
Alze berjalan cepat langsung mengambil tempat disamping istrinya. Sejak tadi ia banyak bersabar menghadapi adik sialannya yang terus mengganggunya sepanjang jalan. Beruntung,akhirnya mereka sampai disuatu warung untuk sarapan pagi membuatnya bernapas lega.
"eh?" Bita terkejut melihat suaminya tergopoh-gopoh duduk disampingnya. Bahkan tanpa pria itu sadari,membuatnya hampir jatuh karena ulah Alze.
"Al, hati-hati woi!" serunya,Alze menoleh kearahnya. "maaf Bit." cicitnya memperbaiki posisi duduknya. Sam yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sifat Alze yang dulu tertutup kini perlahan menyebalkan.
"gini amat punya kakak." gerutunya pelan sambil menghela napas,ia merasa malas saat ini tidak ada yang bisa membuatnya senang. Namun,saat ia melirik sekitar,senyumnya kembali merekah saat melihat ada seorang gadis yang sepertinya anak pemilik warung ini.
"jackpot!" serunya tersenyum miring,Azza yang melihat kakaknya tersenyum aneh itu mencium bau-bau mencurigakan.
Oh tidak,mulai lagi dia. Azza menghela napas pelan,kakak keduanya itu tidak ada kapok-kapoknya mempermainkan hati wanita,segitu sakit hatinya kah ditinggal oleh orang yang paling ia cintai?
Kak Mai,gue nggak mau maafin Lo sampai kiamat sekalipun! geramnya dalam hati menatap sendu kearah kakaknya yang kini cengar-cengir melirik wanita muda itu.
"astaga Sam,Lo memang benar-benar dah!" gerutu Alze melempar serbet yang ada diatas meja kearah Sam,tetapi lemparannya meleset membuat Sam terkekeh pelan sambil menjulur lidahnya kearah Alze. "bleeeh,nggak kenak." ejeknya tertawa puas.
"awas Lo!!" geramnya namun dihadang langsung oleh Bita. "ya ampun Al,masa adik sendiri kayak gitu. Udah duduk dengan tenang,kita mau makan lagi."
"tuh dengarin kakak ipar gue!" timpalnya menatap kearah Alze.
Alze memutar bola matanya malas,malas berdebat dengan Sam yang tidak ada habis-habisnya.
***
Brian menatap jauh lokasi kampus Bita. Pria itu seperti menunggu mangsanya keluar dari sarang. Ia tersenyum licik melihat gadis itu keluar bersama temannya. Baru saja ia hendak turun dari motornya tiba-tiba ada yang menariknya kasar hingga terhempas ke tanah.
"sial,sia—" Brian terkejut melihat pria yang merupakan suaminya Bita berada disini, Apalagi sorot tajam matanya itu seolah-olah ingin membunuhnya.
"kenapa Lo bisa keluar huh?" tanyanya tidak ramah,bahkan ingin rasanya ia menginjak perut Brian dengan kuat.
Brian terkekeh pelan,lalu berdiri sambil mengibas bajunya. Ia pun tak kalah tajam menatap Alze, "gue nggak salah kok,ngapain juga gue dipenjara?" serunya acuh tak acuh membuat Alze langsung mencengkram kerah bajunya.
"siapa yang membantu Lo keluar dari sana huh?" tanyanya dingin.
Deg.
Sial,bagaimana dia bisa tau gue keluar dibantu??
Alze tersenyum miring,lalu ia menghempaskan lagi pria itu sampai terjatuh. "dengar baik-baik,jangan pernah ganggu milik gue,kalau sampai Lo nekat juga...gue nggak akan segan-segan menghajar Lo sampai Lo nggak berdaya!" ancam Alze langsung berjalan meninggalkan Brian.
Brian meringis pelan hendak berdiri sambil tertawa renyah. "dasar cupu si—"
Bruuuk
Alze yang kesal langsung berbalik sambil menendang kuat Brian kembali tersungkur kebawah. Beruntung saat ini mereka ada dihalaman belakang kampus,jadi tidak banyak orang yang lewat sana.
Alze menyibak rambutnya keatas sambil sekilas menatap dingin kearah Brian. "ck." ia pun berjalan menuju lorong kampus.
"sialan!" cerca Brian kesal sambil melempar apapun yang ada didekatnya. Entah kenapa ia merasa lemah dihadapan Alze,aura pria itu terlihat berbeda dan berbahaya jika berurusan dengannya.
"gue kayak pengecut,gue bersumpah akan menghancurkan apapun milik Lo Alze!!" geramnya menggerakkan giginya. Tidak peduli dengan rencana yang sudah disepakati Mezza untuk mendekatkan wanita itu pada Alze,kini ia melakukan rencana baru sendirian. Ia tersenyum penuh makna sambil mengepal tangan kuat,tanpa menyadari jika Alze masih mengawasinya dengan tatapan yang susah diartikan.
***
Bita menyeruput mie ayam kesukaannya dikantin,sejak tadi ia terus menahan lapar yang terus berdemo ingin diisi untuk mengisi energinya yang habis. Bagaimana tidak habis jika ia dikelasnya tadi mendadak membuat tugas proposal dan harus selesai dalam dua jam. Dengan penuh drama dikelasnya mengerjakan semua tugas itu ujung-ujungnya selesai juga.
"parah dosen tuh ingin gue sleding!!" gerutu teman sekelas dengan Bita yang duduk diseberangnya. Sedangkan Bita terkekeh pelan mendengar keluhan temannya lanjut memakan mie nya.
"nggak ngira-ngira dia ngasih tugas,emang dia pikir mudah apa!" gerutu temannya semejanya. Bita hanya sesekali mendengar ocehan mereka berdua yang terus mencerocos tanpa henti,lalu ia dikejutkan dengan kedatangan Anggi yang entah dari mana munculnya.
"minta dong!" seru Anggi tanpa permisi merampas mie ayam milik Bita,ia pun menyeruput cepat sampai habis.
"ntar gue traktir Lo Bit." cengirnya tanpa beban,Bita hanya mendengus kesal sambil menghentakkan kakinya pelan.
"Lo kayak orang kelaparan." ejek Bita membuat Anggi terkekeh pelan. "emang,abis perut gue demo mulu."
"emang Lo kemana tadi huh?"
"itu biasa,lagi nggak mood makan dirumah."
"kenapa?" tanya Bita penasaran, Anggi tersenyum tipis sambil menopang dagunya. "wah seorang Bita penasaran dengan kehidupan gue,sungguh luar biasa!" serunya senang.
"jadi Lo mau berteman dengan gue nggak? gue masih ori nih."
"anjiir,tuh mulut tolong disaring ya mbak. Astaga, bisa-bisa orang ngira kita belok lagi!"
"baguslah,jadi nggak ada yang dekatin gue lagi." serunya membuat Bita lagi-lagi penasaran.
"emangnya banyak yang ngejar Lo?"
"banyak,kalau Lo nggak percaya nanti liat aja. Pasti ada yang ngejar gue nanti." sahut Anggi. Bita hanya mendengar pelan gadis itu. Mantan tunangan suaminya ini terlihat hidupnya rumit dimengerti,sampai sekarang ia masih penasaran alasan Alze memilihnya dibandingkan Anggi yang jauh lebih cantik darinya. Dari segi manapun Anggi lah yang menang,ia pun kadang sedikit insecure membandingkan dirinya dengan Anggi.
Tetapi,sejak kejadian pembulian itu,ia jadi kurang respect untuk membuka diri apalagi mengajak berteman dengan yang lain. Bayangan pembulian itu masih terekam didalam memorinya.
"hais Lo ngapain melamun woi??" seru Anggi menepuk pipi Bita pelan. Bita menggerutu pelan, "nggak ada."
"o."
"katanya banyak yang ngejar lo,dimana emangnya?" tanya Bita mengalihkan topik agar tidak membuat Anggi bertanya lagi. Anggi tersenyum penuh arti kearah Bita.
***
"ANGGI KAMPRET!!!" teriak Bita kesal sambil berlari kencang,begitu juga dengan Anggi yang terbiasa menganggap hal ini menyenangkan sekaligus menegangkan. Gadis sialan itu membawanya ke lapangan hijau yang luas,entah dimana lokasinya,ia mungkin akan mengutuk tempat ini.
"BUAHAHAHAHA KAN UDAH GUE BILANG BANYAK YANG NGEJAR KAN??" teriaknya. Bita berdecak kasar, "tapi ya nggak dikejar anjing juga lah Anggi sialan!!!" geramnya langsung melompat memanjat pohon didepannya.Anggi pun ikut memanjat dipohon yang sama.
"hosh...hosh,kampret Lo Nggi. Lo bohongin gue!" kesalnya memukul pelan gadis disebelahnya itu,mereka seolah-olah tidak memperdulikan gonggongan anjing dibawah mereka.
Anggi tertawa puas,dirinya bahkan tidak sanggup melihat ekspresi Bita yang menggemaskan baginya. Istri Alze itu sangat polos.
"gue nggak bohong yaa Bit,kan benar gue banyak dikejar."
"baik-baiklah Anggi,lagian ngapain Lo bawa gue kesini sih?!" gerutunya masih tidak terima,apalagi jantungnya masih berdebar kencang sehabis lari mendadak tadi.
"healing beb,tengoklah dengan cara dikejar anjing dapat membuat otak Lo rileks." jawab Anggi.
"auh ah!! Lo udah gila!" geramnya lagi.
Anggi terkekeh pelan,lalu pandangannya menatap sendu hamparan hijau didepannya. "Karna dengan cara kayak gini,gue sejenak melupakan apa yang ingin gue lupain." lirihnya membuat Bita menolehnya sendu.
Bita seketika terdiam tanpa berniat menimpal ucapan gadis itu,kini ia lebih memilih menikmati angin sepoi-sepoi di atas pohon yang menerpa wajahnya.
"Lo mau tau nggak cara biar tenang?" tawar Bita,Anggi menatapnya heran.
"Lo nggak nyuruh gue gunain narkoba kan?" tanya Anggi curiga.
"idih,nggak bego. Tambah banyak dosa gue kalau itu pula gue saranin ke Lo." decak Bita pelan.
"lah terus?"