
selama dua minggu ini livia tinggal di rumah rania. ia kini juga sudah mengiklaskan jalan takdirnya, livia merasa tuhan lebih menyayangi orangtuanya, membantunya agar ayah dan mama livia tak merasa sakit lagi.
livia sudah mencoba kembali kehidupan nyata. di dampingi rania dan kevin saat ini. ia mengutarakan keinginan nya.
" ran aku ingin kembali kuliah... apa aku bisa ikut bareng kalian besok" tanya livia menatap sahabatnya itu.
" kamu beneran vii... aku akan sangat senang jika kamu masuk lagi" ucap rania.
" iya aku tak mau banyak ketinggalan. aku ingin cepet lulus. aku tak mau tertinggal dari kalian "
" ini baru livia.. oke besok biar aku jemput kalian para gadis gadis manis" ucap kevin dengan candaannya.
" hmmmm ada satu lagi guys "
" apa itu??? "
" hmmm aku mau kos aja ya. tak mungkin kan aku di sini terus. jika nanti papimu pulang tak mungkin aku terus merepotkan kalian" ucap livia sambil menundukkan kepalanya.
" gak aku gak setuju... " ucap rania kesal.
" kenapa harus pergi. papi juga tau keadaan mu, apa kau tak mau lagi dengan ku vii" ucap rania dengan mata berkaca kaca.
" bukan seperti itu ran... kita tetap bisa bersama, tapi ijinkan aku untuk memulai hidup baru ku! "
" gak via... aku tak mau kamu sendiri. "
" viin tolong... bujuk gadismu ini. " ucap livia meminta bantuan kevin.
" kau tau kan keinginan ku"
kevin mendekati kekasihnya itu. sambil memeluk kevin mencoba berbicara lembut.
" yank... livia benar, ini hidupnya ia juga harus membuka lembaran baru. tenanglah kita masih bisa menjaga gadis manja itu. .. oke yank" ucap kevin menenangkan.
" trus mau tinggal dimana.." kata rania yang sedikit menyetujuinya.
" aku ada tabungan yang selama ini aku simpan, besok pulang dari kampus ayo bantu aku cari tempat untuk ku tinggal.. mw kan bantu aku heheeheehe" livia tersenyum.
rania mengangguk tanda mau membantunya.
" kamu yakin vii... apa kau gak capek kalau harus kerja sambil kuliah "
" tenang saja. aku pasti bisa ngaturnya, oke "
" oke oke kita akan selalu ada untuk mu... ya gak yank " kevin sambil memeluk dan mencuri ciuman di pipi rania.
rania nampak malu dengan kelakuan kekasihnya, apa lagi di hadaapan livia saat ini.
" iiigh kalian... jahat banget sii. mau pamer kemesraan gitu. " livi mendengus dengan sedikit senyuman untuk sahabatnya.
" sapa suruh jombloo kelamaan. terus aja nunggu curut sialan itu dateng" ejek rania.
" eeh eeeh siapa bilang. aku udah lupa kaliii iiigh " sanga livia.
" kalau udah move on cepat cari pangeran baru dong, biar gak jadi obat nyamuk di sekitar kita. ya gak yank" ucap kevin ikut menyudutkan livia.
" enak aja kalian. udah aku naik dulu... lanjutkan kalau mau pacaran mumpung papi mu belum pulang heheheheh" livia meninggalkan mereka berdua menuju kamarnya.
" semoga kalian bahagia selalu. aku bersyukur mempunyai kalian " ucap livia pada dirinya sendiri.
***
di sebuah mansion yang luas terdapat di sekitaran pantai pulau terpencil. yang hanya bisa di lewati dengan kapal atau helikopter.
tempat persembunyian itu kai, dave dan beberapa bodyguard nya tempati.
kai yang mulai terbangun dari koma nya sedikit mengerakkan tangan nya.
kini dave dan dokter rangga yang selama ini menjadi sahabatnya mendampingi nya. perlahan kai membuka matanya perlahan. rangga mendekati untuk memeriksa keadaan kai yang sudah tertidur dalam waktu lama.
" kaii... apa kau bisa melihat ku, kau bisa mendengar ku..... " ucap rangga sambil memeriksa.
" hmmm aku tak buta dan tuli bodoh " ucapan lirih kai yang lemah dengan nafas berat saat mendengar pertanyaan dokter itu.
***