I'M Your Wife

I'M Your Wife
By Your Side



Alze mengumpat kasar berusaha keluar dari kemacetan. Apalagi ditambah,ia tidak melihat lagi mobil Brian didepannya membuat ia semakin khawatir.


"jangan kau sentuh dia Brian brengsek!" umpatnya kesal sambil mengklakson mobil yang menghalangi didepannya. Tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya menatap tajam,yang penting ia harus bisa segera keluar dari kemacetan yang panjang ini.


Alze bernapas lega saat melihat mobil Brian akhirnya terlihat dipandangannya,apalagi saat mobilnya memiliki celah,ia pun langsung memutarkan mobil kearah jalur kosong itu dan melajukan mobilnya mendekati mobil Brian.


Dapat ia lihat Brian dan Bita berjalan masuk kedalam sebuah gedung besar yang ia yakini jika gedung tersebut adalah apartemen.


"Bitaa!!" teriak Alze berlari mengejar mereka,namun terlambat pintu lift itu sudah tertutup. Alze melirik angka di atas lift,lantai yang ingin mereka tuju.


"lantai delapan." gumamnya pelan mengetahui lantai yang mereka tuju,ia pun celingak-celinguk mencari tangga darurat.


"maaf pak,dimana yaa tangga darurat?" tanyanya panik. Satpam tadi langsung menunjuk kearah lorong ujung sana,Alze mengangguk mengerti.


"makasih pak,pak tolong hubungi polisi sekarang juga,dilantai delapan pria itu membawa istri saya!!" teriaknya sambil berlari menuju lorong tangga darurat tanpa menghiraukan panggilan satpam itu yang terus memanggilnya.


Alze langsung menaiki tangga cepat,beruntung karena tinggi ia bisa melewati tiga anak tangga sekaligus. Dalam hatinya berharap istrinya baik-baik saja.


Ya Allah selamatkan istriku.


***


Bruuuk.


Bita dilempar ke kasur dengan kasar,Brian menatapnya sambil tersenyum seringai. "gue dengar Lo suka sama gue kan? gimana kalau kita melakukan itu?" serunya.


Bita menggeleng keras, "LEPASIN GUE BRENGSEK!!" teriaknya marah. Dalam hari itu juga rasa suka Bita pada pria ini berubah menjadi kebencian.


"gue nggak mau disentuh brengsek!" cercanya lagi membuat Brian marah. Ia pun menarik rambut Buta kuat agar gadis itu mendekat kearahnya. "Lo jangan ngelunjak jadi orang,turuti aja apa yang gue mau!" ucapnya,bahkan tangannya mulai mengelus pipi Bita dengan lembut.


Bita langsung merantukkan kepalanya pada kepala Brian,membuat pria itu meringis kesakitan. Dan dikesempatan itu Bita langsung berlari keluar kamar.


"Sialan Bita!!" kesalnya mengejar gadis itu. Bita sambil menahan rasa takutnya,berusaha membuka pintu keluar,namun pintu itu tidak mau terbuka. Tanpa ia sadari jika Brian langsung mengunci pergerakannya.


"Lo nggak bisa lari dari gue Bita sayang." ucapnya lembut kembali mengelus kembali pipi gadis itu.


Bita berusaha sekuat tenaga menepis tangan kekar itu,bahkan ia menggigit agar bisa terlepas dari kungkungan pria itu.


"ssh,sakit!!" cercanya lagi mengejar kelinci yang selalu terlepas darinya itu. Amarahnya memuncak melihat Bita memegang pisau sambil mengacuhkan kearahnya.


"apa yang mau Lo lakuin huh?! mau bunuh gue??" cercanya lagi,ia dapat melihat gadis itu tampak menggigil memegang pisau itu kearahnya.


"jangan mendekat!" hardik Bita menatap tajam kearah Brian. Brian tersenyum remeh kearahnya, "emangnya Lo bisa bunuh gue huh? berani emangnya?" tantangnya tetapi tetap tidak membuat Bita menurunkan pisaunya.


Brian berdecak kasar,lalu menghampiri Bita secara perlahan. "gue bilang jangan mendekat!" cerca gadis itu lagi.


Karena kalah kekuatan,Brian langsung meraih tangan Bita dan melepaskan pisau itu dari gadis itu. Bahkan dengan sengaja ia menyayat tangan Bita biar gadis itu diam.


"Aaakhh!" Bita menampar pipi Brian dnegan tangannya yang satu lagi sambil berlari entah kemana. Pokoknya saat ini ia bersembunyi dulu dari cengkraman pria psikopat itu. Bita mengeluarkan ponselnya dan terus menghubungi suaminya,namun tidak ada kunjung diangkat membuatnya hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan suara didalam lemari pakaian.


"Bita,Lo ada dimana sayang?" tanya Brian berjalan perlahan-lahan masuk kedalam kamarnya,ia tersenyum miring melihat darah yang menetes menunjukkan jalan ketempat gadis itu bersembunyi saat ini.


"Bitaa Lo ada dimana? apa disini?" seru Brian sambil mengecek kolong kasurnya,lalu ia tegak lagi dan melihat sekelilingnya. "ayo dong sayang,jangan sembunyi gini terus dong. ayo keluar sayang." serunya sambil membuka kamar mandi dan tidak menemukan gadis itu. Brian menunduk melihat tetesan darah menuju kearah lemari pakaiannya.


"Lo mau keluar sekarang,atau gue seret Lo keluar??" ancamnya berjalan mendekati lemarinya. Bita yang berada didalam begitu ketakutan melihat Brian berjalan kearahnya.


"hitungan satu,dua,ti—" ucapnya langsung membuka pintu dan menarik Bita keluar. "hehehe kelinci kecil ayo kita main sebentar!" serunya menggedong Bita kearah kasur. Bita terus memberontak tetapi tidak cukup tenaga untuk melawan pria itu.


Rasanya ia ingin menangis keras disini,pria itu mulai menahan tangannya diatas kepala dan mulai membuka kancing kemejanya. "Brian sadar,ibu Lo perempuan,jangan kayak gini." lirih Bita berharap Brian masih memiliki hati nurani. Brian menatap wajah menyedihkan gadis dibawahnya itu hanya tersenyum miring. "ibu? siapa dia? gue nggak kenal namanya ibu didunia ini. Dia sudah lama mati."


"Brian gue mohon jangan lakuin ini..." lirihnya tetapi tetap tidak membuat pria itu berhenti,bahkan kancing kemeja Bita sudah terbuka semua dan menampakkan tubuhnya.


"cantik dan seksi." ucapnya memandang tubuh Bita lekat,Bita menangis kencang,ia memberontak sambil menendang perut Brian hingga pria itu jatuh. Bita langsung buru-buru turun dari kasur,namun sayang pria yang sudah tertutup hati nuraninya kembali mengukungnya. "Lo nggak bisa kemana-mana lagi sayang."


Bita kesal langsung meludahi wajah Brian yang mau mendekati wajahnya. Bita kembali merantukkan kepalanya dengan kepala Brian.


"Bita sialan,kenapa Lo nggak bisa diam sebentar hah?!"


cengkeramannya menekan luka tangan Bita.


"aaakhh,sakiiit!!!" pekiknya meringis. "gue lebih baik mati daripada harus menyerahkan mahkota gue pada Lo!!" hardiknya langsung ditampar Brian.


Plaaak


"dasar wanita murahan,gue dengar Lo itu ayam kampus kan,jadi layani gue!!" serunya tersenyum seringai,pria itu sudah gelap mata.


"ALZEEE!!!" teriaknya berharap secerca harapan jika suaminya datang.


braaak


"brengsek!" umpat seseorang dari pintu luar berlari kearahnya sambil memukul keras pipi Brian hingga jatuh. Tak tanggung-tanggung,Alze yang tersulut emosi melihat Bita menangis apalagi baju atasannya sudah terbuka membuat dirinya menatap tajam dan memukul berkali-kali wajah Brian yang terlihat tidak berdaya.


"sialan,sialan,sialan!!!" kesal Alze sambil terus memukul wajah Brian hingga babak belur. Emosinya melunjak melihat ketidakberdayaan istrinya,apalagi melihat darah segar yang keluar dari tangan istrinya semakin membuatnya menghajar babi buta pria itu.


"kak Alze hentikan!!!" seru Sam yang baru saja tiba bersama dengan Anggi. Anggi langsung menghampiri Bita dan memasang kembali kemeja yang dikenakan gadis itu dan membawa keluar. Sam langsung menarik kakaknya menjauh dari Brian.


"lepaskan gue Sam!!"


"Lo jangan bego kak,Lo mau masuk penjara hah?!"


"dia brengsek Sam!"


"Lo harus tenang kak,kak Bita udah aman sama Anggi. Lo harus tenang jangan emosi membuat Lo kayak gini!" cerca Sam terus menahan kakaknya agar tidak melanjutkannya lagi. Beruntung polisi datang tepat waktu langsung membawa Brian yang tidak berdaya itu ke kantor polisi.


"Sam,dimana Bita?" tanya Alze mencari istrinya. Sam menunjuk kearah luar, "dia sama Ang—" belum sempat Sam ngomong,Kakaknya itu sudah berlari keluar.


"Bitaa!!" teriaknya saat melihat istrinya bersama Anggi hendak menuju mobil. Bita langsung berbalik dan berlari kearah Alze sambil memeluknya erat. "Al,gu-gue takut..." lirihnya menangis lagi.


"tenang,gue ada disini kok." ucapnya menenangkan istrinya,ia bersyukur istrinya kini baik-baik saja.


"aku disini kok,jangan nangis lagi yaa." bujuk Alze terus memenangkan Bita yang terus menangis sesunggukan.