Is'T Love Story

Is'T Love Story
kehilangan



kevin membantu livia di rumahnya untuk berberes. saat livia sudah mengambil barang barang yang ia kira nya masih berharga untuknya. Livia duduk di temani kevin di hadapan bi ina dan supir ayahnya.


" bii pak.. maafkan keluarga livia jika selama ini selalu merepotkan kalian. "


" non via tak usah seperti itu. kami sudah menganggap non keluarga kami sendiri "


" maaf jika aku tak bisa bersama kalian lagi. tolong terima ini ada sedikit uang untuk bapak dan bibi sekeluarga"


" tidak non.. ini untuk non via aja. kami sudah di beri tuan waktu itu. " tolak pak supir.


" tidak pak tolong terima ini. ini hak kalian "


" tolong terima ya bii... "


" non makasih yaa. maaf kami tak bisa membantu non lagi. jika non butuh kami ada di kampung. non bisa datang menemui kami "


" baiklah bi.. trima kasih untuk selama ini sudah merawat ku sedari kecil " ucap livia sambil memeluknya.


seperginya pak dan bi ana kini tinggal kevin dan livia duduk termenung.


" vii kamu sementara bisa tinggal di rumahku atau rania" tawar kevin.


" vin bagaimana aku bicara ke mama "


" aku akan membantu mu berbicara. "


" viiin.... hiks aku gak tau klo gak ada kalian. hiks hiks. apa yang akan aku lakukan. " tangis livia pecah. yang sedari tadi ia tahan.


" kau bisa menangis di sini ... aku takan melihatnya " kevin seperti biasa ia selalu meminjamkan bahunya untuk sahabatnya. kevin mengambil jaket yang sedari tadi ia lepas, kini ia tutupi wajah livia yang terisak di bahunya.


itulah kebiasaan livia. ia tak kan mampu menangis keras jika masih ada yang melihatnya. ia selalu menutupi wajahnya saat tak tahan dengan kesedihannya.


***


di rumah sakit. kondisi mama semakin memprihatinkan. kini mama bahkan tak mampu membuka matanya. jantungnya melemah.


" gimana aku harus bilang " ucap livia pilu.


" tapi mama.. "


" biar tante istirahat vii.. ayo" ajak kevin dan rania.


mereka bertiga berjalan beriringan menuju tempat makan yang di depan rumah sakit.


walau livia tak napsu makan. rania tetep mencoba agar livia menghabiskan makanannya. mereka cemas takut jika lambung livia sakit lagi.


" iya iya aku habisin. kalian bawel banget " ucap livia mencoba tersenyum.


30 menit mereka habiskan untuk mengisi perutnya. mereka kembali untuk menemui mama livia. namun langkah mereka terhalang dengan dokter dan suster yang berlari melewati mereka saat hendak menuju tempat mamanya.


livia panik ia ikut berlali mengikuti dokter yang berlari menuju kamar mamanya.


" mamaa.... " livia tak kuasa melihat dokter yang mencoba mengembalikan detak jantung mama yang terhenti.


" maaf nona tunggu di sini. biar dokter yang menangani " ucap salah satu suster.


" vin mama viin... "


ucap nya di dekapan kevin menangis.. rania yang tak kuasa ikut meneteskan air matanya memeluk sahabatnya.


" tenanglah vi.. tante pasti baik baik saja. "


terdengar suara monitor yang datar menandakan jantung tak lagi berdetak.


" maaf nona, kami sudah berusaha" ucap dokter di hadapan livia.


" mamaaaaaa...... jangan pergi maa.hiks aku tak mau sendirian maa.. mama kembali lah hiks hiks ma" ucap livia memeluk tubuh mamanya.


mama livia telah meninggal setelah kepergian ayah livia. kini livia tak mampu lagi berdiri. ia tak mampu untuk menatap arah, kesadaran nya mulai hilang.


kevin yang siap di depan livia membopong tubuh livia untuk ia baringkan di sofa. semua proses pemakaman mama livia, kevin yang urus. ia kini harus bisa menjaga sahabatnya untuk kembali semangat berjuang untuk masa depannya.


rania tak henti hentinya memberikan pengertian, perhatian untuk livia. untuk sementara livia tinggal di rumah rania. rania memang memaksa livia untuk tinggal di rumahnya. ia ingin menjaga livia, rania tak mau livia melakukan sesuatu pada dirinya yang saat ini hidup sendiri.