
Bita dan Anggi akhirnya memutuskan untuk pulang setelah saling curhat antara mereka. Tak terasa sudah petang mereka mengobrol dengan panjang lebar tanpa henti.
"nah kan enak gini Bit,Lo nggak sosial distancing mulu,gue tau Lo orangnya nggak pendiam banget." oceh Anggi sambil menyeruput es tebu yang sempat ia beli tadi ditepi jalan.
"terserah Lo aja." ucap Bita pasrah,didiamin pun gadis itu tetap akan berkoar-koar agar ia menanggapinya terus.
Bita memandang langit senja yang terlihat cantik hari ini,sambil menunggu bus datang ketempat halte yang mereka tempati,ia pun mengabadikan momen itu sambil memotretnya.
"eh,tunggu...tunggu." seru Anggi menghalangi pandangan Bita. Bita berdecak pelan, "apa lagi?"
"kurang bagus hasil gambarnya." sahutnya melirik gambar yang sempat Bita ambil tadi. Bita menghendus kesal, "gambarnya bagus kok,nggak blur juga."
"kurang Bit."
"emangnya apa yang kurang?" tanya Bita sabar, sepertinya ia lebih baik berhadapan dengan bos cafenya yang galak dibandingkan berhadapan dengan Anggi. Oh, ngomong-ngomong soal pekerjaannya,sejak menikah dengan Alze. Jadwal runitasnya menjadi kacau balau sehingga ia pun memutuskan untuk berhenti bekerja.
Kalau waktunya banyak longgar,gue bakalan nyari kerja lagi.
"nggak ada gue didalam hehehehe."
"ck,gue kira apa tadi." gerutunya pelan sambil memandang hasil gambar yang ia ambil tadi.
"Bita!" seru Anggi menepuk pelan bahu Bita,sontak gadis itu mendongak lagi kearahnya. "kenapa?"
"Lo banyak melamun Bit,kasih tau gue kalau Lo ada masalah." serunya mendesak agar Bita terbuka dengannya.
Kalau Lo terbuka,gue akan bantu untuk menembus kesalahan yang pernah gue lakuin ke Lo.
"ah...nggak papa,gue bisa mengatasi sendiri kok." ucap Bita sambil tersenyum tipis. Ia memang tidak terbiasa terbuka tentang masalahnya dengan orang lain termasuk Anggi.
***
"lama." oceh Alze cemberut menunggunya pulang,sudah satu jam lebih ia mondar-mandir didepan teras.
"hehehe sorry, dijalan macet." Bita mencium punggung tangan suaminya,sontak tindakannya yang tiba-tiba itu membuat pria itu tersipu malu.
"ehem,ya udah yok masuk." ajaknya membawa Bita kedalam. Sesampai didalam keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga. Tidak membahas yang ringan melainkan membahas bisnis yang Bita sendiria tidak tahu apa itu semuanya.
"kalau saham kita masih cukup kok paa di investasikan kesana." ucap Haura menoleh kearah Deon.
"iyaa tapi,kenapa harus ke perusahaan sana kalau ada yang lain."
"mama maunya disana papa,nanti kita dapat untungnya bagus. Apalagi performa orang sana sudah berkualitas." ucap Haura kekeh dengan pendapatnya.
"nggak mama,yang lain ajalah." tolak Deon tidak setuju dengan pendapat sang istri.
"ish,nggak mau. Pokoknya kalau papa nggak setuju,mama nggak ikut investasi sahamnya!" tegas Haura tidak mau dibantah,bahkan wanita cantik itu melenggang masuk kedalam kamarnya.
"haduh,mulai lagi." gumam Sam memijit kepalanya melihat pertengkaran konyol kedua orang tuanya. "paa ngalah ajalah sama cewek." gerutunya lagi menoleh kearah Deon.
Deon menggeleng keras, "enak aja,gue dah ngalah sama nyokap kalian dari tahun ke tahun. Sesekali ngalah lah." keluh pria beranak tiga itu, sontak membuat tawa yang mendengar keluhannya.
"ngakak,paa." gelak Sam cekikikan.
"ya Allah paa,suami laknat." ejek Azza tergelak mendengar isi hati papanya.
"terserah papalah." ucap Deon acuh tak acuh dengan ledekan anak-anaknya. Tetapi,ia tiba-tiba terdiam langsung berlari kearah kamarnya.
"lah,papa mau kemana??" tanya Azza bingung melihat papanya tiba-tiba panik berlari kearah kamar.
"gawat,kalau mama kalian marah. Papa tidur diluar!" paniknya membuka pintu lalu menghilang dari pandangan keempat manusia yang melihat kearahnya.
"ya udah keluar lah dari keluarga nih!" seru Azza.
"nggak,nanti gue nggak bisa berfoya-foya nyenangin cewek gue." Azza langsung melempar bantal kearah kakak keduanya itu.
"anjiir nih anak,nggak ada akhlak bener."
kruyuuk.
Semuanya terdiam mendengar suara keroncongan itu langsung menoleh kearah Bita yang tersenyum kikuk kearah mereka.
"ya ampun kakak ipar gue kelaparan, buahahahaha." ledek Sam langsung beranjak dari tempatnya. "skuy kak,kita cari makan diluar."
"woi,siapa suruh Lo yang bawa istri gue pergi huh?!" ketus Alze mode posesifnya menatap tajam kearah Sam.
"idih,suami nggak peka. Istri Lo pasti nahan lapar daritadi kak, ckckck tidak patut dicontoh. Yok kak,kita tinggalin dia." serunya menggandeng tangan Bita membawa kakak iparnya itu keluar,tanpa memperdulikan kemarahan suami dari kakak iparnya itu.
"Abrisam!!!" geramnya langsung menyusul kedua orang itu.
"lah,kok gue ditinggal sendiri disini,ikut kaaaak!!" teriak Azza tergopoh-gopoh menyusul kakaknya.
***
"fufu...kita udah lama nggak makan bareng diluar." seru Azza menyeruput mie ayam tempat langganan keluarga mereka.
"astaga dek,Lo makan pelan-pelan,bisa kesedak nanti." gerutu Sam mengelap mulut Azza yang berlepotan.
"hehehe enak loh kak."
Alze memisahkan daun bawang dari mangkuk miliknya ketempat Bita. Pria itu sungguh tidak suka dengan daun bawang. "nah ini sayang." serunya menyodorkan mangkuk Bita dihadapan gadis itu.
"makasih Al." jawabnya sambil menyeruput mie ayam miliknya. Alze tersenyum lebar membuat Bita tersedak melihat pesonanya.
"uhuk...uhuk." Dengan sigap Alze mengambil air minum untuknya. Bita langsung meneguk air itu sampai habis.
"makanya kak, pelan-pelan aja makannya. Nggak bakalan habis kok,nanti kalau kurang tinggal tambah lagi." ledek Azza menatap kakak iparnya.
Senyum kakak Lo tuh hah,buat gue tersedak Azzaa. gemasnya dalam hati.
Walaupun ia sering melihat senyum Alze,namun baru kali ini pria itu menunjukkan senyum lebar padanya. Kejadian langka itu tidak akan pernah ia lupakan sampai seumur hidupnya.
"Bita, ini Lo?" seru seseorang tiba-tiba menyapa Bita. Bita mendongak dan terkejut melihat orang itu.
Gadis berambut gelombang itu tersenyum sinis kearahnya. "udah lama nggak liat Lo,gue kira nggak bisa liat Lo lagi." ucapnya sinis membuat Alze dan adik-adiknya menoleh tajam kearahnya. Sontak membuat gadis itu menelan saliva gugup.
"kalian tau nggak sih ini siapa? dia pemb—"
"kalau Lo buat masalah disini,mending Lo pergi dari sini sialan!" cerca Azza tidak suka. Gadis yang tadi riang menyantap makanannya kini sudah tidak berselerah lagi karena kedatangan gadis yang tidak diundang itu.
"what? apa Lo bil—"
"cukup Anya!" sentak Bita menggebrak meja menatap tajam kearah gadis bernama Anya itu. "gue udah muak dengar kata-kata Lo yang terus mengiang ditelinga gue. Kalau Lo nggak suka sama gue,mending Lo pergi dari hadapan gue!" Ia masih ingat dengan jelas bagaimana gadis yang membulinya waktu itu sampai membuatnya hampir depresi.
"cih, mentang-mentang Lo sama orang tampan belagu gini gaya Lo!"
"dia suami gue,dan mereka adik ipar gue. Kenapa? kaget Lo kan??" seru Bita lagi langsung berdiri.
"dengar baik-baik Anya,gue bukan Bita yang dulu,yang sering Lo buli. Sekarang Lo pergi daripada Lo buat malu diri Lo sendiri!" ucapnya dingin membuat Anya mau tak mau pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal.
Bita mengepal tangannya menahan amarah yang bergejolak. Dirinya begitu kesal dan sedih mengingat kejadian yang ingin ia lupakan itu kembali menoreh hatinya lagi.