
#bagimana jadinya jika kita di pertemukan untuk saling menyayangi namun perbedaan yang menghalangi#
.
suasana kantin hari ini cukup ramai, meja yang di sediakan pun hampir semuanya sudah terisi. tak jauh dari meja yang diduduki olivia dengan sahabatnya, terlihat pemandangan yang membuat hati olivia panas sepanas terik matahari di siang ini.
rania trus mengajak olivia berbicara,namun tak ada satu pun yang olivia jawab dan dengan. karna saat ini ia menatap tajam ke arah meja di kejahuan nmun masih terjangkan dari pandangan nya.
rania memangil manggil livia namun tak ada jawaban, hingga rania pun iku terarah ke tujuan mata livia.
rania: oww pantesan aku ngomong smpek berbusa pun tak bakalan di dengerin. rania berkata dengan manyun manyun bibirnya.
livia pun berdiri dari duduk nya, namun tetap dengan pandang tajam nya yang di tunjukan ke seseorang.
livia: aku duluan ran.
livia pergi tanda menunggu jawaban dari rania. rania pun meninggalkan acara makan yang belum terselesai kan untuk mengejar livia.
rania terburu buru dengan memanggil nama sahabatnya.
rania: ...liii... liviiiaaaaa tunggu. seru nya
sambil ngosngosan mengejar livia, akhir nya rania bisa menyeimbangkan langkan nya dengan livia.
rania: pelan dong viii, jangan buru buru.
livia tetep melangkan menuju ke kelasnya.
livia duduk kan tubuhnya di kursi.
rania yang melihat ke adaan sahabatnya tak berani untuk berbicara lagi, karna kediaman livia . lebih baik membiarkan livia tenang dulu baru di ajak bicara, pikir rania.
tak lama pun billy memasuki kelas, iya menuju kursi tepat di belakang livia yang memang itu kursi yang ia tempati.
ia pun mulai menoel noel pundak livia, namun tak di gubris oleh gadis itu.
livia seakan tak menggangan keberadaan nya.
tatapan billy ke arah rania seakan meminta jawaban atas sikap diam olivia, nmun rania hanya mengidikan bahu nya. se akan tak ingin ikut campur dengan masalah mereka.
billy masih belum sadar dengan ke lakuan livia cuek terhadapnya.
billy: li.. kamu kenapa, sakit, apanya yang sakit.
livia: ran aku duluan, sapany ke pada rania.tanpa menjawab pertanyaan billy terhadap nya
billy pun tak habis akal. iya mengikuti livia dari belakang, hingga livia risik karna di ikutin terus oleh nya.
saat livia menoleh ke arahnya untuk menenggurnya, nmun iya urungkan karna dari jauh ia melihan merry menuju ke arah billy dengan memanggil manggil nama billy.
livia urungkan untuk berbicara ia berbalik lalu bergegas untuk pulang ke rumahnya.
livia terasa lelah menunggu, karna jemputannya tak kunjung datang. peluh keringat mulai membasai dahinya. billy melihat livia saat sedng mendarai sepeda motornya. ia ingin mengjak livia untuk pulang bareng dengan nya, ia hentikan motor nya tepat di dpan livia. terlihat livia mengernyitkan dahinya heran siapa yang ada di depan nya, karna billy saat ini sedng memakai helm tropong nya,
billy lepas perlahan penutup kepalanya.
billy: ayook ku antar...
tak ada jawaban dari livia. namun billy buru buru turun dari motornya. tepat di depan livia iya menarik tangan livia
billy: ikut aku,, billy tetap memaksa livia agar ikut dengan nya mesti livia selalu meronta ronta.
billy bawa livia ke atap sekolah di dudukan kan livia di bangku yang tidak terpakai. livia hanya menurut saja sambil menunduk kan wajah nya.
selang beberapa lama dengan ke heningan. billy mulai ber suara.
billy: lii... kamu marah??? tanya nya sambil memegang pundak gadis itu.
livia: ....... "livia terdiam sejenak " . ngak bil. jawab nya sambil menunduk untuk menghindari tatapan mata billy.
billy: lalu kenapa kamu menghindari ku.
livia: mungkin aku cuma lelah..
billy menjongkok kan badan nya agar tapan melihat raut wajah gadisnya.
.
.
.