
jonathan
aku selalu menyangkal setiap perasaan yang aku rasakan saat bersama livia. aku sadar ini salah tapi aku gak bisa menghindari nya, ntah mengapa aku mulai menyukainya. tapi saat aku mengungkapkan perasaanku kepadanya, livia selalu menolaknya. bahkan livia meyakinkanku bahwa ia hanya menganggapku seorang kakak yang menyayangi adek kecilnya. sedih sii.. tapi aku menerimanya bagaimanapun juga aku laki laki yang sudah di jodohkan keluargaku, meski tak pernah ada perasaan terhadapnya.
namun aku salut, walau livia menolak ku tapi dia tak menghindariku, ia tetep seperti biasa. ceria, gadis polos itu bahkan tak pernah menolak jika aku memberikan perhatian kepadanya, dia perna berkata..
" kak... kita itu saudara, jadi aku tak akan menghindarimu, aku akan tergantung padamu, karna kau kakak ku"
hehehh lucu sii dapet adek sepertinya. sampai pernah tunangan ku sisi cemburu dan marah saat aku bersama livia, tapi aku tak menghiraukan nya. namun livia malah menemuinya untuk menjelaskan kesalah pahamanya.
bahkan karna livia juga kini aku dan sisi semakin dekat, sekarang kami menganggap livia itu adik kecil kami. sisi juga tak masalah jika aku dengan livia. karna kita sama sama ingin menjaga livia kecil kami.
***
kini saat aku duduk bersama sisi di ruanganku, terlihat seseorang mengetuk pintu.
tok.. tokk
" ya masuk... "
kulihat livia masuk dengan wajah pucatnya.
" kamu kenapa dek... " tanya sisi mendekati livia.
" kak... aku ijin pulang boleh gak. kepalaku pusing. " sisi menuntun livia untuk duduk di sofa yang tadi ditempatinya.
" kamu sakit ay... " aku segera menyentu dahinya yang panas.
" co... livia demam. .. "
" ayoo kamu pulang aja dek biar aku antar ke dokter" kata sisi cemas.
" aku pulang sendiri aja kak... ini cuma demam biasa. buat istirahat juga sehat lagi "
" gak... gak bisa.. co ayook buruan ke dokter. " sisi mengambil jaket dan tas livia di loker karyawan, dan aku bergegas menuntun agar livia menurut untuk kami antar ke dokter.
sesampainya di klinik dokter. livia di periksa di dalam dengan di temani sisi. tak lama mereka keluar dengan membawa beberapa obat untuk livia.
" honey... gimana sudah di periksa " tanya ku saat mendekati sisi dan membantu livia berjalan.
" lambungnya meradang co... dia telat makan, makanya sampai demam "
" kebiasan.... ayo aku antar pulang ay "
" iya kak.. jangan ngomel yaa aku lemes ni. "
" iya bawel. "
kini sisi dan aku mengantar livia di kosan nya.
sesampainya di sana sisi membantu livia makan bubur yang tadi sempat di beli saat jalan pulang.
" dek... makan dulu ya. "
" aku bisa sendiri kak... kakak pulang aja gpp kog. "
" udah jangan berisik sini aakkk"
livia menuruti saat sisi menyuapinya hinga habis dan meminum obatnya.
" dek aku tinggal pulang gpp kan"
" iya kak... gpp aku juga udah ngantuk. "
livia hanya mengangguk dan tersenyum.
" ay besok lo libur aja dulu 2 hari.. biar sehat dulu " ku usah puncak kepala livia yang masih demam.
" makasih ya kak... udah sana pulang. aku mau tidur kak. " usirnya saat melihat ku tak kunjung pulang.
" honey kita pulang yuk... kita di usir nii" goda ku melihat livia. dan mengandeng tangan sisi.
" jangan lupa tutup pintu nya pak bos. selamat malam bu bos. hihhihi" terdengar perintah livia yang di akhiri tawanya.
aku pun bergegas pergi bersama sisi untuk pulang. sambil melajukan mobil ku. aku mencoba menghubungi seseorang.
" hon... tolong hubungi kevin dong "
" temennya livia "
" iya honey... buruan gi"
sisi mengeser geser layar di ponselku. saat tersambung dan mode speaker tak lama terdengar suara kevin.
" haloo coo.. "
" viiin... livia sakit.... "
" sakit apa co... di mana sekarang??"
"dengerin dulu vin. ya tuhan.... "
" livia sudah di kosan nya, sudah tidur juga lo gak usah kawatir tadi sudah aku bawa ke dokter "
" aku ke sana sekarang ya co "
" jangan... livia sudah tidur. besok aja ajak juga rania ke sana "
" ok co... makasih ya udah jaga livia tadi "
" iya iya sudah klo gitu.. aku matiin ya telp nya.
" iya co... mkasih banyak.
sesudah aku mematikan sisi terlihat tersenyun menatap ku.
" kenapa han... "
" gak nyangka ya banyak yang kawatir sama gadis kecil itu "
" apa kau cemburu"
" tidak... karna aku tau kamu sekarang cinta sama aku "
" hhahahahha... bisa aja kamu, "
ku raih tangan sisi dan ku genggam.
" biarkan livia menjadi adik kecil kita selamanya. "
" iya co... aku juga menyayanginya"
" jangan hanya livia han... kau juga harus selalu mencintaiku "
sisi terlihat malu saat mendengar ucapan ku. rona merah di pipinya membuatku gemes ingin menciumnya.