Is'T Love Story

Is'T Love Story
demam



tubuh lemah berwajah pucat livia berbaring di ranjangnya, dokter rangga pun memeriksa dengan tenang. ia tak menghiraukan tatapan tajam yang sedari tadi tertuju padanya.


" tuan nyonya, tak perlu kawatir, nona livia demam karna terlalu lama kehujanan, dan lambungnya meradang di usahakan untuk pola makannya di perhatikan, dan jangan terlalu membuatnya banyak pikiran" ucap dokter rangga kepada orang tua livia.


" apa anak kami baik baik saja dok" tanya mama livia kawatir.


" nyonya tak perlu kawatir, nona hanya butuh istirahat "


" yang bener saja, klo dia baik baik saja kenapa belum bangun curut, " umpat kai pada dokter itu.


" ciiih" ... rangga tak menghirukan perkataan tuan muda pemarah itu.


" ini resep yang harus segera di berikan " rangga memberikan sepucuk kertas.


" daveee segera beli obatnya, dan bawa pergi dokter sialan itu " ucap kai tanpa menatapnya.


" kau harus membayarku mahal bos " ucap dokter itu dengan ketus.


" daveee... "kai meneriaki .


bergegas dave dan dokter rangga meninggalkan rumah livia.


" om tante... lebih baik istirahat dulu saja, biar aku yang menjaga livi. " ucap kai saat orang tua livia mendekati anaknya.


" terima kasih nak kai sudah menjaga livia"


"om tak perlu sungkan. ini memang keinginan ku menjaganya "


" baiklah. klo ada apa apa beritau kami ya" ucap ayah livia. smbil berlalu setelah mencium kening anaknya.


tinggala kai yang menjaganya, dengan hati hati dia mengkompres kening livia, menyelimuti tubuh livia.


saat livi mengigau dalam tidurnya, rintihan dan tubuh bergetar sedikit isakan tangis livia membuat hati kai terluka namun ia tetep akan ada untuk livia.


" jangan pergi... jangan pergi... "


ucap livia lirih.


kai pun membaringkan tubuhnya mendekap gadisnya.


" lupakan lah... aku tak kan pergi sepertinya. "


" tenang lah.. ada aku disini. " ucap kai memeluk livia dan menciumi puncak kepalanya.


livia terlihat tenang di pelukannya. perlahan livia membuka matanya sayu sayu memandang kai.


" kau siapa... " ucap livia namun tak menghindari tubuh kai. livia terlihat sangat lemah.


kai tak memperkenalkan dirinya, pikirnya hanya ingin livia tenang. livia terlihat nyaman di pelukannya. livia menikmati aroma pria yang memeluknya, seakan terhipnotis livia kembali tidur dengan tenang nya.


kai terus mengusap dan menciumi wajah livia. hingga ia pun ikut memejamkan matanya.


***


pagi pagi buta, dave membangunkan bosnya perlahan.


" kai.... bangun" ucapnya lirih mengoyangkan tubuh bosnya.


" hmmmm" gumam kai masih memejamkan mata.


" kita harus segera berangkat bos... "


kai membuka matanya perlahan. ia melirik livia yang masih nyaman di pelukan nya. kai membenarkan posisi livia agar lebih nyaman tertidur.


kai menciumi kening livia cukup lama. dave menatap bos nya itu. terenyuh karna selama ini kai tak pernah memeperlakukan gadis manapun penuh perhatian.


dave tersenyum dan meninggalkan keduanya, menunggu di ruang tamu rumah livia.


" tolong jangan terluka lagi " pamit kai sambil mencium pelipis livia yang masih tidur.


kai menemui orang tua livia.


" om . tolong jaga livia dengan sebaik mungkin"


" kau mau pulang nak"


" ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan., om tenang aja aku tak kan lama"


" om tenang saja karna masih ada bayanganku di luar sana, mereka akan menjaga livia. " ucap kai saat akan pergi entah berapa lama.


" om tau nak. kamu juga harus berhati hati"


" aku akan menjaga anakku untuk mu nanti" ucap ayah livia.


vian tak heran jika kai mendekati dan menjaga livia dalam diam. karna kai bukan orang biasa. banyak musuh yang ingin menjatuhkan bahkan melukai nya, oleh karna itu ia tak ingin musuhnya tau jika livia adalah kelemahan nya.


mobil yang dave kendarai membawa kai untuk bergegas ke rumah pribadinya.


sedikit kai tak ingin meninggalkan livia saat dalam keadaan lemah. namun mau tak mau ia harus menyelesaikan masalahnya.


***