
suasana mendung sore hari ini menyelimuti keluarga olivia. kini gadis itu memeluk tubuh mamanya yang tak bertenaga. duduk di samping nisan tempat ayahnya di kuburkan. para pelayat pun telah meninggalkan tempat itu. hingga kini tinggalah mama dan livia yang di dampingi kevin dan rania berdiri di samping mereka.
berita duka yang dokter sampaikan, membuat mereka kehilangan sosok ayah yang selalu melindunginya.
pagi ini saat di rumah sakit ayah livia di rawat.
" maaf nyonya. kami sudah berusaha dengan sebaik mungkin, tapi tuhan berkehendak lain " ucapan dokter sontak membuat mama syok tak sadarkan diri.
mama terlihat diam dalam tangisannya. bahkan kini livia berusaha untuk menguatkan mama yang terluka karna kepergian ayah.
kini livia duduk menemani mamanya di kamar, dengan membawakan makanan untuk mamanya.
" maa.. ayoo makan dulu "
mama hanya terdiam tak menjawab. mama hanya menangis dalam lamunannya. pandangan kosong mama seolah membuat livia kehilangan kasih sayang yang biasa mama tunjukan untuknya.
" maa... ayah sudah tak sakit lagi, mama iklaskan ya. jangan seperti ini. hanya mama yang livia punya.. " ucap livia menahan isakannya.
hari demi hari livia lalu dengan mendampingi mamanya. semakin hari kondisi mama semakin memprihatin kan. mama sakit sakitan, tatapan matanya yang tak memiliki harapan lagi.
sampai kini livia harus merawat mama yang diam berbaring di rumah sakit. livia tampak sangat terluka hati dan jiwa nya seakan pergi dari hidupnya. setiap hari livi menemani mama, dengan menguatkan mama nya ia selalu mencoba berbicara untuk membuat mamanya kembali menatapnya.
" vii kamu pasti lelah... kamu istrahat dulu, biar aku yang menjaga tante zoy " ucap rania menatap sedih.
" aku tak apa ran... aku masih bisa "
" jangan paksa dirimu, istrahatlah biar aku yang gantian jaga "
" viin ajak livia istrahat " ucap rania
" ayo vii. sini tidurlah disini. " ucap kevin menuntun livia untuk istrahat di sofa ruangan mamanya.
" makasih... aku gak tau harus bagaimana jika tak ada kalian " ucap livia di dekat kevin.
livia tertidur dalam gelisah. kevin dan rania tak meninggalkan livia sendirian, mereka secara bergantian menjaganya.
" yank aku mau ke kantor om vian dulu, ada sesuatu yang harus aku lakukan. " kevin berbisik ke rania sambil mencium kening kekasihnya.
" kamu hati hatinya. ... mereka jahat sekali yank, kamu harus waspada" rania memeluk kevin saat akan pergi.
***
kevin yang kini berada di perusahaan ayah livia di temani alex asisten yang selama ini membantunya di saat ia menjalankan perusahan papanya.
kevin nampak emosi dengan hasil yang telah di akuisi perusahaan ayah livia. kini seseorang telat memanfaatkan posisi ayah livia hingga merebut perusahaannya.
bahkan kondisi saat ini bank harus menyita seluruh aset milik keluarga livia.
ia tak bisa melawan orang itu karna kekuasaannya bukan tandingannya. kini kevin binggung harus bagaimana menjelaskan kepada livia. ia merasa tak berguna saat ini, tak bisa berbuat apa pun untuk sahabatnya.
kini kevin duduk di hadapan livia. mau tak mau ia harus menyampakan berita ini.
" vii... tolong dengarkan aku "
" ada apa vin., ??"
" aku tak bisa menyelamatkan perusahaan ayahmu "
" maksudnya vin.... "
hela aan nafas panjang kevin tarik perlahan. sedikit tak sanggup menyampaikannya.
" perusahan ayahmu sudah pindah kepemilikan vi.. " kevin mulai menceritakan setiap apa yang terjadi selama ini dengan ayahnya.
" dan kamu harus mengosongkan rumah itu vi, hanya 3 hari waktu yang di berikan untuk mu "