Is'T Love Story

Is'T Love Story
panik



suara berbisik di sepanjang jalan yang di lewati dua pria tamu penting. tatapan nya datar namun tak mengurangi ketampannya.


" wah lihat laah, tuan muda berjalan ke arah kita "


" tampan nyaaa... aku mw jadi istri nya. "


" jadi selingkuhan nya aja aku juga mau. "


" wajar datarnya aja ganteng banget, apalagi klo tersenyum. "


ucapan mahasiswi yang berada di sana, dan masih banyak lagii keriuhan lain nya.


sesaat pria wajah tampan dan gagah itu menghentikan langkahnya saat melihat ke arah 3 kawan yang sedang bercanda ria. sedikit senyuman di sudut bibir seksinya penuh makna. bergegas mereka berjalan kembali untuk memasuki ruangan yang sejak tadi di sediakan untuknya.


***


di taman


terlihat seorang gadis yang sedang bercanda dengan dua sahabatnya.


" yank besok weekend jalan yuk, ada yang mw aku beli " ucap nya rania sambil menatap kevin.


" kemana yank???" jawab kevin.


" ke toko a sekalian ke mall yuk! " ajaknya.


" via ikut juga yaa " ajak rania melihat livia.


" gak deh.. aku pingin di rumah ajaa! " tolak livia.


" wah gak asik ni " ucap rania cemberut.


" kalian kan butuh waktu berdua. aku tak mau trus jadi obat nyamuk kalian " tolak livia dengan senyuman nya.


" vii... jangan bilang seperti itu. ucap nya kedua kekasih itu hampir bersamaan.


livia terkekeh melihat kedua sahabatnya itu.


" aku bercanda, kalian aja yang jalan, aku pingin rebahan aja di rumah " ucapnya dengan senyuman manisnya.


saat asiik saling bergurau, livia bangun dari duduknya, ia tersadar telah kehilangan sesuatu, hingga membuat kevin dan rania kaget melihatnya.


" ran viin.... " ucap nya sambil memegang tangan nya.


wajahnya seketika gelisah pucat kebinggungan.


" apaan si vii ngangetin aja" ucap kevin kaget.


" gelang ku... " kata livia. mata nya mulai sedikit berkaca kaca takut.


" gelang ku... kalian liat gak, " tanya livia


" tadi pagi aku masih melihat kamu memakainya vii" ucap rania sambil mengingat ingat.


" mungkin jatuh di sekitan sini" ucap kevin mencoba menenangkan livia saat panik.


livia menunduk kan pandangan mencari di sekitaran mereka duduk dan kevin mencari di atas meja dan tas livia. sedangkan si rania mulai meneliris sekitaran mereka.


" di mana ya tuhann... " ucap livia panik.


matanya berkaca kaca.


" tenanglah kita cari di mobil loo siapa tau jatuh di sana." ucap kevin menenangkan..


livia segera berlari ke arah parkiran mobilnya.sesampainya di sana di buka lah mobilnya, ia mencoba mencari di semua bagian namun tak ketemu.


ia menutup lagi mobil itu bersamaan rania dan kevin yang menuju ke arahnya.


" gak ada vin... di mana lagi! " ucapnya dengan sedikit tetesan air mata.


" kantin... tadi kita kekantinkan. " sahut rania.


mereka bergegas ke kantin untuk mencarinya.


lama mereka menjelajahi kantin yang cukup luas namun nihil, tak ada barang yang iya cari.


sejenak mereka ter engah engah dalam pencarian nya.


" apa mungkin sudah ada yang mengambilnya saat gelang itu jatuh" pikir rania.


seketika tubuh livia lemas dan menduduk kan tubuhnya di kursi samping nya.


livia terdiam. menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya..


" vii tenang dulu, mungkin jatuh di tempat lain"


" kita cari di sepanjang jalan menuju aula. oke tenanglah " ucap kevin.


mereka segera melakukan apa yang di ucapkan pria itu. perlahan dan meneliti setiap sudut. tampak wajak livia yang sedikit kacau dan panik.


mereka sampai memasuki aula yang tadi mereka datangi, menuju tempat yang mereka duduki. kevin segera berjongkok untuk mengecek sisi bawah kolong kursi.


kevin mengelengkan kepala ke arah livia, menandakan tak menemukannya, begitu pun juga rania yang ikut mencari di sekitarnya.


***