
livia
sebulan berlalu dengan baik. aku pun mulai terbiasa dengan kegiatan ku sehari hari. walau lelah namun tak membuat ku jenuh. karna masih banyak orang di sekitarku. aku merasa tak sendirian lagi dengan kesibukanku ini. awalnya memang canggung di tempat kerja. namun seiring berjalannya waktu aku bisa mengakrab kan diri dengan temen kerjaku. mereka mau membantu dan memahami aku, bahkan kita bisa saling terbuka.
begitu juga kak jo. beberapa kali ia juga membantuku saat aku sedikit membutuhkan bantuan. namun kadang juga kelewatan sii sering godain aku. mentang mentang di tempatnya aku yang paling bontot. jadi deh aku yang jadi bahan ejekan di sana.
owh ya jangan lupakan 2 remaja yang saling kasmaran ini ya.. sapa lagi klo buka duo rania dan kevin. iigh bikin resek aja tiap mengumbar kemesraannya. aku bersyukur mereka tak pernah meninggalkan ku. slalu sport aku.. dan mau jadi sandaran ketika ku merasa kalut.
aku bersyukur masih memiliki orang orang yang selalu ada untuk ku. ku tatap nisan kedua orang tua di sore hari ini. tentu saja di hari liburku, aku duduk menghadap tempat peristirahatan terakhir orangtuaku.
ku curahkan segala suka cita ku kepada mereka. aku tak ingin lagi membuat mereka kawatir di sana.
" ayah mama ... lihatlah via sangat baik baik saja. banyak yang menyayangi ku, kalian tak perlu kawatir lagi. via janji tak kan membuat kalian kecewa. via ingin membuat kalian bangga, aku ingin jadi seorang yang sukses di kemudian hari. ma ayah... jaga selalu via dari sana ya. via kangen kalian rindu kalian." ucap via sambil memeluk nisan sosok pria yang selalu ia cinta.
" via pamit pulang yah ma... sudah sore. maaf via tak bisa mengunjungi terlalu sering. kalian cintaku selamanya. " livia berdiri memalingkan wajahnya untuk pergi meninggalkan tempat itu dengan sedikit tetesan air mata di sudut matanya.
ku angkat pangilan di ponsel ku sedari tadi yang bergetar.
" ya hallo.... "
" ...."
" iya iya aku kesana sekarang "
" ..."
" iya oke. ini udah balik kog. bawel banget sih.
"..."
" hemmmb bye. "
dengan menaiki taksi aku menuju cafe langganan ku. sesampainya di sana
" woy.... " sapaku mengagetkan rania dan kevin.
" ow lo udah datang" jawab kevin tak bersemangat.
" tumben lesu guys"
" huuuh, " helaan nafas rania.
" kenapa si guys.... lagi bertengkar ni "
" gak kog " ucap mereka bersamaan.
" trus kenapa donk... aayoo laa cerita. "
" vii loo gak lagi pacaran dengan bos mu itu kan " tanya rania yang mengejutkan.
" uhuk uhuk... " aku tersedak saat minum bersamaan dengan mendengar ucapan gadis di sebelahku.
" lo gila raaan.. lo dapat pemikiran itu dari mana sih"
" udah deh vi gk usah ngelak. kalian deket banget. kelihatan kog, apalagi saat si jo natap lo.. duuuh kyg cinta banget gtu ke elo. " cicit rania tak suka.
" yank kamu tau livia kayak apa. gk mungkin lah mereka jadian. ya gak vi " ucap kevin menyela.
" lo tu ya yank mesti belain livia. seharusnya kasih tau kek kalau via itu salah. ia gk boleh suka sama si sipit itu.
owh aku tau ini kenapa masalahnya yang membuat mereka kesal dan diam sedari tadi. ku hembuskan nafas pelan.
" ran... lo udah kenal gue lama kan. percaya deh. aku tu cuma angap kakak aja gk lebih. pliiis jangan ngedrama deh"
" ngeles aja trus. "
" yank udah dong. via tau kog apa yang baik untuknya"
" tapi kan.. si jojo itu udah ada tunangan yank,gk seharusnya mereka terlalu deket"
" ya ampun yank.. jangan mulai deh "
" guys... cukup. sampai sekarang aku gak tau apa itu mencintai dan di cintai.
mereka terdiam saat mendengarkan ucapan ku lirih namun masih bisa mereka dengar.
" asal kalian tau, aku tak mungkin melakuin kesalahan yang sama. "
ucap ku langsung meninggalkan mereka.
sakit rasanya jika mengingat kembali masa lampau yang selalu ingin kulupakan, namun tak pernah bisa. bayangan semua kenangan itu tak akan perna hilang.
aku pun pulang, ingin rasanya teriak tapi tak bisa.
" cinta itu seperti apa tuhan...? "
" bahkan hatiku aja tak lagi berdebar debar"
" kenapa kalian kembali mengingatkan ku padanya. "
" kenapa kalian selalu membuatku untuk menatap kebelakang"
" aku tau kak jo menyukai ku. bahkan aku juga menolaknya. aku masih sadar diri kog siapa diriku. "
aku menangis sendiri di kamar yang gelap tak bercahaya.
" apa salah jika aku ingin memiliki seseorang yang bisa menjaga ku. tanpa ikatan sebuah cinta"
aku pun terlelap karna lelah menangis.