
Alze menatap tajam kearah Bita lalu melirik kearah Mezza yang kini tersungkur akibat ulah istrinya.
Mak,istri gue kuat juga.
Alze menggeleng kepalanya pelan, berhenti memuji istrinya. Ia tidak bisa membiarkan istrinya terlibat dalam hal konyol yang mungkin bisa menyebabkan bahaya pada anaknya yang ada dalam kandungan Bita.
"kenapa kalian masih berkerumun disini?! bubar!!" sentaknya membuat semua orang tergopoh-gopoh meninggalkan mereka bertiga. Alze menatap tajam kearah Mezza yang kini menatap kearahnya dengan tatapan sendu. "apa gue masih kurang menarik dimata Lo huh Al? apa sih cantiknya dia dari pada gue?! kenapa Lo milih wanita murahan ini daripada gue?!"
Alze mengeras rahangnya, ia berjalan mendekati Mezza. "harusnya Lo sadar diri Mezza,apa yang Lo inginkan nggak semuanya Lo dapatkan,dan ingat baik-baik. Jangan pernah menyakiti Bita dan anak gue,kalau Lo berani menyakiti mereka berdua,Lo harus berhadapan dengan gue!" ancam Alze langsung menarik Bita pergi dari sana. Sedangkan Mezza stok mendengar apa yang dikatakan Alze barusan.
"Bita...hamil?" Mezza mengepal tangannya kuat,melampiaskan apapun yang ada dihadapannya. "brengsek!!"
***
Bita hanya diam saja tanpa berniat membuka suaranya. Ia tahu saat ini suaminya ini dalam mode marah,lihatlah cara berjalannya yang terburu-buru sambil menarik tangannya membuat Bita hanya diam mengikutinya.
"kenapa kamu diam aja??" tanyanya membuat Bita mendongak menatap mata Alze.
"hm?"
"huft...kenapa kamu diam aja tanpa ngasih tau apapun soal Mezza,kalau aku tau lebih cepat,mungkin kalian nggak bakalan kayak tadi."
"tapi aku kan sel—"
"nggak ada tapi-tapian,itu masih beruntung aja nggak kenapa-kenapa. Coba kalau kamu tadi sempat jatuh,anak kita dalam bahaya!" geramnya lalu ia memalingkan muka. Dalam hati Alze ia sangat menyesal melampiaskan amarahnya pada Bita,pokoknya apapun yang berkaitan dengan istrinya ia selalu lepas kontrol emosinya.
Bita tertunduk diam,ia juga tidak berani menatap wajah suaminya. Sambil menggenggam tangan suaminya dengan gemetaran,ia mencoba untuk meminta maaf pada Alze. "maaf,karena aku lalai." cicitnya.
Alze merasa bersalah karena Bita memegang tangannya dengan gemetaran,ia pun langsung memeluk istrinya itu erat. "maaf buat kamu takut,aku takut kalian kenapa-kenapa."
Bita semakin mengeratkan pelukannya, "harusnya aku yang bilang itu Al."
"pokoknya apapun itu,ngomong sama aku dulu yaa,jangan bertindak sendirian kayak tadi. Aku nggak mau kalian kenapa-kenapa."
"Okee papa!!" seru Bita tersenyum tipis,Alze terkekeh pelan sambil mengacak-acak rambut istrinya gemas. "yok,kita pulang."
"eh? bukannya kita masih jadwal kuliah lagi?" tanya Bita mengingat jadwal kuliah kelas mereka hari ini.
"nggak jadi masuk juga,dosennya lagi sakit yang pelajaran jam segini." jawab Alze sambil menggenggam tangan istrinya.
"kita mau kemana Al?" tanya Bita melihat suaminya memasang seltbelt padanya. Alze tersenyum lalu mengecup bibir Bita cepat. "tengok aja nanti,lagian aku lagi bosan dirumah."
"oh,biar aku tebak!" seru Bita semangat,Alze mengangguk setuju.
"ke mall?" Alze menggeleng.
"hmm ke taman?" Alze menggeleng juga,ia sekilas melirik kearah istrinya.
"bioskop?"
"nggak juga."
"danau? laut? sungai?"
"nggak."
Bita menggerutu frustrasi,ia jadi penasaran dibawa kemana oleh suaminya itu. "jadi kemana?"
"yaah,nanti kamu liat sendiri." ucap Alze lagi. Vita hanya bisa menghela napas pelan,dan bersabar.
"eh? kita kesini?" tanya Bita membelalak melihat toko cokelat didepannya,Alze mengangguk. "yok turun." ajaknya sambil melepaskan seltbeltnya.
Bita dengan semangat keluar menyusul suami. "woaah Kereen." serunya menatap toko cokelat yang dipenuhi dengan deretan coklat manis yang bakalan menggunggah seleranya.
"eh,Al kita mau kemana?" tanya Bita bingung melihat suaminya terus berjalan kebelakang. Tidak ingin ketinggalan ia pun menyusul suaminya itu.
"sinilah." ajaknya menggandeng tangan Bita.
"Al,jangan bilang kita mau buat coklat disini?" tebak Bita langsung dianggukan Alze.
"Zig,gue ganggu yaa toko Lo sebentar." serunya sambil menepuk pundak Hazig.
Hazig hanya menghela napas lalu mengangguk, "asalkan jangan buat gue bangkrut ajalah,gue belum nikah. Nanti anak istri gue makan apa lagi,kalau gue bangkrut."
"tenang aja Zig,gue nggak bakalan bikin toko Lo bangkrut malah laris manis nanti." seru Bita.
"justru kalau yang Lo ngomong Bit,gue agak cemas dengan toko gue."
"heh,nggak usah ragukan masakan istri gue,nah pergi sana. Gue mau masak berdua dengan istri gue."
"ck,dasar bedebah sialan. Gue pemiliknya malah diusir." ucapnya menggerutu meninggalkan mereka berdua didalam.
"nggak nyangka Hazig punya toko coklat." serunya menatap lumeran cokelat disana.
"haiss,jangan dicicipi langsung Bit,kasian coklatnya tercemar nanti,nggak steril lagi dia." ucap Alze gemas melihat istrinya ingin mencicipi cokelat itu dengan jari.
"yaa abis keliatannya enak,nggak papalah yaa Al." mohonnya. Alze menarik napas panjang,lalu mengambil mangkuk dan sendok kecil yang ada di sana,ia pun menuangkan cokelat didalamnya.
"nah,kamu makan pakai ini aja."
"asyiiik,makasih Al sayang." ucapnya sambil mengecup pipi suaminya. Ia pun langsung merampas mangkuk yang ada ditangan suaminya itu.
Alze memotretnya diam-diam yang asyik memakan cokelat. Tidak peduli mulutnya bercelemotan dengan cokelat.
Bita,ck.
Alze langsung menghampiri Bita,dan tanpa basa-basi menyapu sisa cokelat dengan mulutnya dan berakhir dengan ciuman yang panjang.
"astaga woii,sadar tempat!!" gerutu Hazig membawa beberapa cetakan yang akan digunakan Bita,tetapi dirinya malah melihat adegan live pasangan suami istri itu.
"gilaa kalian,toko cokelat gue nggak suci lagi." gerutunya menghempaskan cetakan itu diatas meja.
"idih,lebay."
"ish,gue masih jomblo loo,kenapa kalian buat gue jadi nyamuk sih???" rengeknya kesal.
"diamlah,jangan ganggu. Makasih." usir Alze mendorong sahabatnya keluar dan menutup pintu.
"Alze sialan!!" umpat Hazig dari luar sedangkan Alze terkekeh pelan.
Alze menghampiri Bita yang tampaknya masih malu-malu menatapnya, "kenapa,mau lagi kayak tadi?" godanya,Bita membelalak lalu memalingkan wajahnya.
"ish,dasar genit. Ambil kesempatan dalam kesimpulan."gerutu Bita menjauh dari Alze,bisa bahaya jantungnya lama-lama dengan tingkah abstrud suaminya itu.
Mereka pun menyiapkan bahan-bahan yang akan dibuat cokelat untuk mereka nanti,Bita dan Alze saling membagi tugas untuk memasaknya.
"Bit,tunggu bentar." ucap Alze tiba-tiba saat Bita hendak memasukkan biji kakao kedalam mangkuk besar.
"kenapa?" tanya Bita bingung.
"biar gue aja,itu berat." ucapnya mengambil alih bagian Bita.
"hah? ini nggak berat loh Al,cuman setengah ons bijinya." protes Bita,padahal ia ingin membuat cokelat itu dari awal sampai akhir.
"nggak,nanti kamu capek sayang." ucap Alze tidak ingin dibantah. Bita akhirnya mengalah dan membiarkan suaminya melakukan itu untuknya.
"Alhambra Zeroun,kapan gue berpartisipasi disini?!" geramnya kesal melihat suaminya daritadi mengambil alih pekerjaannya dan dirinya hanya menatap suaminya melakukan pekerjaan itu semua.
"ini hukuman buat kamu karena tadi." jawab Alze santai membuat Bita membelalak tidak percaya.
"apa? tapi tadi bukannya kamu udah maafin?".
"iyaa udah aku maafin,cuma yaa kamu harus dihukum sayang. Sabar yaa, kamu hanya bisa liatin aja,nggak perlu ikut masak. Nanti coklatnya kamu juga nggak bakalan kebagian kok,ini buat aku juga. Kamu hanya liatin aku makan nanti yaa." cengir Alze membuat Bita kesal mendalam.
Bita merengek kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya. Walaupun ini bukan hukuman,tetapi baginya ini sudah berat. Tidak ada seorangpun yang tahan untuk tidak makan cokelat termasuk Bita kecuali ada yang alergi atau memang tidak suka. Apalagi hanya melihat suaminya makan tanpa mengajaknya ikut.
Alze kampreet.