku masukkan kembali beberapa lembar cv itu ke dalam mapnya.
bergegas aku pun meninggalkan kedai kecil itu.
aku berjalan dengan menenteng map yang berisi biodata livia menuju tokoku.
sesampainya di sana aku menemui salah satu karyawan ku yang sedang bekerja.
" sella... "
" ya co ... "
aku biasa di panggil coco nathan ato co nath itu panggilan kakak dalam bahasa cina.
karna aku tak mau di panggil pak,tuan ato sebagainya yang terlihat tua.
" besok pagi adain brifing yaa.. shif pagi kumpulin. "
" iya co... nanti aku sampaikan ke yang lain "
aku pun berlalu untuk ketempat ruanganku bekerja. langkahku terhenti saat sella menyela langkahku.
" co tadi ce sisi telp cariin coco"
ku hembuskan nafas panjang teringat masalahku saat ini yang sempet terlupakan.
" oke... "
***
livia dan friend*
" asalamuallikum... " ucap dua sejoli saat mengetuk pintu kamarku.
" walaikumsalam, udah masuk aja... gak di kunci" teriakku dari dalam.
" vii.. lagi ngapain " rania bertanya kepo akan hal yang kulakukan.
" emmmmb. lagi nonton nii.. ada drama baru.. sini deh " ajak ku duduk di karpet sambil memeluk bantal di depan laptopku.
" jangan yank... nanti ketularan halu nya via"
ejek kevin sambil menata makanan yang ia bawa ke dalam piring yang tersedia di dalam kamarku.
" biarin.. mending liat oppa dari pada liat kamu terus... wekkk " balasku mengejeknya
" oppa oppa wajah pucat jago nari huuu... gak ada maco nya kali vii" kevin tak terima.
" ighh.. emang elo punya gitu otot otot di perut kayak oppa oppa ni lihat... yakin si ngak.. "
" sudah sudah... ayook vi kita makan dulu " ajak rania saat kevin sudah di hadapan mereka dengan membawa makanan.
" kamu yank kog gak belain aku sii.. " kevin mendekati rania.
" heheh kan emang kamu gak six pack,"
" kog gitu si yank, jahat banget "
"hehheeh udahlah... meski kamu tak se ganteng oppa oppa nya livia tetep aja aku memilihmu " ucap rania menangkup pipi kevin yang merajuk.
" igh mulaii deh.. gue jadi obat nyamuk"
keluh ku sambil meninggalkan mereka untuk mencuci tangan sebelum makan.
begitulah kevin ada kalanya ia menjadi pria yang tegas, smart, dewasa, dan manja seperti bayi gedhe. namun ia dapat di andalkan, ia mampu melindungi kita kita yang di sayanginya. menjaga dan selalu ada saat kami membutuhkan. rania pun tak pernah mempermasalahkan aku yang terkadang juga mendapatkan perhatian darinya. karna bagi nya cinta kevin hanya untuk rania dan sangat jelas terlihat, namun sayang dan perhatian kevin untuk keluarga rania dan juga diriku.
walau kita bertiga sering bertengkar berbeda pendapat dan mengejek. namun kita tetap bersama seperti halnya sebuah keluarga.
terima kasih untuk kalian berdua yang selalu ada untukku, aku berharap kelak kita tak kan pernah berpisah satu sama lain.