Is'T Love Story

Is'T Love Story
permen



****


pandangan livia tertuju ke kursi yang sudah kosong, namun masih ada pelayan yang membersih kan sisa makan di atas meja.


livia perlahan membuka kotak kecil di depan nya. ia melongo di buat nya, karna isi nya hanya sebua permen jelly kesuka an nya.


begitu juga kedua temen nya heran.. di bawa permen jelly itu ad sebuah tulisan,


rania dan kevin menunggu livia membawa aa isi kartu itu. " makanlah #KA#. "


livia binggung siapa ini.. begitu juga teman teman nya.


" seperti nya dari pengangum mu " kevin mengoda livia.


semua temen deket livia memang tau ap yang di sukai livia.


" tapi siapa... kau mengenalnya " tanya rania saat melihat inisial nama yang tertera di kartu itu.


" mana ku tau??? .."


" lumayan lah meski hanya 1 biji hahahahha" tawa nya pecah dengan di ikuti tawa ke dua teman nya.


di masukan lagi kotak kecil itu ke dlam tas nya.


tak lama setelah selesai makan mereka pun meninggalkan restoran itu untuk pulang karna hari mulai sore.


***


sebulan kemudian.


livia ingin mengunjungi suatu tempat. ia ingin merilex kan otak pikiran dan tubuh nya sebelum memulai kuliah nya.


saat ini ia melihat penampilan nya di depan cermin di kamar nya. ia melihat penampilan nya yang menurutnya sudah cukup.


livia berpamitan ke pada mama nya.


" ma aku pergi dulu ya... " kata livia saat mendekati mama nya.


" mau kemana sayank.. " jawab mama


" baiklah, bersenang senang lah, dan hati hati yaa. " pesan mama.


livia tersenyum lalu menyalami mama nya dan tak lupa mencium kedua pipi mama nya.


ia pun bergegas pergi ke suatu tempat.


ia memutuskan pergi sendiri di antar kan sopir taksi.. ia memberi tau tujuan nya ke sang sopir, taksi pun melesat menuju tujuan nya.


tak lama livia pun sampai. taksi pun meninggalkan livia saat livia sudh menuruti taksi itu.


livia menghela nafas dalam dalam menguatkan hatinya. ia tak ingin bersedih. livia hanya ingin mengingat kebahagian saat beberapa bulan yang lalu ketika ia datang ke tempat ini.


ia tempat yang di tuju livia adalah danau yang dulu di tunjukan oleh bill.


perlahan livia berjalan mendekati air danau itu. di memejam kan mata nya merasakan semilir angin yang menyejukan.


" aku merindukan mu bill" ucap nya pelan dengan di selingi tetesan air mata.


" apa kamu juga merasakan hal yang sama."


livia duduk di tempat dulu ia dengan nya.


ia mengenangnya. bayangan akan kisah nya di tempat itu dulu masih melekan di otak nya. tak sadar ia memegang gelang bintang yang di berikan billy waktu itu. ia menangis namun masih bisa mengendalikan keadaan nya.


berjam jam ia terdiam di sana seorng diri mengenang masalalu nya.


ia pun memutus kan untuk pergi dari tempat itu. livia benar benar melepaskan masalalu nya di tempat itu. ia tak mau larut dalam kesedian nya.


" jika ini membuat mu bahagia... aku juga akan bahagia... " ucapnya sambil meninggalkan tempat itu.


ia pun berjalan menyusuri jalan.sambil melihat lihat adakah taksi di sekitarnya.


namun tak satu pun taksi yang melintar.. ia menunggu di halte yang dekat dari nya. ia memegangi perutnya karna sakit. ia ingat seharian ini memang belum makan. ia memiliki riwayat sakit lambung. perut nya melilit ia kesakitan. ia pun mengambil ponsel di tas nya namun saat melihat nya ponselnnya dalam keadaan lowbat.


ia mendesah sambil memeluk perutnya sendiri.. ia meringkuh di tempat itu.