
Bita menahan air matanya tidak jatuh,ia sepertinya hampir membuang permata demi seonggok perak.
Bit,sebelum Lo nyesel mending Lo lupain Brian. ucapnya menyakinkan dirinya saat ini. Ia harus sadar diri,jika sekarang memiliki suami seperti Alze. Lalu kenapa ia menyukai orang yang tidak pasti akan bersama dengannya?
Bita terkekeh pelan sambil menggeleng-geleng kepalanya membuat Alze menatapnya bingung. "Lo nggak gila kan Bit?"
"ish!" kesal mencubit pipi suaminya gemas. "okee,beri gue waktu,buat gue suka sama Lo Al,gue tantang Lo!" serunya langsung disambut semangat oleh Alze.
"okee gue setuju!" serunya senang menerima tantangan istrinya. Setidaknya Bita mau membuka hati untuknya. Tetapi,Alze tetaplah Alze yang akan selalu membuat Bita kesal bukan main.
"yok kerjain tugas!" serunya membuat Bita yang tadinya tersenyum tipis mendadak cemburut mendengar ucapan Alze. "nanti ajalah!" rengeknya.
"sekarang Bita sayang!" ucapnya gemas. Bita tertegun mendengar panggilan sayang dari Alze.
"ciee udah baper luan." ledeknya saat melihat wajah Bita bersemu merah,ingin rasanya ia mencium bibir ranum merah itu.
Bita salah tingkah,ia pun langsung kabur dari hadapan Alze. Pria itu tergelak pelan,lalu teringat jika istrinya belum makan siang tadi. "eh Bit,tungguin gue!" serunya menyusul istrinya.
***
"pegang kuat Bit,ntar Lo jatuh gue juga yang repot!" serunya membuat Bita memukul pelan punggung pria itu.
"astaga Al,Lo ini serius nggak sih suka sama gue? dartari buat kesal mulu." gerutunya kesal,sedangkan Alze hanya terkekeh pelan tanpa menjawab ocehan istrinya.
Mereka sampai di warung kaki lima yang terletak di tepi jalan. Bita dengan semangat memesan ayam penyet kesukaannya.
"astaga Bit,sabar woi!" seru Alze hanya bisa meggeleng pelan melihat Bita yang sudah masuk terlebih dahulu.
Bruuk.
"tuh kan kesandung,udah gue bilang tungguin gue!" gerutunya membantu gadis itu berdiri. Banyak pasang mata yang melirik kearah Bita sambil menahan senyum.
Bita menenggelamkan kepalanya didada bidang Alze,jangan ditanya lagi seperti apa ekspresi Bita sekarang,tanpa ditanya pun sudah tahu jawabannya.
"Al,pindah tempat!" lirihnya canggung,Alze menghela napas lalu mengangguk pelan. "masih sakit nggak kaki Lo?" tanya sambil melirik kaki Bita.
"gue oke kok,cuma malunya itu loh mendarah daging. Manalagi sendal jepit yang gue pakai putus pula." cerocosnya sambil menunjukkan sendal jepit sebelah kanannya.
Alze tertawa keras tetapi membuat Bita memberengut kesal. Alze merangkul bahu istrinya, "hehehe abis Lo lucu banget,nanti kita beli yaa sendal barunya." ucap pria itu mencium pipi Bita. Sontak pipinya bersemu merah, "Alze sialan!!" umpatnya memukul pelan lengan pria itu yang sudah kabur menuju motornya.
Alze lagi-lagi tertawa,benar kata Sam. Bahagia diatas penderitaan orang lain adalah suatu kebahagiaan sendiri,walaupun begitu tetap tidak boleh dilakukan pada siapapun ajaran sesat playboy kelas kakap itu.
Bita memberengut pelan,namun dalam hatinya senang karena terhibur dengan pria itu,apalagi untuk keberapakalinya ia melihat senyuman tampan Alze.
Gila memang tampan juga laki gue. gumamnya pelan mengamati wajah suaminya yang sedang membaca menu makanan yang akan dipesan mereka direstoran milik pria itu. Alze yang merasa dilihat lekat,langsung mendongak menatap istrinya. Bita kelimpungan tertangkap basah,langsung memalingkan wajahnya.
Deg.
Lagi-lagi ia kembali dipertemukan dengan Brian,lihatlah saat Bita tidak sengaja mengalihkan pandangan kearahnya,membuat mereka saling beradu kontak mata.
Brian yang melihat kehadiran Bita, tersenyum senang. Wajah gadis itu terus mengiang dikepalanya,sambil tersenyum seringai ia menatap lekat dari ujung rambut Bita sampai kaki gadis itu.
"badannya bagus." gumamnya pelan mengamati tubuh Bita.
"kamu ngomong sama siapa sayang?" tanya kekasihnya menatap bingung kearah Brian. Brian menggeleng pelan sambil memegang tangan kekasihnya.
"enak nggak makanannya?" tanyanya mengalihkan perhatian Gina. Walaupun Bita lebih cantik daripada Gina. Namun untuk bentuk tubuh,Gina lah pemenangnya.
Gina mengangguk pelan, "oh ya kapan mau nikahin aku An?" tanyanya menatap intens mata Brian. Ia sudah menyerahkan tubuhnya pada pria yang ia cintai didepannya ini,Gina selalu sabar menunggu kesiapan pria itu untuk melamarnya.
Brian menatap frustrasi kearah Gina,ia paling tidak suka dibahas soal pernikahan. Baginya pernikahan itu hanyalah beban yang menyusahkannya nanti,ia tidak bisa kemana-mana dan terus dikekang.
"sayang,kan sudah aku bilang bentar lagi yaa. Tunggu,aku selesaikan semuanya dulu."
"mau sampai kapan huh? ayolah Brian ,aku nggak akan menuntut banyak apapun kok,yang penting kamu ada di sisiku."
"huft,lebih baik kita putus ajalah." ucap Brian tiba-tiba membuat Gina terkejut. Ia menatap nyalang kearah pria itu, "apa Lo sudah gila huh? gue nggak akan mau putus dari lo." geramnya sambil menunjuk-nunjuk kearah pria itu.
"jangan ganggu kehidupan gue!!" bentak Brian membuat seisi restoran melihatnya,terutama Bita yang menatapnya dengan tatapan yang sudah diartikan.
Brian mengatur emosinya pelan,menghadapi wnaita bodoh didepannya harus hati-hati atau dia berakhir dipenjara.
"Lo harus nikahi gue secepatnya atau Lo tau akibatnya sendiri!" ancam Gina berdiri sambil menyambar tasnya.
Brian tersenyum miring, "yakin? kalau Lo selangkah lagi keluar dari cafe ini,gue akan sebarin video Lo waktu itu?"
Deg. Gina menatap nanar kearah pacarnya,ia tidak menyangka jika pria itu sangatlah brengsek. "gue sumpahin Lo nggak bakalan nikah sampai kapanpun!!" sentaknya pergi melenggang sambil menahan tangisannya. Sementara Brian hanya sibuk menatap ponselnya yang terus berdering dari istrinya.
"kutukan Lo nggak berlaku bodoh,lihatlah istri bodoh gue udah nelpon daritadi." gumamnya mengabaikan panggilan istrinya itu.
Yap,tidak ada yang tahu pernikahan itu terjadi dimana,kapan dan siapa pengantin perempuannya? Brian merebut Maisya dari seorang pria yang katanya kekasih dari gadis itu.
"jika gue suka,gue ambil apa yang gue mau." gumamnya pelan kini menatap Bita dari kejauhan sambil bercengkrama dengan pria didepannya. Ia tampak kesal melihat senyuman Bita yang cantik itu tertuju pada pria lain. Ia akan membuat Bita jatuh cinta padanya,hanya untuknya.
Dengan segala rencananya yang sudah disusun dikepalanya,ia pun langsung pergi keluar dari restoran.
Sementara kedua pasangan suami istri itu saling menyuapi satu sama lain diantara mereka. "enak nggak?" tanya Bita mengamati wajah Alze.
Alze mengangguk pelan, "biasanya gue kalau kesini sama semuanya,nggak pernah selezat ini. Kayaknya Lo harus nyuapin gue trus Bit."
"jangan manja Al!" gerutunya pelan,setelah mereka menyudahi makan mereka, "abis ini kita kemana?"
"ngerjain tugas dong,kapan lagi kita mau buat woi. Santai betul!" serunya gemas. Bita memutar bola matanya malas. "heh,nanti salah lagi. Malas gue ngerjainnya." ucapnya malas.
"Al,gue ke toilet dulu." pamit gadis itu berjalan mendekati toilet. Sementara Alze yang sedari tadi senyum manis kearah Bita langsung ekspresinya berubah yang dingin saat menyadari pria yang tadi terus-menerus menatap istrinya melenggang keluar dari restorannya.
"Dasar penganggu,gue nggak akan biarin Lo dekatin Bita!" gumamnya menatap datar sambil mengibarkan bendera permusuhan dimatanya.