
Setelah Alze membawa Bita pulang,setelah memastikan istrinya ditempat yang aman,ia pun hendak pergi kesuatu tempat.
"Sam titip Bita." serunya kembali masuk kedalam mobil.
"nggak." tolak Sam langsung sambil menenteng jaketnya. Alze berdecak pelan, "ish,tolong jaga dia bentar,gue mau urus sesuatu bentar."
"Lo mau nemuin pria brengsek itu kan?" tebak Sam menatap kakaknya. "mending Lo dirumah aja kak,percuma Lo nemuin dia. Nggak akan ada gunanya." ucap Sam dingin sambil melangkah masuk kedalam rumah.
"ada apa dengan dia? kenapa dia terlihat kesal kalau gue bicarakan si brengsek itu??" gumam Alze menyadari raut wajah adiknya. Sesuai saran pria bercap playboy itu,ia pun tidak jadi pergi menemui pria itu. Ia pun menyusul Bita yang sudah dulu masuk kedalam kamar.
"baru pulang nak?" tanya Haura sambil menyiapkan makan malam. Alze menghampiri mamanya dan mencium punggung tangan beliau. "papa mana maa?"
"masih dijalan,sebentar lagi pulang." Jawab Haura lagi.
"aku ke kamar dulu yaa ma." pamitnya pergi ke kamar. Baru ia membuka pintu,ia dikejutkan dengan Bita yang terbaring dilantai. Jantungnya rasa ingin berhenti melihat istrinya terbaring lemas,dengan segera ia berlari kearahnya.
"Bit...bit,bangun sayang!!" paniknya bahkan ia menepuk pelan pipi Bita. Bita berdecak pelan sambil menepis tangan Alze. "Al,ngapain Lo nampar gue??" lirih gadis itu membuat Alze bingung.
"lo-lo nggak pingsan Bit?" tanya Alze heran,ia pun menggedong istrinya berbaring dikasur.
"aha-ha,gue jatuh dari kasur tadi." sahutnya datar,mengingat kejadian konyol tadi membuatnya malu.
Alze tertawa pelan, mengacak-acak rambut istrinya. Jika dilihat dari dekat,wajah Bita sangatlah cantik dimatanya.
"cantik." gumamnya tanpa sadar,tetapi tetap didengar oleh Bita. Mata Bita melebar menatap lekat suaminya sambil tersenyum tipis. "Lo juga ganteng."
"hihihi apakah bakalan adegan selanjutnya nih??" seru seseorang diambang pintu membuat Alze ingin berkata kasar disaat itu juga. Bisa jadi ini kesempatannya memiliki istrinya seutuhnya.
"bisa tidak ketuk dulu sebelum masuk??"
"kenapa? biar kalian mesra-mesraan didalam gitu??" ledek Azza membuat pipi Bita memerah.
"anak kecil nggak usah ikut campur urusan orang dewasa." gerutunya hendak menutup pintunya lagi. Namun,Azza menahan pintu itu sambil berdecak pelan kearah kakaknya.
"astaga kak,nggak sabaran banget. Ini gue disuruh sama mama loh,manggil kalian makan malam. Jangan buat kami menunggu yaa." serunya langsung berlari kencang sebelum sendal kakaknya melayang.
"dasar nggak ada akhlak." kesalnya menggerutu menatap adiknya sudah menghilang dari pandangannya. Lalu ia berbalik menatap istrinya malah tertidur pulas.
"ya ampun Al,sabar...sabar...ini ujian." gumamnya mengelus dadanya,lalu ia menutup pintu membiarkan istrinya istirahat.
"mana istri kamu Al?" tanya Deon menatap anaknya berjalan sendiri ketempat mereka. "tidur pa,dia capek."
"Mak gila kak,Lo apain dia??" seru Sam membuat semuanya menoleh kearah Alze dengan tatapan penuh arti.
"apa kami akan segera punya cucu??" seru Deon menatap putranya sumringah. Alze menganga sambil menggaruk tengkuknya tidak gatal,ia saja bingung mau jawab pertanyaan sensitif itu.
"ciee malu nih,ululu ka—" Sam langsung membungkam mulutnya saat melihat tatapan tajam yang ditunjukkan Alze,Alze hanya menghendus kesal sambil mengambil makanannya sendiri.
"jangan diganggu kakakmu Sam,biar ajalah. Kamu juga besok kalau punya istri pun kayak gitu jugaa."
Senyum yang merekah ditunjukkan Sam tadi mendadak hilang setelah mendengar ucapan mamanya itu. Baginya pernikahan itu tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya sejak wanita yang ia cintai meninggalkannya.
"tidak akan pernah." ucapnya dingin langsung menghabiskan makanannya semua dengan cepat.
Azza menyadari atmosfer yang tadi seperti pelangi cerah mendadak mendung,tampak suasana canggung terasa diantara mereka terutama Haura yang lupa akan hal itu. Ia menggerutu pelan menyesali mengatakan hal yang seharusnya tidak ia katakan.
"nak,mama mohon kamu jangan berpikir seperti itu. Mama yakin diluar sana masih banyak perempuan yang tulus."
"entahlah maa,aku juga tidak tau. Tapi,sejak itu aku tidak ingin mempercayai perasaan wanita lagi." ucapnya pelan lalu berjalan keluar rumah.
Haura menghela napas memandang punggung putra keduanya itu sambil menyeka air matanya. "semoga kamu bertemu dengan wanita yang tulus nak."
***
Alze menatap sendu kearah Bita,wajah polos gadis I
yang sedang tertidur pulas itu sangat imut dimatanya. Ia pun diam-diam mengecup bibir Bita singkat, lalu mengelus kepala gadis itu lembut.
"Lo jangan nyari gue nanti yaa,gue ada urusan dengan orang yang Lo suk—ah tidak dengan orang yang Lo benci. Dia agak budeg dibilangin,apalagi dia keluar penjara dibantu orang lain. Gue bisa aja memenjarakan dia lagi,tapi gue ingin tau siapa dalang yang membantunya keluar." gumamnya pelan sambil menggenggam erat tangan Bita.
"Lo nggak boleh lagi mengalami penderitaan itu,gue ingin Lo bahagia." ucapnya terkekeh pelan. Ia dulu tidak menyangka jika ia bisa jatuh cinta pada sosok gadis seperti Bita. Padahal mereka kemarin bukanlah orang yang saling kenal,itupun Alze hanya sekedar melirik kearahnya.
Namun,siapa sangka takdir malah membuat keduanya dalam pernikahan,jika dingat kembali saat pernikahannya waktu itu,ia tertawa konyol dengan keputusannya. Betapa gilanya ia membatalkan pernikahan itu dengan Anggi didepan semua orang dan malah menyeret Bita sehingga menjadi istrinya saat ini. Manalagi, Anggi yang disingkirkan merasa santai sambil menikmati puding tanpa merasa sedih ataupun marah dengan kelakuannya.
"agak sedikit aneh bocah yang satu itu." gerutunya pelan mengingat sosok Anggi seperti nano-nano. Ia dan Anggi adalah teman dekat sejak mereka duduk di bangku SMP. Tidak ada perasaan suka diantara keduanya, bagaimana bisa? tentu sudah jelas Anggi,gadis yang susah diajak kerja sama,ceroboh,mau menang sendiri,manja itu membentengi dirinya agar tidak didekati laki-laki.
"gue milih Lo karna apa yaa??" gumamnya lagi memainkan ujung rambut Bita. Ia terkekeh pelan melihat istrinya sama sekali tidak merasa terusik dengan tidurnya. "Lo memang beda Bit," gumamnya sambil mengelap air liur Bita.
"gue pergi bentar yaa,nanti gue balik lagi." ucap Alze hendak berdiri,namun ia dikejutkan dengan Bita yang tiba-tiba menahan lengannya.
"jangan pergi." lirihnya pelan masih memejamkan matanya. Tampak air matanya mulai membasahi pipinya. "jangan mengucapkan kata pergi,orang tua gue pergi selama-lamanya setelah mengatakan pergi. Gue nggak mau dengar lagi." lirihnya.
Mata Bita membuka secara perlahan,lalu ia memeluk suaminya erat. "jangan ngomong itu lagi,gue nggak mau kehilangan orang yang gue sayangi. Lo udah berhasil masuk dalam kehidupan gue,dan gue nggak mau Lo seenaknya pergi dari hidup gue!" lirihnya semakin memeluk Alze erat.