I'M Your Wife

I'M Your Wife
Jaket Milik Alze



Bita bersenandung riang membersihkan cafe sebelum dirinya pulang. Berjoget ria sambil mengepel lantai ditemani musik rock membuat gadis itu semakin semangat bekerja. Tanpa ia menyadari jika daritadi ada seseorang yang tengah menatapnya dari luar cafe dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Gadis itu terus berkutat dengan aktivitasnya,hingga ia tidak sengaja memukul seseorang dibelakangnya dengan menggunakan kain pel ditangannya.


Bugh.


Bola mata Bita melebar sempurna,ia merasa bersalah karena memukul tepat didaerah masa depan pria itu.


"ah maaf,gue nggak sengaja." cicitnya ikut merasakan ngilu yang dirasakan pria itu. Alze meringis menahan rasa sakitnya sambil menatap tajam kearah Bita.


"Lo cewek tapi tenaga Lo kayak buldozer!" gerutunya pelan. Bita menggaruk tengkuknya tidak gatal,"yaaa maaf Lo sih,main kagetin gue dari belakang. Mana nongolnya kayak hantu."


"musik Lo kekencangan bego,gue udah manggil Lo dari tadi." ketus pria itu lalu duduk disalah satu kursi disana. heran dengan kedatangan pria itu,Bita langsung mematikan musiknya lalu berjalan menghampirinya.


"ngapain Lo disini? cafenya udah tutup. Lo bisa datang lagi besok."


"gue kesini bukan untuk cafe,tapi Lo!" sahutnya kesal. Bita terkejut lantas menyelidik penuh curiga kearah Alze.


"kenapa gue? gue ada masalah sama Lo?" tanya Bita bingung. Alze menepuk jidatnya pelan,gadis ini memang tidak tau diuntung. Sudah baik dirinya meminjamkan uang pada gadis itu,tapi gadis itu tidak sekalipun mengingatnya.


"Lo kan punya hutang sama gue." ucapnya penuh tekanan untuk mengingatkan gadis itu.


Braaak.


Bita terkejut tanpa sengaja menggebrak meja membuat Alze tersentak. "eh maaf,tangan gue refleks hehehe." cengir Bita tidak berani menatap mata elang Alze. Alze membuang napas pelan,bersabar menghadapi Bita.


"oh yaa soal itu,gue makasih banget sama Lo udah bantuin gue. Hmm untuk bayarnya boleh nyicil nggak? gue lagi ngumpulin nih." ucap Bita memohon. Untuk pertama kalinya ia memohon pada orang lain,padahal selama ini ia selalu menyelesaikan masalah pribadinya sendiri.


"terserah Lo aja,yang penting bayar." ucapnya lalu berdiri,ia pun melempar jaketnya pada Bita. Bita spontan menangkap jaket pria itu. "eh,untuk apa Lo ngasih gue jaket nih?"


Alze tersenyum miring, "dalaman Lo keliatan bego, besok-besok jangan pakai baju putih." ketusnya berjalan meninggalkan Bita yang mematung menatap dirinya. Alze keluar dari cafe langsung menghampiri beberapa orang yang habis ia hajar tadi sebelum bertemu dengan Bita.


"Lo udah tau gimana rasanya kan? jangan pernah ganggu dia lagi!" ucap Alze dingin menginjak salah satu kaki pria itu.


"aaakh ampuuun!!!" ringis pria itu. Tetapi Alze kembali menginjak keras kaki pria itu berulang kali membuat kaki pria itu tampak memar kebiruan.


Melihat pria itu tidak berdaya,Alze membiarkan mereka semua pergi terbirit-birit meninggalkannya.


"bagaimana? kalian sudah menyekapnya? buahahaha kalian bisa menikmati layanannya. Akan ku transfer uangnya besok."


Tut...Tut..


Alze tersenyum miring, ia menginjak ponsel itu sampai hancur tak berbentuk. Lalu menaiki mobilnya dan melaju meninggalkan parkiran cafe.


***


Bita mengoles salep pada tangannya. Ia pun menghela napas sambil melihat sekeliling ruangan cafe yang sudah bersih dan rapi. Ia melirik kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"ya ampun sudah malam banget,gue harus cepat-cepat pulang." ucapnya cepat-cepat membereskan kotak obat lalu meletakkan ditempatnya. Bita langsung menyambar ranselnya diatas meja,namun matanya melirik kearah jaket milik pria itu lalu melirik kearah pakaian yang dikenakannya saat ini.


"apa baju gue tembus pandang yaa??" gumam Bita pelan,tidak ingin membuang waktu ia pun mengenakan jaket hitam pria itu dan mengunci cafe. Bita berjalan menyusuri jalan trotoar sambil menikmati udara malam yang menerpa wajahnya.


Bita melirik sekitar,banyak toko-toko yang sudah tutup. Apalagi banyak orang lalu lalang sambil menggandeng tangan pacarnya. Bita tenggelam dalam pikirannya,mengingat akhir-akhir ini pria tinggi pembawa sialnya itu sedikit aneh. Bita masih penasaran,mengapa pria itu membantunya untuk membayar hutangnya.


"gue masih curiga tuh sama cowok,apa mungkin dia suka sama gue??" Bita menyengir pelan sambil menggeleng pelan. "nggak...nggak mungkin." elaknya lagi tetapi detik kemudian Bita kembali terkekeh pelan sambil menepuk jidatnya.


"gue keknya udah gila lah. Nggak mungkin dia sebaik itu secara sukarela,gue yakin ada niat terselubung. Pasti ada udang dibalik batu,gue harus hati-hati walaupun dia udah nolongin gue." gumam Bita lagi. Angin malam terus menerpanya hingga membuatnya mengeratkan jaket yang dikenakannya saat ini.


"wangi." gumamnya tidak sengaja tercium aroma jaket Alze. Kakinya terus melangkah santai sampai rumahnya. Bita bukan gadis yang penakut untuk jalan ditengah malam seperti ini,ia adalah mantan karate sabuk hitam dulunya. Tentu siapapun yang berani berbuat macam-macam langsung disikat habis. Itu semua berkat kerja keras ayahnya dulu yang mendukungnya sampai tahap nasional itu.


Tiba-tiba ia merasa sedih mengingat kedua orang tuanya, kadang-kadang ia merasa rindu dengan keberadaan kedua orang yang membuatnya terlahir di dunia ini. "Bit,Lo jangan lemah! Lo pasti bisa!!" teriaknya menyemangati dirinya sendiri.


Bunyi jam weker yang terus berbunyi membangunkan sang pemilik untuk bangun. Bita menatap malas kearah jam weker yang menunjukkan pukul enam pagi. "ck,langit belum terang. Masih pingin bobok lagi,untung nanti siang masuk kelas." gumamnya kembali menutup mata,namun ia membelalak dan terbangun dari tidurnya mengingat harus berbelanja dipasar pagi ini.


Bita beranjak dari kasurnya dan berjalan gontai menuju kamar mandi untuk cuci muka. Setelah itu ia memakai asal jaket diatas meja dan menyambar dompetnya sambil berjalan keluar rumah. Tidak memperdulikan penampilannya yang masih berantakan,ia bersenandung riang menyusuri jalan menuju pasar.


Selama diperjalanan,ia terus saja menguap sambil melihat daerah sekitarnya. Matanya menyipit saat mendengar notif dari ponselnya. Ia pun membuka pesan itu dan membelalak saat melihat pesan grup dikelasnya yang mengatakan dosen yang masuk harusnya siang ini dipercepat pagi ini.


"anjiir mendadak woii?! yang benar lah!" sentaknya langsung memutar arah dan berlari kencang pulang kerumahnya. Sampai dirumah,ia buru-buru melepaskan sendalnya dan berlari menuju kamar mandi. Usai mandi ala bebek,Bita memakai kemeja asal dan celana jeans hitam. Ia menggigit roti sambil menyisir rambutnya setelah itu memakai sepatunya. Bita menyambar jaket dan ranselnya sambil mengunci pintu rumahnya.


Beruntung,masih ada waktu lima menit lagi sebelum masuk. Bita bernapas lega langsung berjalan menuju mejanya. Namun,Bita merasa aneh dengan tatapan mereka semua tengah menatapnya seperti mengintimidasinya. Sementara Alze yang baru saja datang langsung tersenyum samar menatap gadis yang mengenakan jaket miliknya saat ini.