
Usai Bita diperbolehkan keluar dari rumah sakit, seluruh keluarga menyambut antusias anggota keluarga baru mereka.
"Arfa sayang!" seru Azza lebih dulu menghampiri Bita dibandingkan yang lainnya. Gadis itu sangat gemas dengan wajah tembam Arfa.
"Huh, kenapa lebih banyak mirip kak Al," protes Azza memandang lekat wajah Arfa, sontak ayah dari bayi mungil itu menatapnya tajam.
"Emang kenapa kalau nggak mirip gue?"
"Yah, bosen liatnya kak. Sesekali mirip gue gitu, biar gue bisa liat oh ternyata waktu gue bayi seimut ini." celotehnya.
"Jangan, yang ada entar keponakan gue muka dua lagi. Gue nggak mau keponakan gue terkontaminasi dengan lo." sela Sam menghampiri mereka.
"Sialan Lo kak, Lo kira gue bakteri huh?"
"Oh paham juga Lo bahasa medis ya, gue kira Lo rada-rada bego." cibir Sam.
"Cih, Lo sombong amat jadi anak kedokteran. daripada Lo ceramahin gue kak mending lo pelajari tuh organ-organ. Pas lo jadi dokter besok, nggak salah periksa!" ledeknya sambil menjulurkan lidah.
"Dasar sialan, lo mentang-mentang udah direstuin senangnya bukan main. Udah ah, gue pergi dulu!"
"Lo nggak mau liat Arfa dulu kak?" tanya Azza melihat kakaknya mengambil kunci mobil digantungkan.
"Nanti aja, kalau liat sekarang gue nggak bakalan dapat juga. Bye kak Bita selamat udah jadi ibu," ucapnya melenggang keluar rumah.
Bita mengangguk tersenyum lalu memandang anak yang berada didalam pelukannya saat ini. "Selamat datang nak,"
"Bita bawa Arfa istirahat dulu, kamu juga. Nggak usah banyak gerak dulu. Al, antar istri kamu ke kamar!" pinta Haura membawa barang-barang yang lain. Alze mengangguk pelan, lalu mengajak istri dan anaknya kedalam kamar.
"Anak kita lebih banyak mirip kamu," ucap Bita terkekeh melihat wajah mungil Arfa.
"Dia juga mirip kamu Bit, liat aja bibirnya tuh,"
"Hahaha iya, mirip banget sama aku. Aduh sayang mama gemas liatnya," gemas Bita mencium wajah anaknya.
"Kamu mau kemana Al?" tanya Bita melihat suaminya hendak keluar.
"Aku mau ke kantorku sebentar," pamitnya sambil mencium kening Bita dan Arfa.
"Okee hati-hati," ucap Bita sambil menyalami punggung tangan suaminya.
"Aku pergi dulu."
Setelah melihat Alze pergi, ia pun merebahkan tubuhnya disamping anaknya. Tidak bosan ia memandang bayi mungil itu. "Kamu sangat menggemaskan nak,"
Mata Bita tertuju kearah pintu yang baru saja dibuka oleh Haura. Haura menghampirinya dengan tersenyum tipis. "Lucu kali cucu mama," gemasnya duduk disamping Arfa. Bita mengubah posisinya duduk, ia pun tersenyum pada mama mertuanya.
"Gimana rasanya jadi ibu?" tanya Haura menatap Bita.
"Lumayan sulit Ma, kadang aku agak termor gendong Arfa karena masih mungil kayak jeli,"
Haura terkekeh pelan. "Lama-lama kamu bakalan terbiasa juga kok Nak, Arfa mirip banget sama Alze yaa,"
"Ya kan Maa, aku aja sampai iri dengannya karena cuma kebagian bibir doang,"
"Hahahaha, ini cucu Mama bakalan jadi rebutan kaum hawa nih,"
"Iyaa, semoga aja nggak nakal dia Ma. Aku nggak tau harus bagaimana kedepannya,"
"Tenang, Mama dulu waktu mengandung Alze, Mama juga bingung cara ngasuh yang baik. Tapi perlahan-lahan kita akan belajar dan jadi terbiasa. Mama yakin kamu bisa Nak,"
"Andai Ayah sama Ibu ada disini, mereka pasti senang."
"Mereka pasti senang Nak diatas sana, melihat kamu tumbuh jadi wanita yang luar biasa. Jadi kamu harus semangat dan kuat, okee?"
Bita mengangguk lalu memeluk Haura dengan sayang. "Makasih udah menerimaku di keluarga ini Ma."
"Haiss nih anak, padahalkam Mama udah berulang kali bilang, kamu ada disini karna Alze dan karna kamu keluarga ini terlihat hidup."
***
Mata Bita tidak bisa terpejam semalaman, tangisan anaknya selalu menggema setiap beberapa jam setelah ia tenangkan. Dan kali ini Arfa kembali menangis lagi, membuat Bita dengan sabar menggedong putranya itu sambil menenangkannya.
Walaupun begitu, Bita tetap dengan kasih sayangnya ia menjaga putranya sampai tertidur pulas. Wanita itu terkejut saat melihat Alze bangun dari tempat tidurnya dan menoleh kearahnya. "Apa dia bangun lagi?" tanyanya sambil mengucek matanya.
Bita mengangguk pelan. "Maaf ganggu kamu tidur sayang, mending kamu lanjut aja lagi tidurnya," Alze menggeleng pelan, Bita melirik kearah Alze yang ia kira pria itu ingin beranjak ke kamar mandi, ternyata pria itu malah bersandar di punggung Bita. Bita tertegun melihat suaminya menopang tubuhnya agar nyaman.
"Aku nggak bisa menenangkan dia dengan baik, jadi hanya ini yang bisa kulakukan," gumam Alze sedangkan Bita dibelakangnya terkekeh pelan.
"Ini saja sudah cukup Al, makasih." Ia terharu dengan perhatian suaminya, memang kecil tetapi ini sangat bermakna untuknya.
"Anak kita masih belum tidur?" tanya Alze pelan.
"Belum, dia masih terjaga,"
"Hmm, Mama pasti dulu bergadang kayak gini juga,"
"Iyaa, setiap ibu pasti seperti ini kok Al, tapi mereka nggak ada ngeluh untuk anaknya. Ah, aku masih ingat banget waktu kita menikah dulu, kamu narik aku ke pelaminan,"
Alze terkekeh. "Kenapa? Nggak suka?"
"Iyalah nggak suka, mana ada orang dipaksa nikah gitu. Aku aja belum sempat menarik napas, kamu udah siap ijab qabul aja," ocehnya.
"Udahlah, kan udah terjadi juga. Kalau kita nggak bersama, Arfa nggak bakalan ada disini," ucap Alze santai sambil memejamkan matanya.
Bita mengangguk pelan, benar pasti ada alasan semua kenapa ia bisa menjadi istrinya Alze. Semua ini diluar rencananya. Rencana untuk menikah, tidak pernah terpikir olehnya waktu itu, karena dirinya ingin fokus mengejar cita-citanya. Namun, semua itu berubah setelah bertemu dengan pria dibelakangnya ini.
***
Haura menggedong Arfa menuju kampus Alze dan Bita. Hari ini kedua orang tua Arfa itu merayakan kelulusan mereka menamatkan pendidikan di kampusnya. Semua memakai baju toga siap-siap untuk dipanggil kedepan mengambil ijazah kelulusan mereka.
Tampak senyum merekah dari kedua wajah suami istri yang selalu menjadi sorotan kampus. Mereka bergandengan tangan menunggu nama mereka dipanggil, begitu juga dengan sahabat-sahabat mereka.
"Anggi sini!" teriak Bita saat melihat Anggi celingak-celinguk mencari mereka, Anggi tersenyum lebar melambaikan tangannya kearah Bita sambil berlari kearahnya.
"Ngapa lambat? Molor?" ledek Bita menatap sahabatnya.
"Cih, tau aja. Gue bergadang nonton drakor semalam, sumpah nagih!"
"Idih, udah tau hari ini wisuda, Lo masih bisa-bisanya bergadang." ejek Alze.
"Iya dong, gue ingin happy setelah otak gue terkuras agar bisa sampai saat ini. Eh, itu bukannya nyokap lo Al?" tanya Anggi melihat Haura dan Deon baru masuk kedalam ruangan. Sontak keduanya menoleh kearah belakang.
"Mama sama Papa duduk disana dulu, nanti kita susulin aja." ucap Alze langsung dianggukan Bita. Mereka duduk dengan rapi sambil menunggu nama mereka dipanggil kedepan.
"Yuhuuu, Bita, Al sini foto!!" seru Anggi setelah mereka semua mendapatkan ijazah mereka. Alse langsung menarik tangan Bita menuju tempat Anggi bersama dengan yang lainnya.
"Ayoo kita foto bareng, eh minta tolong ajalah sama yang lain," seru Anggi celingak-celinguk mencari orang yang sukarela memotret mereka. Lalu ia tersenyum seringai saat melihat Sam yang baru saja datang ke kampus.
"Nah, tuh orang yang bisa jadi tukang foto!" tunjuknya kearah Sam. Mereka semua sontak menoleh kearah Sam.
"Cih, sialan lo. Gue bukan tukang foto," gerutu Sam lalu melirik kearah tukang foto yang tak jauh dari sana. Ia pun menarik tangan tukang foto itu, "Mas, tolong foto keluarga kami."
Mereka semua mengambil posisi, bahkan Algha pun turut hadir wisuda calon kakak iparnya. Sam menarik tangan Anggi mendekat kearahnya, gadis itu langsung melotot kearahnya.
"Okee senyum...satu, dua,tigaaa!"
Cekrek.
*
*
*
~End~
Yuhuu akhirnya tamat jugaa... terimakasih semuanya yang masih setia membaca Bita dan Alze sampai tamat, tanpa dukungan kalian mungkin aku agak kesusahan menamatkan ceritanya. Well, ceritanya ringan dan sedikit konflik, semoga kalian menikmatinya yaa.
Nah, aku mau tau dong kesan dan kritiknya, agar kedepannya aku bakalan nulis lebih baik lagi tapi dengan bahasa yang sopan yaa🤗
Sebentar lagi novel baruku bakalan launching, You Belong With Me!, tentang kisah Anggi dan Sam😆 ditunggu yaa, sekali lagi makasih banyak...