Is'T Love Story

Is'T Love Story
tak sadar



gemuruh canda tawa penuh cerita di masa sma terdengar mengasikkan bagi para remaja di restauran tersebut.


waktu terus berjalan hingga menunjukan malam hari semakin larut.


beberapa kawan livia mulai berpamitan untung pulang karna sudah malam. begitu juga kevin dan rania.


" ayoo via kita juga pulang" ajakan kevin sambil menggandeng tangan rania.


" oh kalian pulang duluan aja, ayah yang menjemputku. " ucap livia.


" kita temenin smpek om vian datang ya " kata rania mendudukan dirinya dikursi kembali.


" tak usah ini udah malam, tenang aja aku tunggu nya di dalam kog " tolak livia meyakinkan sahabatnya.


" beneran vii, gpp " ucap rania.


livia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


" baiklah kamu ati ati ya vi, klo ada apa apa hubungi kami " ucap kevin tak tega.


" oke oke. santai saja guys. " ucapnya sambil sedikit mendorong2 tubuh kawan nya itu untuk segera pulang.


seperginya mereka livia duduk kembali di kursinya. restoran itu tak serame tadi, tapi masih terlihat beberapa pengunjung di sana.


livia menatap jendela di depan nya nampak suasana akan turun hujan. ia memandang sekeliling sedikit melihat seseorang yang ia rasa memperhatikannya di balik topi hitam nya.


livia tersenyum kecut di buat nya. ia sangat mengenal tubuh gerakan pria itu.


ia menghela nafasnya dalam dalam. livia menundukkan kepalanya bertumpu pada meja di depannya.


livia memijat lembut kepalanya yang sedari tadi berdenyut. tubuhnya sedikit demam. namun iya berusaha menguatkan tubuhnya, agar bisa segera pulang.


livia mencoba menghalau pikiran kacau nya.


walau sedikit sakit tapi iya harus melangkah untuk kedepan nya. tak mau melihat orang di sekitarnya kawatir. ia harus merelakan semuanya.


" baiklah, semangat livia" livia menyemangati dirinya sendiri.


ia ambil secarik note yang ada di tasnya.


menulis kan beberapa kata.


livia melepas gelang yang ada di tangan kirinya, ia pandang sesaat sedikit tetesan air mata, kemudian segera ia hapus.


berjalan menyusuri jalan ia ingin menikmati malam ini dengan sedikit berjalan santai. tak kan ada yang menjemputnya. ia berbohong agar bisa pulang dengan menikmati dan bersantai.


perlahan hujan turun diawali dengan grimis yang semakin lebat. livia menatap langit dengan tangan yang menikmati setiap tetesan hujan.


cukup jauh livia terus melangkah menikmati hujan yang semakin deras. tanpa sadar semakin lama tubuhnya limbung, kepalanya pusing pandangan nya semakin kabur. ia pun mulai tak sadarkan diri.


***


billy manatap ponselnya yang berdering, ia ragu untuk mengangkatnya. namun ponselnya tak berhenti bergetar. mau tak mau ia pun mengangkatnya.


terdengar kevin berbicara dengan kekesalan nya.


" lo gila ya... ngapain sembunyi " tanya kevin kesal.


" vin, aku gk mw melakukannya" ucap bill.


" smpai kapan loo menghindarinya *****. " ucap kevin.


" aku cuma mw melihatnya " ucap bill lirih.


" klo mw pergi, pergilah dengan cara baik woy. aku gk mw tau, jangan ganggu dia lagi. " ucap kevin bergegas menutup nya.


beberapa waktu berlalu. terlihat semua pergi namun tinggal lah lili sendiri. ingin ku beranjak mendekatinya namun ttak perna ku lakukan. aku memilih menunggu nya.


sesaat kulihat ia beranjak pergi meninggalkan restauran. bill mulai akan mengikutinya, namun saat ia melewati meja yang sedari tadi livia tempati, pandangan nya tertuju pada benda yang tak asing. di dekatilah benda itu di bawah nya terdapat secarik note bertulisan rapi.


" bill aku tau saat ini kamu melihat ku dari tempatmu. jika kau ingin pergi pergilah ,berbahagialah. livia"


tulisan pada note yang livia tinggalkan membuat bill terkejut, karna livia mengetau keberadaan nya.


ia bergegas untuk mengejar livia. terlihat tak jauh dari jaraknya.


ia mengikuti livia hingga hujan turun ikut membasahi tubuhnya.


bill terus melangkahkan kakinya sedikit jauh dari livia. ia ingin menikmati berjalan dengan menatap livia.


tak berapa lama ia melihat livia terhenti sejenak memenggang kepalanya. sedikit kekawatian di wajah bill. bill berlari ke livia yang terlihat terjatuh. namun langkanya terhenti karna seseorang menghalanginya.


***