I'M Your Wife

I'M Your Wife
Pekerjaan Alze



"nanti aku tunjukkan sayang." jawab Alze sambil mengelus kepala istrinya sayang,setelah mereka menyantap sarapan dan mendengarkan jadwal yang diberikan mamanya. Mereka pun melakukan aktivitas masing-masing. Bita terus mengekori kemanapun suaminya pergi,maklum seorang perempuan pasti penasaran dengan. pekerjaan suaminya.


"kamu nggak lelah sayang?" tanya Alze membalikkan badannya, ia saja lelah melihat istrinya dengan perut sebesar itu mengekorinya daritadi.


"aku penasaran,kamu kerja apa sayang." Bita bergelayut manja memeluk lengan suaminya. Alze hanya terkekeh pelan. "jadi,kamu mau sekarang liatnya?"


Bita mengangguk semangat,lalu ia kembali murung saat melihat pakaian yang dikenakannya.


"kenapa?"


"aku harus siap-siap dulu,tapi kayaknya bakalan lama." lirihnya.


"nggak bakalan aku tinggalin kok,kamu siap-siap aja dulu sana." Seru Alze peka maksud istrinya.


"janji?"


"iyaa sayang,janji!"


"Okee tunggu sebentar yaa,akan ku usahakan cepat!" serunya berlari kecil kearah kamarnya.


"hati-hati perut kamu udah kembung,jangan lari-lari Bit!" gemasnya memperingati istrinya. Kadang Bita suka lupa jika ada seseorang didalam perutnya,wanita itu suka melakukan aktivitas lumayan ekstrim yang sering membuat Alze spot jantung melihatnya.


"ya ampun Bit." gerutunya pelan.


***


Bita dibuat takjub dengan bangunan sederhana yang estetik didepannya ini. Ia penasaran,seperti apa didalamnya.


"yok turun." ajak Alze memakirkan mobilnya didepan bangunan itu. Bita ternganga dan menoleh kearah Alze.


"tunggu,kamu kerja disini?"


Alze tertawa pelan,tetapi tidak menjawab pertanyaan Bita. Ia membiarkan wanita itu semakin penasaran dengannya.


"Al,jawab dong!" rengeknya tidak mendapatkan jawaban dari suaminya itu,malah Alze keluar terlebih dahulu darinya.


"ck, ya ampun punya suami gini amat." omelnya,lalu menyusul pria itu. Alze menggenggam tangan Bita erat,lalu memasuki bangunan tersebut.


Suara decitan sepatu masih terdengar olehnya,apalagi aroma baru bangunan itu masih terasa. "Al,ini bangunan baru ya?"


Alze mengangguk pelan,lalu memencet tombol lift didepannya. Ada beberapa orang yang memakai name tag tersenyum kearah mereka lalu melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Uniknya,baju mereka tampak lebih santai tidak seperti orang kantoran yang Bita bayangkan.


"unik juga yaa,emangnya boleh mereka makai baju santai gitu?" tanyanya pada Alze,ia pun melirik baju suaminya yang terlihat keren dimatanya.


Ah,sejak kapan Alze setampan ini? sedangkan gue...


Ia melirik baju dress yang ia gunakan,terlihat sederhana. Ia juga tidak terlalu nyaman dengan baju yang mewah.


"hmm tidak cocok berdiri disampingnya." gumamnya pelan,kadang ia merasa tidak percaya diri jika berdiri disamping Alze.


"kenapa kamu bilang nggak cocok?" tanya Alze menatap intens kearahnya. Bita terkejut,suaminya itu mendengar ucapannya.


"bu-bukan,itu kar—" Mata Bita membulat sempurna saat Alze mencium bibirnya. Kalau hanya mereka berdua,Bita masih maklumi. Tapi,ini didepan dua orang asing yang satu lift dengannya.


Bita yang malu langsung mendorong Alze menjauh darinya,ia memalingkan wajahnya tidak ingin melihat kearah Alze.


Alze terkekeh sambil mengelap bibirnya dengan jarinya,ia melirik kearah dua orang yang menjadi saksi tindakannya tadi. "nggak papa kan?" tanyanya santai membuat Bita menatap horor kearahnya.


"nggak papa kok bos,santai aja. Anggap kami cuma butiran debu." seru pria yang bernama Ben.


"iyaa,lanjutkan aja." timpal pria disebelahnya menahan senyum yang bernama Mario. Bita semakin malu dibuatnya sambil menutup mukanya.


Astaga,suamiku itu mana urat malunya hah?! bisa-bisanya dia santai bertanya frontal kayak gitu!


"tuh,mereka bilang santai aja Bit,mau coba lagi nggak?" godanya semakin menjadi-jadi. Bita menatap tajam kearahnya.


Alze dibuat senyam-senyum dengan tingkah malu-malu Bita. Bita mengigit bibirnya sambil melihat angka lift yang ia naiki saat ini. Tiba-tiba perutnya kembali merasa kram membuatnya meringis.


Alze sontak menghampiri Bita, "ada apa sayang? kram lagi?" tanyanya langsung mengelus lembut perut Bita. Bita hanya mengangguk sambil mencengkram bahu Alze pelan. Setelah sampai di lantai yang mereka tuju,Alze langsung menggendong Bita layaknya pengantin baru keruangannya. Sedangkan dua orang tadi,disuruh untuk mengambil minum dan memanggil dokter kandungan.


Alze membaringkan Bita di sofa yang empuk diruangan kerjanya. Sambil mengoles minyak telon,ia mengusap perut istrinya. "masih sakit?"


Bita mengangguk pelan, Alze semakin khawatir karena akhir-akhir ini Bita sering merasakan kram. Tak lama ada seseorang yang mengetuk ruangan kerja Alze, "masuk!"


"bos,ini minumnya. Sebentar lagi dokternya datang." ucap Ben memberitahu kepada bosnya. Alze mengangguk pelan,setelah itu Ben pamit keluar dari ruangan bosnya itu.


"huft,semoga nggak jadi apa-apa dengan kalian. Sayang,minum dulu airnya." bujuknya membantu Bita meminum air putih itu sampai habis.


Setelah itu membiarkannya istirahat sejenak. Alze mondar-mandir menunggu dokter itu yang tak kunjung datang,tak lama ada seseorang yang menggedor pintu ruangannya dan Alze langsung membuka pintu itu. "lama sekali." kesalnya pada dokter muda didepannya itu. Dokter tadi menunduk, "maaf pak,tadi saya bantu orang bersalin dulu. Dia udah kontraksi dari pagi." jelasnya sopan.


Alze terdiam,ia menyadari dirinya sedikit egois karena terlalu menghawatirkan istrinya sedangkan ada orang lain yang lebih membutuhkan dokter tersebut. "huft,baiklah. Tolong periksa istri saya." pintanya membiarkan dokter itu memeriksa istrinya.


"semuanya normal pak,tidak ada sesuatu yang serius." ucap dokter itu setelah memeriksa keadaan Bita.


"kalau masalah kram itu bagaimana dok?" tanya Bita,dokter tadi tersenyum kearahnya.


"itu hal yang biasa saat ibu hamil sudah menginjak usia tujuh bulan. Tidak semua kram berdampak berbahaya,itu bisa disebabkan karena adanya kontraksi Braxton Hicks dan nyeri ligamen perut. Kontraksi Braxton Hicks itu kontraksi palsu yang dapat terjadi memasuki setengah akhir periode kehamilan dan nyeri ligamen itu kondisi yang dapat terjadi karena seiring dengan bertambahnya usia kehamilan,ligamen yang ada di area perut dan panggul akan terus membesar agar bisa menopang rahim. Jadi ibu tidak perlu khawatir tentang hal itu." jelasnya.


"syukurlah." ucap Bita dan Alze bersamaaan


"jadi,untuk mengatasinya,ibu bisa berbaring sebentar,minum lebih banyak air putih, berendam di air hangat,atau mengubah posisi tidur ibu,boleh juga menggunakan sabuk khusus ibu hamil agar nyeri kramnya berkurang." jelasnya lagi.


"terimakasih dok." ucap Bita.


"sama-sama kalau begitu saya permisi dulu,oh ya untuk resep vitaminnya sudah saya tulis disini,jadi silahkan membeli vitamin tersebut."


"baik dok,sekali lagi terimakasih."


Dokter itu mengangguk, "saya permisi dulu,mari."


"mari dok." ucap Alze,ia pun menyuruh Ben untuk mengantar dokter itu keluar. Setelah itu Alze menghampiri Bita yang fokus menatap ruangan kerjanya.


"kamu sebenarnya kerja apa Al?" tanyanya penasaran,melihat ruangan sebesar ini yang hanya diisi dengan satu meja dan sofa,apalagi ada kulkas mini didekat sana,tentu Alze bukan karyawan biasa. Lalu suaminya itu menjabat sebagai apa?


"hehehehe,tuh!" tunjuknya kearah papan nama meja. Bita mengikuti arah tunjuk suaminya dan terngaga saat melihatnya.


"ba-bagaimana bisa? kamu? seorang CEO disini?!"


Alze tertawa lepas,ia pun gemas mengacak-acak rambut istrinya. "ya bisalah,kan usaha."


"tapi,kok aku nggak tau kamu..."


"itu karna aku ingin memberikanmu kejutan sayang,gimana udah cocok belum aku jadi CEO?" godanya sambil menaikkan alisnya.


"hmm cocok sih,tapi yaa aku tetap masih nggak nyangka aja loh. Kita kan masih kuliah Al."


"nggak ada salahnya,kalau kita masih kuliah Bit. Justru,kita harus bangun usaha kan bukan setelah tamat kuliah baru membuat bisnis. Itu pikiran yang salah,karna setiap mau memulai suatu bisnis,harus dilakukan saat itu juga. Dan aku bangga,akhirnya usahaku kesampaian juga." ucapnya bangga menatap ruangan kerjanya itu. Bita juga ikut bahagia mendengarnya,dan langsung memeluk suaminya.


"kamu hebat sayang,aku bangga punya suami kayak kamu." ucap Bita tersenyum haru.


"aku juga bangga punya istri kayak kamu,jadi jangan merasa insecure lagi kalau kamu itu nggak cocok sama aku. Kamu itu wanita yang luar biasa dalam hidupku Bit,malah kamu sendiri yang membuatku sampai bisa sejauh ini. Kalau bukan kamu dan anak kita,aku tidak akan berjuang sekuat tenaga sampai titik kita berada saat ini." ucapnya memberikan wejangan untuk Bita,ia tidak ingin istrinya merasa tidak percaya diri bersamanya,apalagi hasutan dari para-para benalu yang bisa membuat hubungan mereka renggang.


Bita menghela napas pelan,suaminya itu rupanya tahu isi hatinya. "makasih udah peka."


"hahaha, sama-sama. Kamu lapar? yok makan!" ajaknya menggandeng tangan istrinya keluar ruangannya.


"yok!"