
seminggu ayah livia dirawat. kini vian dibolehkan untuk pulang. keadannya perlahan membaik, ayah kini meminta asistennya untuk menghendel semua pekerjaan untuk sementara waktu.
livia juga ikut menemani ayah nya setiap saat setelah pulang kuliah. terlihat livia penuh perhatian merawat ayahnya. senyuman tak pernah luntur dari wajah cantiknya.
" sore om,, livia" ucap kevin dan rania saat datang berkunjung.
" kalian... kenapa tak bilang klo mw kesini! "
tanya livia melihat pasangan itu.
" heheheh aku ingin berkunjung melihat mu dan om vian" ucap rania.
" gimana kabar om. sudah baikan? "
tanya rania.
" alhamdulullah.. sudah membaik. kan ada suster cantik yang merawatku " ucap ayah livia sambil melirik livia.
" ayah iii.... " ucap livia cemberut.
mereka pun tertawa melihat livia.
" via kamu ajak rania ke kamarmu gi.. santai lah sejenak. " ucap mama mengalihkan perhatian nya.
" oke maa, yang mulia raja. saya capek mw istrahat dulu yaa " ucap livia sambil mencium ayah dan mamanya.
" pergilah tuan putri " ucap vian menimpali candaan livia.
seperginya livia. kini hanya ada kevin dan kedua orang tua livia yang duduk di ruang keluarga.
" om maaf aku sampai saat ini belum menemukan keberadaan tuan muda, terakhir yang aku ketaui dia berada di australi namun belum kembali " ucap kevin memulai bicara.
" itu juga yang hanya om ketaui, sebelum nya ia berbicara akan pulang saat akhir bulan lalu. "
" om aku akan bantu sebisa mungkin"
" maaf vin kami jadi merepotkan mu" ucap mama livia sedih.
" om tante tenang saja. livia sudah aku anggap sodaraku sendiri"
***
" he ******** tengik. kapan kau akan sadar, kau biasanya selalu mengomel jika aku tak melakukan tugas dengan benar, cepatlah sadar.... banyak hal yang harus kau lakukan! " ucap pria itu nampak frustasi.
terlihat seseorang tertidur dengan tenang dalam waktu yang lama... kecelakan yang terjadi membuat otak nya mengalami pendarahan dan menyebabkan koma.
seseorang mendatangi dave yang saat ini menatap miris sahabat sekaligus bosnya itu.
" apa yang kau temukan" ucap dave tajam menatap bawahannya.
" dalangnya tuaan bramasta"
" orang suruhan nya yang mencoba mencelakai tuan muda sudah aku tangkap tuan "
" kau boleh menyiksa nya. tapi jangan membuatnya mati. saat ia sudah lemah kembalikan kepemiliknya"
ucap dave dengan mata penuh amarah.
kai terbaring dengan tenang seolah tak berfikir akan kejadian di sekitarnya. bahkan saat dave sibuk menjaga kai dan tugas perusahan, ia melupakan tentang gadis yang selama ini kai lindungi.
" hee kai kau dengar itu. musuhmu sudah mulai bergerak, cepatlah bangun jangan bermalasan. " ucapan dave mendekati kai. ia berusaha berbicara cukup keras dan kejam agar sahabatnya itu segera bangun.
dave tau kalau seandainya kai dalam keadaan sadar ia berbicara seperti itu, mungkin bosnya itu sudah membunuhnya sedari tadi.
dave hanya ingin membuat kai cepat tersadar akan mimpi panjangnya.
***
sebulan berlalu
livia berjalan memasuki rumahnya.
kini livia terkejut saat pulang kerumahnya. ia mendapati ayahnya telah terbujur tak sadarkan diri di ruang tamu. ia tak melihat siapa pun di sekitarnya.
" ayaaaaah.... " livia berlari mendekap ayahnya.
"mama..... tolong maaa..
bi bii anaa.. " teriakan livia namun tak melihat keberadaan mama dan pembantunya.
supir pribadi ayahnya yang mendengar teriakan livia dari luar,sontak bergegas menghampiri nona nya.
" nona tuan kenapa? " tanya pak budi.
" pak tolong aku.. bawa ayah ke rumah sakit " ucap livia dengan derai air mata.
mereka bergegas menuju rumah sakit. livia tak lupa menelpon mamanya. mama dan bi ana yang sedari tadi pergi untuk berbelanja sontak pergi untuk menemui livia di rumah sakit.
sesampai nya mereka duduk dengan cemas menunggu dokter menangani ayah livia. mama cukup merasa bersalah telah meninggalkan suaminya sendirian dirumah hingga kejadian ini terjadi.
cukup memilu kan untuk livia yang syok akan keadaan ayahnya, dan harus menenangkan mama yang merasa bersalah.
***