
Anggi menatap aneh kearah Bita yang kini senyam-senyum sendiri daritadi. "Lo masih sehat Bit?"
Bita tersadar ia pun langsung menoleh kearah Anggi, "masih kok." elaknya pelan,ia pun memasang tampang datar.
Anggi menghela napas pelan sambil fokus mengendarai mobil menuju suatu tempat. "Lo jangan lupa kalau Lo udah punya suami." ucap Anggi membuat Bita menatapnya tajam.
"itu bukan urusan Lo!" ketus Bita membuat Anggi langsung mengerem mendadak. Ia pun menatap tajam kearah Bita. "kenapa Lo marah ke gue? gue kan cuma memperingati doang!" balas Anggi ketus.
"cih,lagian Lo bukan siapa-siapa gue,gue terpaksa ikutin Lo Karna Lo mau nunjukin suatu yang penting!"
Anggi berdecak kasar, "nggak jadi,Lo buat gue badmood. Lagian yaa Lo tuh harus sadar dengan status Lo sekarang Bit,jangan buta cinta Lo sama Brian!"
Bita terkejut,gadis itu tau nama pria yang ia sukai. "darimana Lo tau nama dia?!" tanyanya menatap curiga.
"Ck,jangan natap gue kayak gitu. Kita satu kelas dulu,Lo pasti nggak nyadar ada gue kan??"
Bita tertegun,ia kembali mengingat satu persatu teman-teman kelasnya. Memang dari dulu,Bita tidak terlalu fokus dan peduli dengan sekitarnya membuat ia sendirian. Apalagi,karena pembulian itu,tidak ada yang berani mendekati Bita.
"suka-suka gue,mau suka Brian atau nggak. Lo jangan campuri urusan gue!" kesalnya hendak membuka pintu mobil.
"Lo lupa kalau Lo itu istrinya Alze huh?!"
"istri paksaan." sahutnya kesal. "Anggi,buka pintunya cepat!!"
"nggak, sebelum Lo sadar gue nggak akan bukain pintunya!" ucap Anggi,ia akan selalu menekan tombol kunci itu setiap Bita berusaha membuka secara paksa pintu mobilnya.
"kenapa nggak Lo aja sih yang nikah sama Alze?!" gerutunya,ia diseret paksa dalam hubungan sakral ini hanya untuk menggantikan gadis disampingnya itu. Entah apa alasannya sampai saat ini Bita juga tidak tahu.
"tanya sama suami Lo sendiri,Karna dia yang buat rencana ini semua. Dan gue nggak mau nikah dengan dia tanpa perasaan cinta." jawab Anggi pelan.
Deg.
"dan Lo ngorbanin gue jadi istri dia??" tanya Bita menatap nanar.
"gue bukan ngorbanin Lo Bit,bukan gue yang milih Lo tapi Alze sendiri." jelas Anggi lagi agar gadis disebelahnya ini mengerti.
"sial!" umpatnya sambil mengusap wajahnya kasar. Ia bingung harus mengatakan apalagi,emosi dan logikanya tidak terkontrol hari ini. Entah apa yang membuat ia demikian melampiaskan ke semua orang termasuk suaminya sendiri.
"maaf,gue kayaknya lagi kacau." lirih Bita langsung keluar dari mobil Anggi dan memberhentikan taksi yang lewat. Ia pun langsung masuk tanpa memperdulikan panggilan Anggi yang terus memanggilnya.
"huft,anak itu!" gerutunya pelan,ia pun langsung menghubungi Alze tentang keadaan Bita hari ini.
***
Disinilah Bita berada termenung sambil melempar batu ditangannya kearah danau. Pikirannya saat ini kacau,ia menyadari dirinya salah karena membuat semua orang menjadi korban pelampiasan amarahnya. Padahal jika dipikirkan lagi,semua ini sudah terlanjur terjadi. Gadis itu kini menyandang status sebagai istrinya Alhambra Zeroun.
Perasaannya yang labil itu tidak boleh membuat rumah tangganya retak. "tapi gue masih belum bisa lupain dia!" geramnya mengacak-acak rambutnya kesal.
"kenapa Lo datang disaat semua ini sudah terjadi Brian?!"
"harusnya Lo nggak usah datang ketempat gue,pergi saja menjauh,biar gue lupain Lo!"
Entah sejak kapan perasan itu tumbuh,yang pastinya ia ingat ketika pria itu menolongnya dari kejaran preman. Ingatan itu masih jelas dibenaknya, betapa kerennya Brian waktu itu menghajar semua lawannya. Ia selalu mengingat dengan baik jasa pria itu didalam memorinya.
Ia selalu memperhatikan aktivitas apa saja yang dilakukan pria itu sehingga apapun yang dilakukannya tetaplah keren dimata Bita. Ia masih bingung saat ini dengan perasaannya apakah perasaannya ini benar-benar mencintainya atau hanya perasaan kagum?
Sesampai dirumah,ia melihat tetangganya bermain dengan temannya. Bita pun menghampiri mereka, "wah kalian main apa tuh?"
"eh mbak dah pulang? ini kami main ular tangga mbak." seru Lila sambil memainkan permainan itu.
"bagus tuh,sekalian belajar hitungan kalian. Jangan curang loh." ucapnya gemas sambil mencubit pipi gembul gadis itu.
"aw sakit mbak,mbak sama aja sama Abang yang tinggal dirumah mbak tuh. Tadi pagi dia juga cubitin pipi Lila!" protes gadis kecil itu. Bita menyerngit bingung,sejak kapan Alze dekat dengan Lila?
"maksud kamu,Abang yang tinggi itu kan?"
"iyaa mbak,yang tampan itu loh." ucap Clara malu-malu.
"hush,anak kecil dah tau aja yang mana tampan."
"hehehehe,itu sih mama yang bilang mbak."
"ya ampun,ya udah kalau gitu mbak pulang dulu yaa."
"okeey daah." seru mereka berdua dibalas lambaian tangan oleh Bita. Baru saja ia melangkahkan kakinya membuka pintu,ia mencium bau gosong dari dalam rumahnya.
Bita langsung membuka pintu dan terkejut mendapati suaminya terbatuk-batuk sambil memegang teflon ditangannya. Ia menganga melihat dapurnya sudah seperti kapal pecah.
Gadis itu tampak khawatir melihat suaminya masih terbatuk-batuk membuatnya langsung menarik Alze darisana menuju keluar agar menghirup udara segar.
"Lo tunggu disini sebentar,gue ambilkan minum." ucap Bita bergegas mengambilkan minum untuk pria itu,ia tertegun melihat masakan suaminya yang terlihat gosong dan tidak layak dimakan.
"cih,kenapa dia masak kalau nggak pandai?!" gerutunya pelan,namun ia terdiam lagi setelah mengetahui pria itu memasak makanan kesukaannya,jelas ada dua piring kosong yang sudah tersaji diatas meja.
Mendengar suara batuk pria itu masih jelas,membuat Bita tersadar dari lamunannya langsung bergegas menghampiri Alze.
"maaf,nih minum dulu!" serunya membantu pria itu. Bita mengelus pelan punggung pria itu agar rileks.
"makasih." ucap pria itu setelah merasa sudah lebih baik,Bita mengangguk pelan,hanya diam menatap suaminya.
Merasa tidak ada jawaban,Alze langsung mendongak kearah Bita yang kini menatapnya intens. "kenapa Lo liat gue? udah terpesona huh?" ucapnya tersenyum miring membuat Bita memukulnya pelan.
"cih, kepedean."
"hmm Lo udah makan belum? gue tadi rencananya mau buatin makanan kesukaan Lo,tapi nggak sesuai ekspektasi seperti yang Lo liat sendiri." ucap Alze menggaruk tengkuknya tidak gatal. Wajar saja dapur itu bagai terkena angin beliung,toh pertama kali ia menyentuh alat masak itu. Syukur -syukur bisa menghidupkan kompor suatu apresiasi yang dibanggakannya sendiri.
Bita tersenyum tipis,terbesit dihatinya rasa bersalah. "maaf yaa tadi pagi gue egois."lirihnya pelan
"kenapa Lo yang minta maaf? harusnya gue yang minta maaf karna tadi yang main kabur gitu aja. Gue salah terlalu mengatur kehidupan Lo jadi terbatas,padahal itu hak Lo juga untuk bebas kemanapun yang Lo mau."
"gue tau Lo masih belum nerima gue jadi suami lo,karna Lo masih suka sama orang lain." ucap Alze pelan sambil tersenyum samar.
"gue juga disini salah memaksa Lo jadi istri gue,tapi gue juga nggak bisa lepasin Lo karna pernikahan ini sudah terjadi. Gue akan tunggu Lo sampai Lo benar-benar nerima gue." ucap Alze tulus.
Benar juga,perasaan tidak boleh dipaksa. Sesuatu yang dipaksa tidak akan bagus hasilnya nanti,tetapi nasi sudah menjadi bubur,ia dan Bita sudah terlanjur terikat dengan janji sakral. Ia kagum dengan Bita yang tidak mengatakan apapun padahal dalam hatinya menjerit menangis. Didepan Haura ia terlihat seperti menantu yang baik membuat Alze semakin menyukainya yang entah sejak kapan perasaan itu muncul.
Bisa jadi jauh sebelum ia menyadari perasaannya,perasaan itu sudah ada bersemayam dihatinya.