
Bita melakukan yoga bersama dengan mama mertuanya. Sudah tujuh bulan berlalu,perutnya sudah semakin besar dan susah beraktivitas kemana-mana. Keseharian Bita hanya pergi ke kampus itu pun saat jadwal kuliah dan setelah itu langsung pulang kerumah.
"lakukan peregangan nak!" seru Haura mengintruksikan pada menantunya. Bita pun mengikuti gerakan Haura dengan patuh. Ia begitu senang melakukan aktivitas seperti ini agar saat persalinannya berjalan dengan lancar tanpa kendala.
"eh?" Bita tiba-tiba terdiam saat merasakan perutnya ada mengalami pergerakan. Haura lansvung menoleh kearah Bita, "ada apa?"
"bayinya menendang ma." seru Bita mengelus perut buncitnya. Haura terkekeh pelan, "cucu mama sehat-sehat yaa didalam sana,jangan buat mama kamu kesusahan."
"Okee nenek."
"nggak terasa aja,mama udah mau punya cucu. Kamu juga harus jaga kesehatan ya nak,jangan jajan diluar sembarangan apalagi micin. Oh,ya mama ada sesuatu untuk kamu." ucap Haura senang berjalan kedalam rumah,tak lama kemudian beliau datang kembali sambil membawa sesuatu ditangannya.
"apa itu maa?" tanya Bita penasaran.
"bukalah." seru Haura menyodorkan kotak kecil itu pada Bita. Bita membukanya perlahan dan terkejut saat melihat isinya.
"ini untukku maa?" tanya Bita tidak percaya menatap kalung pemberian sang mertua. Tidak menyangka,jika kalung permata dipasangkan dilehernya.
"cantik,sama seperti orangnya." puji Haura mengacak-acak rambut menantunya. Bita tersenyum haru sambil menggenggam kalung itu,ia langsung memeluk mertuanya walaupun sedikit kesulitan mengerat pelukannya.
"eh,jangan terlalu kencang meluknya sayang. Mama belikan kamu kalung ini,karna cocok dengan kamu. Jangan sampai hilang yaa,nanti mama gorok!" ancamnya sambil bercanda,Bita terkekeh pelan.
"terimakasih maa,sudah mau menerimaku dengan suka cita,aku tau mama dulu nggak setuju dengan pernikahan mendadak ini."
Haura mencubit hidung Bita gemas, "benar,mama dulu nggak tau kalau kamu itu adalah wanita yang sangat baik nak,mama tidak terlalu mempercayai semua orang sejak wanita itu mempermainkan Sam." lirihnya.
"siapa ma?"
"adalah pokoknya,kamu nggak usah penasaran dulu. Fokus saja sama kehamilan kamu,mama nggak sabar melihat cucu mama brojol. Kira-kira kata dokter anak kalian laki-laki atau perempuan?" tanya mama penasaran.
Bita tersenyum,walaupun dirinya sangat penasaran siapa yang membuat Sam dipermainkan. Ia mengelus perutnya dengan lembut, "kata dokter laki-laki maa,semoga dia selalu sehat disana."
"aamiin. Mama akan selalu berdoa yang terbaik buat kamu dan anak kamu. Nah,sekarang kamu mau makan apa? nggak ngidam lagi?"
"hmmm sekarang lagi nggak maa,tapi bukan aku yang ngidam."
"huh? maksudnya?"
"hehehe sekarang yang ngidam anak mama lah."
Haura tertawa lepas, "Alze??"
***
Alze menikmati mangga muda hasil jerih payah Hazig yang susah payah memanjatnya. Entah kenapa,hari ini ia lebih menyukai makanan asam dibandingkan makanan manis yang sedang dimakan Hazig saat ini.
Hazig merinding melihat Alze menikmati makanan asam seperti makan yang biasanya. "Al,Lo udah gila?"
"apa sih,nggak usah liat gue kayak gitu!" ketusnya sambil melahap rujak buatannya.
"gilaa,dahlah gue nggak paham lagi ngomong sama Lo Al." Hazig meninggalkan sahabatnya sendiri,daripada ia merinding sendiri melihat temannya makan dengan santai,mending ia melakukan pekerjaan apa yang bisa ia lakukan.
Alze mengedik bahu,saat ini ia tidak ingin makan apa-apa selain rujak. Ia melirik kearah ponselnya yang terus berdering.
"mama?" gumamnya melihat nama kontak diponselnya,dengan segera ia mengangkat telepon itu.
"Al,cepat pulang!" seru Haura panik dari seberang sana
"kenapa ma?" tanya Alze merasa cemas,tidak biasanya mamanya sepanik ini. Pasti ada terjadi sesuatu dirumah.
"aku pulang ma." ucapnya langsung mematikan ponselnya dan bergegas keluar. Hazig yang melihat Alze terburu-buru keluar langsung mengejarnya. "Al,mau kemana?" teriaknya melihat Alze langsung masuk kedalam mobil tanpa mendengarnya. Pria itu melajukan mobilnya dengan kencang.
"astaga anak itu,apa lagi sekarang??"
Alze memotong dengan lihai kendaraan-kendaraan didepannya,tidak peduli orang-orang memakinya karena hampir celaka. Alze terus berharap jika Bita baik-baik saja.
"ku mohon semoga kamu baik-baik saja sayang." gumamnya terus berdoa. Akhirnya ia sampai didepan rumah,Alze memakirkan mobilnya sembarangan ia berlari masuk kedalam rumah mencari Bita.
"Bita,Bitaaa!!" teriaknya memanggil nama istrinya,Haura berdecak pelan menghampiri anaknya. "hush,jangan teriak-teriak!" gerutunya menghampiri Alze.
"maa,Bita mana?" tanyanya panik. Sedangkan Haura cekikikan pelan melihat anaknya panik,Alze berdecak pelan menatap mamanya. "maa,aku serius!" ucapnya.
"ya ampun nak,tenang dulu. Dengarin mama!" seru Haura memegang kedua bahu lebar putranya. "pertama,istrimu baik-baik saja. Saat ini ia tidur dikamar,lalu kedua kamu tidak perlu panik sayang!"
"huft...lalu kenapa mama tadi panik?"
"mama mau tes aja,ternyata kamu sesayang itu sama istri kamu." seru Haura tersenyum menatap anaknya.
"astaga maaa,masa disaat ini mama bisa bercanda,aku khawatir kalau Bita nanti kenapa-kenapa."
"tenang,selama dia dirumah. Dia bakalan baik-baik saja nak." ucap Haura mengajak anaknya duduk terlebih dahulu. Ia pun mengambil minum untuk anaknya, "nah,minum dulu."
Alze mengangguk dan meneguk kandas air itu lalu memberikannya pada Haura. "makasih ma."
Haura mengangguk sambil meletakkan gelas itu diatas meja lalu menatap anaknya lekat, "mama mau ngomong sesuatu sama kamu."
Alis Alze terangkat satu menatap Haura heran, "ada apa ma?"
"mama mau siap Bita melahirkan,kamu ceraikan Bita."
Deg.
Alze menatap Haura lekat, "apa maksud mama? apa mama sadar yang mama ucapkan?"
"iyaa,mama sadar kali nak. Mama nggak bisa menerima Bita sebagai menantu mama."
"tunggu...tunggu,kenapa tiba-tiba mama bilang nggak suka dengan istriku ma? bukannya kalian sangat dekat? kenapa mama memintaku hal keramat itu?" tanya Alze dingin.
"itu bukan hal keramat nak,mama ingin kamu mendapat wanita yang lebih baik lagi dari pada Bita,mama nggak ingin kamu hidup bersama Bita."
"mama!" sentak Alze membuat Haura terkejut,Alze menahan amarahnya sambil mengepal tangannya.
"aku anggap pembicaraan ini nggak pernah ada ma,bagaimanapun aku tidak akan pernah menceraikan Bita sampai kapanpun,sampai aku mati sekalipun!" Alze berjalan cepat meninggalkan Haura yang masih menatapnya.
"mama tetap kukuh dengan keputusan mama,jadi pikirkan permintaan mama baik-baik Alze!"
Alze berdecak pelan,ia tetap melangkah menuju kamarnya. Perasaannya menjadi kacau dan tidak karuan setelah mendengar hal itu dari mamanya.
Apa yang terjadi? apa mereka tadi bertengkar sebelum gue datang??
Alze membuka pintu perlahan,ia menarik napas panjang menatap istrinya sedang tertidur pulas. Alze mengusap wajahnya kasar menghampiri Bita dan duduk dipinggir kasur. "menggemaskan." gumamnya mengelus kepala Bita lalu perut besar istrinya.
"kamu jangan buat mama kamu susah nak, baik-baik aja didalam." gumamnya pada anaknya didalam perut Bita.
Ia kembali melihat wajah istrinya,memandang sendu mengingat permintaan mamanya yang tidak masuk akal tadi.
"sampai kapanpun gue nggak akan ceraikan Lo Birgitta."