
***
PT KA sandara
langkah kaki yang tegas dan sorot mata tajam dan penuh amarah, seketika membuat karyawan merinding ketakutan, para karyawan menundukkan kepalanya tanda hormat saat melihat tuan nya melintasi mereka.
"braaak.. "
suara dobrakan pintu terdengar sangat memekikan telinga asistennya yang sedari tadi mengikuti langkahnya.
" bagaimana kau bisa melewatkan info sepenting itu dave" ucapnya marah.
pandangannya menusuk tertuju pada dave asistennya.
dave pun tak berani untuk menatap kemarahan bosnya itu.
" maaf bos, saya baru mendengar info itu saat kejadian tadi bos" ucap dave berusaha setenang mungkin.
kai pun tak menerima alasan yang di beri dave, kai melangkah kearah dave.
" beri 1 alasan yang tepat dave " ucapnya menatap tajam dave.
kai pun kembali menuju kursi kebesarannya.
ia memejamkan matanya, berusaha meredam emosi nya agar tak melukai dave asistennya.
" nona memakai benda itu sebelum anda mengenalnya tuan. maka dari itu kita tak mengetaui nya " penjelasan dave setenang mungkin.
" pergilah dave" ucap kai menahan gejolak nya.
dave pun meninggalkan bosnya menuju ruang kerjanya.
" sekacau itu kah dirimu saat kehilangan benda itu. kenapa vii?? ucapnya memandang foto gadisnya dimeja kerjanya.
kai merasakan amarahnya saat mendengar dave berkata bahwa benda itu pemberian orang lain di masalalu livia.
awalnya kai binggung kenapa gadis nya dalam keadaan kacau saat ia menemuinya, dan kemudian begitu kegirangan saat kai memberikan benda yang ia temukan.
jam pun menunjukkan pukul 7malam. kai memutuskan untuk pulang namun langkahnya terhenti saat telp pun berbunyi di depan nya dan segera di angkat lah gagang telp itu.
" bos.. apa kau sudah tenang sekarang" dave menanyakan keadannya.
" hmmm " ucap kai dan menutup telp sepihak.
di urungkan nya keinginan kai untuk pulang.
tak lama pintu terbuka tanpa di ketuk oleh dave.
" perbaiki kebiasaan mu itu dave " kesal kai melihat dave masuk dengan seenaknya.
dave menyengirkan senyumanya.
" maaf bos, ini mendesak. " ucap dave.
kai menatap tajam penuh keangkuhan.
kai menatap tiap lembar dokumen itu. iya mengerutkan dahinya .
" kau bisa memperbaikinya dave " ucapnya tegas.
" tapi kau juga harus ikut bertindak bos, mereka akan lebih menderita melihat kehadiran the lion. " ucap dave dengan senyuman devilnya.
" kau urus dulu dave. klo mereka tetep bungkam aku yang bertindak. " ucap kai penuh kilatan amarah.
" akan ku hancurkan siapapun yang mengangguku" ucapkai tegas.
***
seminggu kemudian.
" vii kau liat chat di grub sma kan?? " tanya rania saat mereka berdua di sebuah cafe.
" hemmmb" livia.
" besok kau akan datang???" tanya rania sambil menikmati choco tea nya.
" ntahlah !!" seru livia.
" kita bisa datang bersama jika kau mau vi " ajak rania.
" apa aku harus hadir? " tanya livia lirih.
mereka terdiam.. sampai kedatangan kevin mengagetkan mereka.
" heee kenapa ngelamun aja si" ucap kevin sambil duduk di dekat kekasihnya.
tak ada jawaban hanya senyuman yang livia torehkan.
" kenapa yank?? " bisik kevin ke rania.
rania mengelengkan kepalanya. seolah enggan untuk menjawab.
kevin pun menyairkan suasana.
" gays besok kita ke reuni barengan aja aku jemput ya " ucapnya senyum senyum.
rania menyikut lengan kevin.
kevin pun seolah mulai paham akan keterdiaman 2 gadis itu sedari tadi.
" kalian tenang aja oke, dan kamu vi harus datang, " ucap kevin meyakinkan.
" baiklah besok jemput aku yah " livia berdiri untuk pulang lebih dulu.
" kalian nikmati waktu kalian berdua, aku pulang dulu guys , oke " sambil mengedipkan matanya dan tersenyum ke arah dua sejoli itu.
" bye bye.. see you tomorrow" pamit nya.
***