
Mata Azza membulat sempurna saat mendapatkan kabar kakak iparnya masuk rumah sakit, ia diam-diam membuka ponselnya dibawa meja. Ia begitu cemas dan ingin segera menemui Bita. Namun, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuknya pergi kesana, melihat guru killer sedang menjelaskan materi tentu membuatnya menciut untuk izin.
"Huft," Azza hanya bisa menghela napas pelan, memandang materi yang dijelaskan guru didepan.
Sial, gue nggak bisa konsentrasi. gerutunya dalam hati.
Sebenarnya ia bisa saja nanti setelah pulang sekolah menemui keponakannya itu, tetapi Azza begitu penasaran dan tidak sabar menemuinya.
Algha menyerngit melirik kesamping, gadis yang biasanya tenang itu malah seperti cacing kepanasan. "Kenapa?" tanyanya sambil berbisik.
Azza tersentak lalu menoleh. "Ah, nggak ada,"
Algha seperti tidak yakin dengan jawaban Azza. "Lo mau ke WC?" tebaknya, siapa tahu gadis ini ingin pergi membuang air kecil, tetapi karena guru killer didepannya mungkin tidak berani.
Azza menggeleng, entah kenapa ia malah menunjukkan pesan diponselnya itu pada Algha. Pria itu mengangguk paham, ia terkekeh pelan lalu menatap ke depan. "Lo mau pergi sekarang juga?" tanyanya langsung dianggukan antusias oleh Azza.
"Gue ada rencana," gumam pria.
"Gimana?" Algha sampai tercengang dengan sikap Azza berubah seratus delapan puluh derajat. Ia tampak imut dan menggemaskan dimata Algha.
"Liat gue," ucap pria itu mengacungkan tangannya keatas. "Permisi Bu!" selanya.
Guru tadi menoleh kearah Algha. "Kenapa?" tanyanya, bahkan semuanya menoleh kearah Algha. Tidak biasanya pria itu menyela guru yang menjelaskan didepan.
"Saya izin ke kamar mandi Bu." pamitnya langsung dianggukan guru itu. Algha tersenyum tipis sekilas kearah Azza lalu berjalan keluar dari kelasnya. Azza masih tidak paham apa maksud pria itu?
"Permisi, mohon maaf menganggu waktu belajarnya, kepada Azza Adelia Khanza untuk menghadap ke ruang guru. Terimakasih." ucap orang yang memanggilnya melalui mikrofon sekolah.
"Siapa namanya Azza disini?" tanya guru sambil melirik satu persatu anak muridnya. Azza mengacungkan tangan secara perlahan. "Kamu disuruh ke kantor sekarang!" ucap guru itu. Azza mengangguk pelan, dengan segera ia berjalan keluar dari kelas.
"Langkah pertama berhasil." ucap Algha sambil bersandar di dinding menunggu kedatangan Azza keluar dari kelas. Azza terkejut langsung menoleh kearah pria itu.
"Sudah gue duga ini kerjaan lo. Btw, makasih atas bantuannya. Abis ini biar gue lagi yang mikir jalan keluarnya." ucapnya pelan hendak berjalan melewati pria itu, namun pria itu menghadang jalannya.
"Siapa suruh lo sendirian yang bolos?" Algha menggenggam tangan Azza. Azza menepis tangan Algha, ia takut ada yang melihat mereka bergandengan seperti tadi.
Algha terkekeh pelan sambil menatap lekat kearah Azza. "Lo yakin bisa keluar sendiri? Lo kan tau sekolah kita gimana satpamnya," ucapnya menarik tangan Azza menuju belakang sekolah. Gadis itu bingung pria itu hendak membawanya kemana. Ia menyergit bingung saat melihat triplek didepannya itu.
"Lo nggak keberatan kan, tas lo tinggal di kelas?"
Azza menggeleng. "Nggak ada barang penting didalamnya," ucapnya lalu berjalan mendekati triplek yang bersandar di dinding sekolah. Ia jadi curiga dan benar saat memindahkan triplek itu ia menemukan celah lubang yang terhubung keluar sekolah. "Darimana Lo tau ada lubang disini?" tanya Azza.
"Dari orang sering bolos lah," serunya melewati lubang itu, lalu mengulurkan tangannya. "Cepat, jangan sampai ketahuan,"
Azza langsung menerima uluran tangan pria itu, mereka akhirnya berhasil lolos keluar dari sekolah.
***
Alze sesekali mengeluarkan air matanya, menatap Bita terus menahan sakitnya. Padahal mereka sudah tiba di rumah sakit, namun istrinya masih belum bisa melahirkan lantaran baru pembukaan ketiga. Sesekali ia mengelus perut istrinya.
Tak lama, orang tuanya datang setelah dikabari jika Bita segera melahirkan. Mereka langsung tergopoh-gopoh pergi ke rumah sakit. Tidak terkecuali Azza berlari kencang masuk kedalam ruangan Bita. Bahkan Algha sampai kewalahan mengejar gadis itu.
"Kak Bita!" serunya menghampiri Bita, Haura dan Deon menatap tajam kearah Azza.
"Azza, kenapa kamu bisa kesini? Kamu bolos nak?" tanya Haura menghampiri putri bungsunya. Azza mendadak keringat dingin, bingung harus menjawab apa.
"Maaf tante, om. Saya sama Azza ada kegiatan diluar, jadi kebetulan bisa kesini." ucap Algha masuk kedalam ruangan tersebut.
Suasana tampak hening, Alze tidak terlalu memperdulikan pria asing yang baru saja masuk kedalam ruangannya, fokusnya saat ini adalah Bita.
"Kamu siapa?" tanya Deon mendekati Algha. Algha menelan saliva melihat tatapan tajam yang ditunjukkan Deon.
"Pa, namanya Algha. Aku kenal dia, dia baik anaknya," Timpal Sam tiba-tiba yang baru saja masuk kedalam ruangan. Seperti biasa, ia memamerkan deretan giginya menatap Deon. "Yuhuu kak Bita anak lo mau brojol kak?" tanyanya menghampiri kedua pasangan itu.
Alze menatap tajam, sedangkan Sam tergelak menatapnya. "Tenang kak, gue kan cuma nanya doang. Nggak usah natap gue kayak gitu." gelaknya lalu terdiam saat menyadari jika ada Anggi diruangan ini.
"Lo? Kok bisa disini?"
"Jelaslah gue bisa disini, orang gue sahabatnya Bita," jawab Anggi ketus, lalu dirinya menatap Bita. "Bit, lo harus kuat yaa. Kalau udah pembukaan lengkap, lo harus siap!" seru Anggi menyemangati Bita. Bita tersenyum samar, wajahnya terlihat pucat menatap Anggi sambil mengangguk pelan.
Sam mendekati Anggi, "Gimana penampilan gue? Keren nggak?"
"Nggak, percuma lo gaya-gayain rambut lo, karena di mata gue Lo tetap sama aja jeleknya."
"Asem nih orang, gue udah susah payah ngantri di bar-bar shop ya."
"Ada terlihat muka gue peduli? Nggak kan."
"Udah...udah, nggak liat kalian Bita kesakitan kayak gitu. Kalian masih bisa-bisa berdebat disini." gerutu Alze membuat keduanya diam. Namun, bukan Sam namanya menurut begitu saja. Ia bahkan melemparkan kedipan mata pada gadis unik itu.
"Idih, buaya banget, " ketusnya menatap jijik kearah Sam. Baginya ini pertama kali bertemu dengan makhluk narsis seperti Sam yang memiliki segudang wanita.
Lain hal dengan dua orang pria berbeda usia ini, saling berbincang serius didekat pintu, tanpa menghiraukan jika mereka semua menatap kearah mereka. Tampak raut Deon terkejut saat Algha menjelaskan sesuatu pada pria paruh baya itu.
Bahkan Haura yang daritadi disamping Alze, jadi penasaran apa yang diperdebatkan mereka. "Kalian sedang bicara apa?" tanyanya.
Baik Deon maupun Algha langsunh menoleh. "Nanti, aku kasih tau sayang." ucap Deon lalu kembali fokus berbicara dengan Algha. Azza yang mengelus perut Bita ketar-ketir melihat keduanya. Mendadak perasaannya tidak enak, ia sangat tahu kalau Algha itu orangnya terus terang tidak bertele-tele. Ia yakin, pembasahan mereka kalau yang tidak lain tidak bukan adalah...
"Tidak semudah itu!" ucap Deon tegas membuat Algha terdiam, terlihat dari raut pria itu menelan kekecewaan.
Deon menghela napas kasar, lalu keluar dari ruangan begitu juga dengan Algha. Haura yang merasa ada yang tidak beres, langsung menyusul suaminya. "Al, kamu jaga istri kamu." ucapnya sebelum berlalu.
Azza menelan saliva, ia pun menoleh kearah Sam. Sedangkan kakak keduanya itu hanya mengedik bahu.
"Huft, sial." umpatnya langsung menyusul Algha keluar. Tinggallah mereka berempat dengan meninggalkan suasana jadi hening, bahkan Bita tidak terlalu merasakan sakit yang cukup hebat seperti sebelumnya.