
Azza celingak-celinguk mencari Algha, ia tidak menemukan pria itu. Ia terkejut saat ada yang menepuk bahunya, lalu berbalik ke belakang. "Kamu cari dia?" tanya Deon menatap putrinya tajam.
"Ah, iya Pa. Tapi, Azza mohon jangan dia disalahkan. Aduh, gimana jelasinnya yaa, aku sama dia nggak ada hubungan apa-apa selain ketua sama wakil OSIS Pa." gusarnya pelan. Sedangkan Deon menatap lekat putrinya lalu menoleh kearah istrinya, Haura mengangguk pelan.
"Jangan menikah dulu sekarang, Papa hanya restuin kalian setelah lulus nanti." ucap Deon pelan.
Azza terdiam, lalu menoleh kearah Algha. "Apa dia bilang ke Papa semuanya?" tanyanya lagi. Deon mengangguk.
"Dia udah bilang semuanya, tapi Papa belum izinkan kalian menikah sekarang, selesaikan pendidikan kalian dulu baru nikah. Jangan mau nikah aja, nikah tuh nggak seindah yang kalian bayangkan." cerocos Deon sambil melonggarkan dasinya.
Sebenarnya Deon cukup terkejut, ralat sangat terkejut. Bahkan jantungnya hampir copot saat pria yang sama tinggi dengannya menghampirinya dengan berani untuk melamar putrinya. Siapa yang tidak syok mendengarnya?
Awalnya ia kira pria itu meminta menikah karena mereka sudah melakukan diluar batas. Namun, ia salah sangka melainkan pria itu dengan tegas meminta restunya untuk segera melamar Azza yang katanya super cuek dan susah ditaklukkan hatinya.
Hmm anak gue secuek apa ya? Perasaan dirumah dia yang paling heboh. gumamnya heran, bukan hanya pria bernama Algha itu saja yang bilang padanya seperti itu melainkan anak tengahnya juga mengatakan hal yang sama.
Azza menghela napas, ia tidak menyangka Algha seberani itu berhadapan dengan Papanya. Sungguh, ia kagum dan salut padanya. Azza menoleh kearah Haura, dan Mamanya menggangguk sambil tersenyum.
"Kamu harus melangkah kedepan Azza, jangan pikirkan yang sudah berlalu. Memang sulit untukmu menerima ini semua, dan Mama menyarankan kamu untuk membuka hati pada pria lain nak, tidak semua pria itu jahat," jelasnya pelan. Karena ia tahu selama ini Azza menghindari sosok pria asing kecuali keluarganya.
Masih tergambar jelas bagaimana Azza waktu itu dalam masalah besar dan beruntung kedua putranya datang tepat waktu. Tidak terbayang jika keduanya terlambat menyelamatkan adiknya, mungkin saja Azza sudah tidak ada lagi bersamanya disini. Haura yakin pria yang sedang duduk diam itu adalah pria baik.
"Papa nggak izinkan kalian pacaran, kalian hanya boleh berteman. Kalau sampai kalian backstreet, jangan harap kalian dapat restu dari Papa!" tegas pria paru baya tampan itu. Algha yang mendengarnya menelan saliva, Papa Azza sangatlah tegas dan menakutkan. Tetapi, setidaknya pria itu memberikan izin untuk menikahi Azza.
Azza tersenyum geli. "Papa tau arti backstreet?" tanyanya menahan tawa.
"Taulah, orang Papa juga gaul kok. Emang kalian aja yang gaul, Papa jugalah."
"Astaga Pa, serius aku nggak nyangka." gelaknya pelan. Ia terdiam menatap lekat kearah Algha, lalu menoleh kearah Deon. "Papa,"
"Terimakasih sudah merestui kami." ucap Azza tersenyum tipis, pipinya bersemu merah membuat siapapun yang melihatnya terkekeh pelan. Deon mengacak-acak rambut anaknya gemas.
"Ingat, nggak boleh dekatan sebelum halal,"
"Gimana mau pisah Pa, kita aja dekat. Papa tau tempat duduk aku aja disamping Algha, aku waketos ya pasti selalu disamping Algha, trus aku juga—"
"Papa heran, kenapa calon suami kamu itu bilang kamu cuek huh? Ini aja kamu bertingkah minta ampun."
"Hehehe, kalau itu Azza mau terlihat cool disekolah Pa, kayak cerita di novel-novel,"
"Oh ya ampun nih anak,"
"Dokter! Dokter!" teriak Sam dan Anggi panik, mereka keluar berlari mencari dokter kandungan. Haura dan Deon langsung masuk kedalam ruangan Bita lagi, sedangkan Azza ia masih celingak-celinguk mencari keberadaan Algha.
"Algha, lo dimana?" gumamnya pelan, padahal ia yakin tadi pria itu duduk dikursi ujung sana. Sekarang pria itu tidak terlihat lagi.
"Ciee ada yang nyari gue," ledek seseorang dibelakangnya. Spontan Azza melirik kebelakang.
"Algha? Lo?"
Algha mengacak-acak rambut Azza gemas. "Kenapa calon istri gue terkejut gitu wajahnya? Santai dong." ucapnya santai sambil meneguk minuman kaleng yang baru saja ia beli dari kantin rumah sakit. Algha melempar minuman kaleng yang satu lagi itu pada Azza.
"Thanks sayang." sahut Azza berjalan masuk kedalam ruangan.
Byuur.
"Uhuk...uhuk, apa? Ta-tadi Lo bilang apa Za?" Algha berdecak pelan tidak menemukan keberadaan calon istrinya itu. Ia pun ikut menyusul masuk kedalam ruangan.
"Baik ibu sudah pembukaan sepuluh, kita akan mulai mengejan yaa Bu. Saya mohon jaga angkat panggul Ibu, oke?" pinta dokter yang menangani persalinan Bita. Bita mengangguk lemah, ia bahkan memegang erat tangan Alze.
"Sayang aku yakin kamu bisa!" Alze meringis melihat Bita kesakitan, sekarang ia paham mengapa wanita itu sangat dimuliakan karena mereka melahirkan dengan taruhan nyawa.
"Apa ibu siap? Sekarang satu...dua...tiga mengejan Ibu!"
Napas Bita tersengal-sengal, berusaha untuk melahirkan. "Saaakiiit Dok!" pekiknya.
"Ayo Ibu teruskan, ayo Ibu pasti bisa!"
Alze terus mengelus kepala Bita dan menggenggam tangan istrinya erat. "Sayang, cepat keluar nak, kasian Mama." lirihnya pelan.
"Ayo Ibu, kepalanya sudah keliatan. Ayo sikit lagi Bu!"
"Tarik napas, hembuskan. Tarik napas, hembuskan Bu."
Bita terus mengejan sampai akhirnya bayinya keluar. Semuanya tampak senang mendengar tangisan bayi Bita.
"Selamat anak kalian laki-laki." ucap dokter itu tersenyum haru sambil menggendong anak Bita dan Alze.
Bita tersenyum lemah memandang putranya masih berlumuran darah, ia tidak menyangka bisa melahirkan bayi laki-laki yang tampan itu. Bahkan Alze sampai tidak bisa berkata-kata memandang semua kejadian didepan matanya.
"Pak, anda tidak mau melihat anaknya?" tanya perawat itu usai membersikan bayi mereka lalu membedongnya.
Alze tersentak, lalu menoleh kearah istrinya. "Sayang, kamu hebat. Makasih udah berjuang untuk anak kita." lirihnya menangis sambil memeluk istrinya.
Bita mengelus kepala suaminya pelan, dirinya masih lemah. "Al..."
"Ya?"
"Ternyata melahirkan itu kayak gini," gumam Bita memandang lagi putranya yang sudah diletakkan di inkubator.
"Aku merasa bersalah pernah membentak Ibu, padahal dia sesulit ini melahirkanku." lirihnya menerawang, bayangannya teringat pada sang Ibu yang selalu memberikan cinta dan kasih sayang untuknya. Tetapi, orang tuanya itu sudah tidak ada lagi bersamanya saat ini.
Ibu, Ayah cucu kalian tampan.
"Arfa," ucap Alze tiba-tiba membuat Bita menoleh kearahnya.
"Siapa?" tanya Bita bingung.
"Nama anak kita," ucapnya tersenyum tipis.
"Arfa, nama yang bagus. Tapi, tunggu hanya itu aja?"
Alze mencubit hidung Bita gemas, "Ya nggaklah, itu nama dia Arfaaz Haufanza Parvaiz."
"Anjiir susah nyebutin nama woi!" sela Sam mendengar nama keponakannya sambil membawa rombongan yang lainnya masuk. Mereka begitu antusias ingin melihat anggota baru mereka.
Alze berdecak kasar menatap tajam kearah Sam. "Suka-suka gue lah, kalau nggak suka buat sendiri," ketusnya.
"Oke gue buat sekarang!" ucap Sam dengan lantang membuat suasana hening seketika, semua mata tertuju pada Sam.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapan gue?" tanya Sam bingung.
"Jodohnya mana?" tanya Alze menohok.
"Anjiir iya juga yaa, ahahahaha dia masih di kutub selatan. Susah dicari atau mungkin nggak bakalan ketemu juga, gue nggak ada kepikiran nikah." cerocos Sam tertawa renyah seperti ada yang disembunyikan oleh pria tampan itu.
"Tuh mau punya anak diluar nikah, huh?!" tuduh Alze.
"Ya enggak jugalah, tapi yaa lo tau sendirilah,"
"Cih, belum move on juga lo dari si nenek lampir tuh?" ketus Azza menatap tajam kakaknya.