
"Al,senyum dong!" gerutu Bita memandang suaminya terlihat kusut,padahal ia tadi malam sudah memberikan apapun yang pria itu minta dan pagi ini ia malah menatap suaminya dengan wajah yang tidak sedap dipandang.
"masih marah?" tanya Bita mengelus pipi suaminya,sedangkan Alze memalingkan wajahnya tanpa ekspresi sedikit pun.
"ya sudah,kalau nggak mau bicara denganku,aku pergi aja—aakhh." Bita tiba-tiba terhuyung duduk dipangkuan Alze,pria itu menatap tajam kearahnya membuat Bita menelan saliva.
"pertama,jangan pernah mengucapkan kata keramat yang berbau cerai,pisah,putus, pergi segala macam lah aku nggak suka dengarnya. Lalu kedua,temanin aku minta maaf sama mama, Karna aku kemarin membentak mama." lirihnya bercampur kesal. Gara-gara ide konyol istrinya ia mendadak menjadi anak durhaka,bahkan berbicara dengan papanya pun kaku dan tidak ada bercanda.
"lah yang bentak kamu,kok aku ikut andil." protesnya .
Alze mencium bibir cerewet itu sekilas, "kan kamu yang punya ide kayak gini, bisa-bisa ngasih ide yang nggak benar. Kalau kedapatan kamu kayak gini lagi,jangan harap kamu bisa keluar dari kamar!" ancamnya memeluk istrinya yang terlihat berisi itu.
"Al!"
"eh?" Alze mendongak menatap istrinya membuat Bita kebingungan dengan raut suaminya. "kenapa?" tanyanya tiba-tiba,Alze langsung menurunkan Bita ditempat tidur lalu mendekatkan kepalanya kearah perut Bita.
"dia menendang!" serunya tersenyum merekah,bahkan ia mengelus kembali perut Bita.
"ya iyalah dia menendang,toh dia punya kaki Al."
"aku sedang tidak bercanda Bit." ucapnya datar membuat Bita tergelak melihat ekspresinya. Sepertinya Alze sudah kapok dikerjai Bita,sehingga pria itu tidak terlalu menganggap serius mendengar candaannya lagi.
"hehehehe, bercanda sayang. Jangan cemberut lagi dong." gemasnya mencubit hidung mancung Alze.
"dia menendang lagi Bit!" pekiknya senang,ia bahkan tidak peduli dengan suara gedoran yang terus memekak telinga Bita. "Al,Sam terus menggedor pintu tuh!"
"Ck,kenapa titisan iblis tuh gangguin orang pagi-pagi. Dia tuh emang nggak bisa liat orang lain senang apa!" gerutunya berjalan dengan langkah lebar kearah pintu,dengan kasar ia membuka pintu dan langsung menjitak kepala Sam.
"woi sialan,gue udah baik bangunin kalian,malah ini balasannya!" kesalnya memegang keningnya.
"cepatlah keluar jangan mengurung terus,tuh kasian istri Lo capek,kak Bit kalau dia minta jatah jangan kas— kabuuur!!" Pekik Sam berlari kencang sebelum Alze melempar sendal kearahnya.
"dasar adek nggak ada akhlak,sayang jangan dengarin titisan iblis yaa." ucapnya cemas memandang istrinya. Ia tidak ingin malam ini harus merana kalau gagal mendapat asupan bergizi.
Awas aja Lo Sam!
Bita menggeleng pelan,terkekeh melihat ekspresi Alze yang lagi-lagi selalu menarik perhatiannya,ia berjalan pelan kearah suaminya sambil mengecup pipi Alze.
"udah...udah,yok kita ke meja makan. Aku yakin mereka nungguin kita." ajaknya sambil menggandeng tangan Alze ketempat meja makan.
"kan gini enak suasananya,adem ini nggak kemarin tuh dah kayak dipasar aja ributnya!" gerutu Deon menyantap makanannya. Jika semuanya sudah mengetahui rencana konyol Bita lain halnya dengan Deon yang selalu sibuk mengurus meeting kerjanya sehingga tidak tahu menahu soal ini. Apalagi,ia jadi sempat perang dingin dengan Alze lantaran,anak sulungnya itu membentak wanita yang ia sangat ia cintai.
"sorry pa,hehehe." cengir Bita merasa tidak enak dengan papa mertuanya. Bagaimanapun juga setelah dipikir-pikir idenya cukup keterlaluan sih.
"malahan mama suka dengan idenya,hampir aja papa merusak suasana." Haura cemberut dengan suaminya, beruntung ia mengambil langkah cepat sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.
"aku tidak tau sayang,kalau kalian cuma bercanda. Hampir aja aku nampar dia, karena kurang ajar." seru Deon menunjuk kearah Alze.
Alze menatap datar kearah istrinya,sedangkan Bita hanya cengegesan menatap Alze. Suasana mereka kembali seperti semula,dimana banyak canda tawanya berselingan mereka makan.
"aw." ucap Bita tiba-tiba meringis memegang perutnya. Alze sontak cemas menoleh kearahnya, "kenapa? kenapa?"
"apa Lo mau lahiran kak?" tanya Azza tiba-tiba membuat semuanya menoleh kearah Azza.
"aku tau kok,tapi kan ada yang prematur juga!"
"sssh,dia bukan mau keluar tapi menendang." lirih Bita memegang perutnya.
"bukannya setiap hari dia menendang kak?" tanya Azza karena sudah tahu kebiasaan calon keponakannya itu.
"iyaa tapi yang ini lebih kuat lagi." gumamnya sedikit merasa reda saat tangan Alze mengelus perutnya.
"sepertinya,dia ingin menyelamatkan papanya dari ocehan semuanya hahahaha." gelak Bita membuat semuanya terkekeh gemas.
"syukurlah,tapi kita harus tetap waspada dalam beberapa bulan nih. Bita nggak boleh sendirian dirumah." ucap Haura,ia sudah memikirkan panjang kedepannya akan seperti apa nantinya jika Bita tidak ditemani oleh siapapun. Beruntung saat ini bisnisnya sedang berjalan baik sehingga ia bisa menghabiskan waktunya untuk menemani menantu kesayangannya itu.
"kita bagi jadwal!" seru Haura mengeluarkan kertas jadwal yang sudah ia susun.
"mama gercep lagi!" seru Sam langsung duduk ditempatnya,begitu juga dengan yang lain.
"mama mau menyelesaikan semuanya dalam Minggu ini,jadi salah satu dari kalian harus ada yang menemani Bita kecuali papa!"
"kok?"
"jangan protes,kalau kamu sama Bita entar dikira Bita istri kedua. Mama nggak mau dengar gosip tetangga sebelah yang tidak-tidak. Jadi,papa tetap kerja seperti biasa."
"lah aku maa,nggak mungkin kan nemanin kak Bita seharian,nanti dikira aku suaminya lagi!"
Alze langsung menatap tajam kearah Sam, "apa? kan benar yang gue bilang." seru Sam tidak mau kalah.
"nggak ada yang bakalan percaya kalau kamu menikah Sam, para tetangga kita sudah tau kamu itu suka gonta-ganti pacar,jadi mereka udah anggap kamu hal biasa!" seru Haura.
"Mak,hilang sudah harga diriku disini. Kalau aku menikah besok,pasti banyak yang nggak percaya."
"jelaslah,orang kamu suka gonta-ganti pacar. Manalagi waktunya berdekatan pula putusnya,untung saja tetangga kita nggak ada yang gosip miring tetang kamu." cerocosnya lagi.
"emang gosip kayak mana ma?"
"ck,apalagi kalau bukan berhubungan diluar nikah!" gemas Haura menatap Sam.
"gilaa,aku nggak bakalan sampai kayak gitu juga maa. Aku tau batas kok,nggak mungkin aku bakalan lakuin itu kecuali dengan istriku sendiri. Gila aja kalau sempat mereka kepikiran kayak gitu, lama-lama aku getok juga kepala mereka!" ocehnya panjang lebar.
"makanya jangan pacaran mulu kak,mending Lo ikut kayak kak Al nikah!" Timpal Azza.
"huft...nanti gue pikirkan." lirihnya tiba-tiba. Mereka semua hanya bisa menghela napas,mengerti dengan alasan Sam saat ini.
"sudahlah,mama juga nggak bakalan maksa kamu kok. Saat ini fokus saja dengan pendidikan mu dulu,itu nanti saja pikirkan. Balik lagi ke topik awal,seperti yang mama bilang tadi kita bagi-bagi tugas siapa yang menjaga Bita seharian penuh!"
"maa,kenapa nggak kak Al aja yang menjaga Bita? lagian dia suaminya.".
"heh,gue kerja jugalah. Mau ngasih makan apa anak gue nanti." ketus Alze.
"kerja dimana?" tanya Bita penasaran,selama ini ia tidak tahu menahu pekerjaan yang dilakukan Alze.