
"gini,rilekskan tubuh Lo!" seru Bita langsung diperagakan Anggi, "setelah itu?"
"ish, jangan banyak tanya! cepat rilekskan lagi,"
"rilekskan otot Lo,bayangkan Lo ada ditempat yang paliiiing tenang,paliiing Lo ingin kunjungi. Lo hirup oksigen tuh sebanyak yang Lo mau,tarik napas lewat hidung sekuatnya. Tahan selama tiga detik,lalu hembuskan lewat mulut!" jelas Bita lagi diikuti oleh Anggi.
"gimana? dah tenang?" tanya Bita tetapi hanya gelengan pelan dari Anggi. "gimana gue mau tenang,orang yang dibawah menggonggong trus." tunjuk ya kearah anjing yang setia menunggu kami.
Bita menepuk jidatnya pelan, "bodoh,tulah kan siapa suruh bawa sini?? emang Lo sering kesini huh?" cercanya lagi.
"sering,gue duluan yang ganggu anjingnya." serunya cengegesan.
"astaga Anggiii!!" kesal Bita memandang nanar yang ada dibawahnya. Kalau turun nanti digigit,kalau berdiam diri entah sampai kapan menunggu. Gunakan ponsel? oh tentu sudah jelas tertinggal di mobil,karena Anggi menyuruhnya untuk meninggalkan ponselnya tadi.
"trus kita harus gimana woi?" tanya Bita frustrasi,dirinya tidak ingin lama-lama berada disini. Mata Bita membulat sempurna saat melihat Anggi mengeluarkan ponselnya. "kita telpon." sahutnya santai. Bita terus berusaha meredamkan amarahnya yang mulai bergejolak,ingin rasanya mencekik gadis disebelahnya ini lalu melempar kebawah.
wah sialan nih anak,tadi dia nyuruh gue tinggalin ponsel,eh dia pula yang bawa.
"thanks." jawabnya sambil menutup ponselnya. "kita tunggu aja mereka."
"mereka? siapa yang Lo hubungi huh?" tanya Nita heran.
"liat aja nanti." jawab Anggi santai sambil memainkan ponselnya. Bita hanya bisa mengehendus kesal menunggu orang yang dimaksud Anggi.
Matanya menyipit melihat dua orang berjalan dari ujung sana kearah mereka. Ia pun langsung menyenggol Anggi, "Nggi,mereka siapa?" tanya Bita.
Anggi menoleh lalu tersenyum sumringah sambil melambaikan tangan kearah mereka. "WOII SOS KAMI DISINI!!"
Suara Anggi yang begitu melengking membuat Bita langsung menutup kedua telinganya. "Anggi,nggak usah teriak-teriak!" gerutunya,tetapi Anggi tidak memperdulikan ocehan Bita,ia pun tetap memanggil kedua pria itu.
"astaga Anggi,Lo bisa nggak sih nggak berisik??" seru Bita jengah namun,karena kakinya tidak seimbang membuatnya tergelincir jatuh.
"Bitaaa!!"
Bita menutup matanya bersiap-siap jatuh,namun beberapa detik kemudian tubuhnya tidak bertemu dengan tanah melainkan terasa melayang,ia buka matanya perlahan dan membulat sempurna ia melihat wajah suaminya.
"Anggi..." seru Alze menatap tajam kearah Anggi yang masih bertengger dipohon.
"hehehe,yang penting Bitanya selamat Al." seru Anggi turun dari pohon dengan lincah. Ia seolah-olah sudah beradaptasi dengan lingkungan seperti ini. "Lo ngapain ikut juga Sam? kangen yaa sama gue?" goda Anggi melirik kearah adik Alze, si pria playboy kelas kakap.
"cih,kegeeran banget Lo jadi cewek. Gue kesini karna ada kakak ipar kesayangan gue,gue nggak mau dia kenapa-kenapa." ucap Sam acuh tak acuh,pria itu langsung menghampiri kakak iparnya.
"coba gue periksa!" serunya hendak memegang kaki kakak iparnya,belum tangannya mendarat sang kakak posesifnya langsung memukul tangannya kuat.
Plaak
"nggak usah sentuh istri gue!" serunya menatap tajam. Sam memutar kepalanya jengah, "ya ampun nih bocah makin posesif aja." gerutunya kesal,niatnya ingin membantu karena memang Sam yang mengerti kondisi fisik Bita saat ini. Namun,melihat ada seorang iblis yang menghalangi membuatnya mau tak mau menuruti kemauan iblis itu.
"Lo nggak papa kan Bit?" tanya Alze tampak khawatir,Bita tertegun melihat wajah Alze yang semakin hari semakin tampan.
"kok diam? Lo emangnya nggak papa kan sayang?" tanya Alze lagi membuat pipi Bita memerah.
"idih,gue nikah sama Lo. Gue punya istri kayak Lo mungkin gue menderita trus." tolak Sam mentah-mentah malah membuat Anggi cekikikan pelan.
"nah bagus,supaya Lo nggak gatelan lagi sama ciwi-ciwi jelek sana." timpalnya.
"mereka cantik nggak jelek." protes Sam tidak ingin mantannya dibilang jelek. Walaupun hanya sekedar mengencani tanpa berniat ke jenjang yang lebih serius,setidaknya ia sudah menyeleksi kriteria pacarnya. Kalau suatu saat ia akan bangga menceritakan kepada anak-anaknya,bagaimana dirinya dulu direbut oleh para wanita.
"bela aja terus,biar uang Lo terus diporotin habis!" ketus Anggi.
"udah woi,ya ampun kalau kalian bertemu selalu aja berkelahi." gerutu Bita menatap jengah kearah dua manusia itu.
"bukan gue yang duluan Bit,tapi adek ipar Lo tuh hah. Ngeselin sampai ujung kaki!!" geramnya cemberut.
"apasih,aneh." seru Sam membuat Anggi kesal,gadis itu menggerutu pelan sambil komat-kamit. Sam yang baru saja hendak keluar,langsung ditahan oleh Anggi.
"untung kalian datang ngusir anjingnya,kalau gue agak susah. Paling nggak selesai-selesai tugasnya,mungkin ada tuh sampai malam kami bertengger di pohon."
"nggak ngerti lagi gue sama kalian,lagian ngapain kalian disini??" tanya Sam tidak habis pikir dengan kedua gadis itu. Siapa yang tidak terkejut saat mendengar mereka berada di daerah yang lumayan pelosok dan jauh dari kampus,apalagi mereka hanya berdua tanpa ada laki-laki yang menemani mereka.
"lain kali jangan kayak gini lagi!" tegas Alze menatap istrinya,ia masih was-was mengira Bita dalam cengkraman Brian. Beruntung istrinya tidak kenapa-kenapa.
"Lo jangan bawa Bita ketempat ini lagi Nggi," serunya menatap Anggi. Anggi menghela napas lalu mengangguk pelan. "iyaa,maaf gue mau hibur dia tapi gue buat kalian khawatir."
"akhirnya Lo sa—aaakh!" ringisnya memegang betis kakinya sehabis ditendang Bita. Bita menatap tajam kearah Sam lalu mendongak kearah Anggi.
Sam terkejut melihat reaksi Anggi tidak seperti biasanya,gadis itu terlihat murung dan berusaha menyembunyikan sesuatu yang berat darinya. "apa yang Lo sembun—"
"kak Bit,bisa nggak sih Lo nggak nendang betis gue?!" gerutunya kesal, Bita terus menatapnya tajam tanpa memperdulikan ocehan Sam tadi.
Bita menarik tangan Sam untuk berbicara dua mata dengannya, "Lo jangan kayak gitu nanyanya Sam,kita nggak tau masalah apa yang dihadapi si Anggi sekarang. Tadi dia bilang kesini untuk melupakan masalah yang ingin dia lupakan,itu artinya dia lagi sedih." jelas Bita panjang lebar sambil berbisik. Sam melirik sekilas saat baru menyadari raut wajah gadis itu.
Ada apa dengannya?
Alze langsung memisahkan mereka berdua, ia menarik tangan Bita menjauh dari Sam. "tolong sosial distancing." ucapnya tidak ramah,ia tidak suka melihat kedekatan antara mereka berdua.
"ish kak,kalau cemburu yaa tengok-tengoklah dulu. Aku kan dah bilang nggak bakalan ambil apa yang sudah menjadi milik orang lain." tegas Sam menatap kearah kakaknya.
Anggi tampak mengulum senyum menatap Sam,membuat pria itu langsung menatap tajam kearah Anggi. "kenapa? ada yang lucu huh??" hardiknya.
Anggi terkekeh pelan,baru saja hendak membalas ocehan Sam,ia langsung terdiam saat tidak sengaja melihat seseorang dibalik pohon diujung sana tengah mengintip mereka. Anggi bukan bodoh tidak mengenali pria itu,pria yang membuat Birgitta trauma karena kejadian semalam.
"kenapa?" tanya Bita bingung menatap raut tegang Anggi. Anggi menoleh kearah Bita sambil menggeleng pelan. "ah,nggak papa cuma gue salah liat tadi. Kayaknya disana ada tupai didekat pohon sana!" serunya menunjuk pohon tempat Brian sembunyi saat ini.
Alze dan Sam pun melirik kearah sana,begitu juga dengan Bita yang bingung menatap pohon. "nggak ada tupai pun." seru Bita.
Alze langsung merangkul Bita, "iyaa memang nggak ada tupainya sayang,yok pulang." ucapnya pelan sambil melirik sekilas kearah pohon yang ditunjuk Anggi tadi.
Rupanya Lo nggak kapok-kapok juga Brian. gumamnya dingin,mengetahui siapa orang dibalik pohon itu.