Is'T Love Story

Is'T Love Story
kegelisahan ayah



hari hari berganti dengan cepatnya, hingga tiga bulan pun livia lalui dalam keadaan baik baik saja. namun terlihat berbeda dengan ayahnya, kini livia sering menatap ayahnya yang tak seperti biasanya.


vian ayah livia terlihat lebih diam dan wajah penuh kekawatiran. bahkan kini ayah livia sedikit membatasi livia untuk lebih baik di rumah saja. terlihat ayah yang tertekan entah karna apa,


begitu juga dengan mama livia, namun mama masih bisa mengendalikan ketakutan nya untuk tetep menjaga livia dengan baik.


livia mencoba bertanya kenapa, namun tak perna ada yang memberi taunya.


malam harinya.


" yah. apa sudah ada kabar dariny?? " tanya zoy pada suaminya.


" belum ma. 2 bulan ini mereka serasa menghilang. "


" trus gimana dengan livia yah!! " ucap mama cemas.


" kita harus menjaga anak kita ma.. ia satu satunya penerus kita "


" mama takut yah " ucapnya memeluk suaminya.


" aku akan usahai yang terbaik , doakan semoga semua kembali dengan baik "


kedua orangtua livia begitu mencemaskan anak satu satunya. keadaan yang semakin membuat vian tertekan harus berusaha demi keluarganya.


***


kini livia berangkat kuliah bersama kevin dan rania. bahkan tanpa sepengetauan livia, ayah berpesan pada kedua sahabat anaknya itu tidak meninggalkan livia sendiri saat diluar sana. ayah meminta tolong kevin menjaga livia. kevin sudah mengetaui situai ayah livia kini harus menjaga livia.


" om tenang saja. masih ada kami yang menjaga nya. om lebih baik menyelesaikan permasalah dikantor om dulu " ucap kevin menyakinkan ayah livia.


" trima kasih keviin rania. om bersyukur anak om memiliki teman yang menyayanginya"


terlihat livia turun dari tangga menemui ayah dan mamanya untuk berpamitan.


tiga remaja itu pun berangkat kuliah bersama.


tak jauh dari kediaman livia terdapat mobil yang sedari tadi mengintai rumah itu. saat melihat sebuah mobil keluar dari rumah livia, segera mereka mengikuti nya dalam jarak jauh.


saat di lampu merah kevin menatap kaca spion samping nya. sedikit kecurigaan sedari tadi. hingga kevin bertanya menatap livia yang duduk di belakng dengan melihat kaca tengah.


" aku tak perna bertemu mereka viin "


" berapa orang kata ayahmu yang menjadi bayangan mu"


" ayah bilang 1 klo gak 2. mereka bergantian menjaga ku. kamu kenapa si vin " ucap livia menyadari ke anehan kevin


" tak apa vi. sepertinya kita harus refresing dulu, kita bolos yuk hari ini" ucap kevin setenang mungkin.


" tumben yank... yakin nii " kata rania dengan senang hati.


" iya yank. kali ini aku akan mengajak kalian jalan2, gimana mw gak? "


" oke... " oke" . ucap livia dan rania bersamaan.


kevin sebenernya hanya ingin menghindari seseorang yang sedari tadi mengikutinya dengan sangat jelas terlihat.


selama ini saat kemana pun ia bersama livia. ia tak pernah merasakan seseorng yang mengikutinya walaupun ada yang menjaga livia kemanapun ia pergi. baru kali ini ia merasa diikuti.


perasaan tertekan yang kevin hadapi namun tak dapat di rasakan rani dan livia.


kevin mencoba mengecoh mobil itu dengan berjalan cepat melewati tiap lampu merah yang akan menyala.


tak mudah untuk kevin menghindarinya. namun selama 45 menit kevin melaju, ia pun dapat menhindari mobil yang mengikutinya sedari tadi.


" viin.. kita sebenarnya mau kemana si, dari tadi muter muter tak jelas, trus tu kenapa sampai berkeringat gtu si, ac nya aja menyala. " gerutu livia sebel sedari tadi tak jelas arahnya.


dua gadis itu memang sedari tadi tak terlalu memperhatikan kevin ato jalanan. mereka sedang asik dengan ponsel mereka masing masing.


saat mendengar ucapan livia, rania pun menoleh menatap kekasih di sebelahnya.


" kamu sakit yank, kog pucat banget" tanya rania mengambil tisue untuk menghapus peluh kekasihnya.


" gak kog yank. hmmm ini apa cuma tegang lupa jalan heheheheh" ucap kevin sambil cengengesan.


" kamu yakin, apa mau gantiaan aku yang nyetir" ucap rania.


" ia vin, kamu terlihat pucat loo. atau kita pulang aja. main di rumahku, seruh kayaknya. " ajak livia dengan penuh harap.