
Bita berjalan lunglai setelah membeli bahan-bahan di warung. Kuliah mendadaknya itu tidak jadi membuatnya pergi ke pasar,Bita hanya membeli beberapa bahan yang ada di warung. Ia menyesali menyetujui untuk membantu Anggi,padahal dirinya tidak ingin terlalu dekat dengannya.
"ah,menyebalkan." gerutunya sambil membuka pintu rumahnya. Wajah sendu Bita memandang sekeliling ruangan,tertawa miris menatap rumah itu.
"benar,tidak ada yang menyambutku pulang." lirihnya sedih sambil menghidupkan saklar lampu. Bita meletakkan beberapa bahan makanan diatas meja makan dan membuang sampah-sampah tadi pagi yang belum sempat ia bereskan. Bita mengikat cepol rambutnya dan mulai memasak makanan untuk dirinya sendiri.
Sambil menunggu masakannya matang,ia menatap sekeliling dengan tatapan sendu,sunyi,terasa hampa bisa dirasakannya saat ini. "aw." ringisnya saat merasakan percikan minyak panas mengenai tangannya,dengan cepat ia membasuh dengan air.
"huft, akhir-akhir ini pikiran gue berat banget. ck,jangan banyak melow Bit,semangat pasti bisa Bit!" serunya lagi. Yap,tidak ada gunanya terus meratapi nasibnya,yang ia perlukan saat ini adalah terus maju.
Selesai dengan kegiatan itu,Bita dengan segera mengangkut sampah keluar rumah.
"mbak Bitaa!" panggil seseorang melambaikan tangannya kearah Bita,Bita menoleh dan tersenyum menatap Lila yang sedang bermain dengan teman-temannya.
"haii." seru Bita membuang sampah ditempatnya,lalu menghampiri Lila. "kalian sedang main apa?" tanya Bita melihat permainan tradisional yang dimainkan oleh para bocah itu.
"ini Lo kak, congklak." seru Lila sambil memasukkan satu persatu batu yang digenggamnya kedalam lubang kayu congklak. Congklak itu sejenis permainan tradisional yang dimainkan oleh dua orang yang berhadapan di sisi belakang papan congklak. Saat permainan dimulai, setiap lubang-lubang kecil pada papan congklak diisi lima sampai tujuh batu yang terbuat dari kerang. Sementara itu dua lubang besar yang terdapat di ujung papan dibiarkan kosong.
Saat permainan berlangsung, kedua pemain akan memindahkan batu-batu tersebut dari satu lubang satu ke lubang lainnya secara berurutan dan bergantian. Cara memindahkan batu-batu congklak ini dilakukan searah dengan jarum jam. Di mana satu lubang diisi oleh satu batu begitu seterusnya hingga batu yang digenggam pada tangan habis.
Permainan ini terus berlangsung hingga satu pemain kehilangan batu. Namun permainan bisa juga dihentikan ketika kedua pemain ingin berhenti. Saat itu, pemain akan menghitung jumlah batu yang dimiliki. Pemain yang memiliki jumlah batu paling banyak maka dialah pemenangnya.
"mbak mau main juga nggak?" tawar Lila sambil menyodorkan congklaknya. Bita menggeleng pelan. "main aja dulu sama kawanmu Li. Mbak mau balek pulang kerumah."
"lah? mbak nggak bosen dikamar trus mbak?" tanya Lila. lagi.
"hehehe bosen sih,tapi Mbak mau ngerjain tugas dulu."
"bagus mbak ikut Lila lagi,ya kan Ra?" serunya menoleh kearah temannya. Clara mengangguk semangat menyetujui Lila. "yuk kita pergi!"
Aduh bocil-bocil ini. gumamnya gemas.
"udah malam woi,kita mau pergi kemana emangnya?"
"ya jalan-jalan lah. Lila sama Clara nebeng sama mbak."
"loh? emangnya kita pakai apa?"
"tuh." tunjuk Lila kearah motor yang terparkir cantik diseberang rumahnya. "eh,itu kan punya bapak kamu,nanti kita kena marah." seru Bita memperingati mereka.
"iya juga yaa,Lila belum izin sih sama papa. Hmm kalau gitu skuy kita naik bus!" seru Lila tidak kehabisan akal,yang penting bisa keluar untuk sekedar refreshing otak.
Bita tampak berpikir,tidak buruk juga ia keluar malam-malam bersama dengan anak tetangganya. Bita mengangguk pelan, "izin dulu sama orang tua kalian." ucapnya langsung dianggukan antusias oleh keduanya. Mereka berdua langsung kabur menuju rumah masing-masing untuk meminta izin pada orang tua mereka.
***
Bita menghirup udara segar sambil memegang tangan Clara sebelah kanan dan tangan Lila sebelah kiri,mereka tampak antusias pergi ke pasar malam yang tampak cukup ramai dengan banyak wahana permainan. Mereka langsung bermain anak panah agar bisa mendapatkan hadiah. Bita sangat mahir dalam hal ini,dengan mudahnya ia melempar tepat dititik tengah.
Bita menerima boneka berbentuk roti yang menggemaskan itu pada Lila lalu memberikan boneka berbentuk buah pada Clara.
"makasih mbak." seru mereka sambil memeluk boneka yang sudah didapatkan oleh Bita. Bita tersenyum tipis,mengacak rambut kedua bocah itu sambil berjalan mendahului mereka.
"beli eskrim yok mbak!" ajaknya menunjuk kearah gerai yang menjual eskrim. Bita mengangguk dan mengajak kedua bocah itu berjalan menuju tempat penjual eskrim tersebut.
"pak,pesan eskrim rasa vanila coklat tiga yaa."
"oke mbak,sebentar yaa." sahut penjual eskrim sambil menyiapkan pesanan mereka. Sambil menunggu,Bita mengeratkan sweaternya karena merasa kedinginan dengan cuaca malam.
Bita menatap takjub lampu-lampu yang menggantung indah menambah suasana meriah pasar malam itu. Usai membeli eskrim,mereka semua mencari tempat duduk untuk menghabiskan eskrimnya. Mata Bita tertuju pada bangku kosong tak jauh dari mereka,dengan segera menarik kedua bocah itu ketempat bangku tersebut.
Sesekali Lila melontarkan cerita konyol di sekolahnya membuat mereka berdua yang mendengar ceritanya tertawa terbahak-bahak. Sampai eskrim itu berlemotan dibibir Lila,gadis kecil itu terus berkoar-koar menceritakan dari a sampai z kegiatan konyol di sekolahnya. Suasana hati Bita seketika tenang dan hangat,setidaknya masih ada orang yang masih bisa menghiburnya dan patut ia syukuri hal itu.
Tanpa mereka sadari,jika sedari tadi ada yang memandang mereka dari permainan wahana yang dimainkannya saat ini. Yap,Alze kini menaiki bianglala bersama kedua adik laknatnya yang terus memaksanya pergi ke pasar malam. Tanpa sengaja matanya melirik kearah seseorang yang tampak ia kenali dan sempat membuatnya kesal karena ocehannya tadi pagi.
Tetapi,setelah melihat tawa gadis itu. Rasa marahnya meluap begitu saja dan betah menatap gadis itu tanpa ia sadari. Azza dan Sam saling melirik satu sama lain memandang sang kakak yang tampak diam sambil tersenyum tipis kearah luar. Apa mungkin rencana mereka berhasil menghibur sang kakak?
"sssttt...kak Sam." panggil Azza sambil berbisik. Sam menautkan alisnya dan mendekat kearah Azza. "kenapa?"
"tambah lagi putaran bianglalanya. Kayaknya kak Al suka deh mainnya." ucap Azza. Mereka mengira Alze merindukan permainan ini,padahal tidak. Pria itu sibuk memandang gadis yang sedang menikmati eskrim bersama kedua gadis kecil disana.
"iya juga yaa,apa masa kecil dia kurang bahagia? padahal kita semua sering kok dulu mainnya." gumam Sam pelan.
"mungkin kak Al lagi rindu nggak sih naik ini. Lo cepat bilang sama oomnya tambah putaran lagi!" seru Azza berbisik. Sam mengangguk pelan,lalu kembali menoleh kearah Azza.
"lah,kalau kita minta nambah,tuh siapa yang bayar woi?"
"ya jelaslah, sang bendahara kita!" serunya menunjuk kearah Alze. Sam terkekeh pelan sambil mengacungkan jempol kearah adiknya. "nice."
Sam pun meminta petugas itu menambah putaran bianglala mereka,membuat Alze yang mendengar hal itu menoleh kearah Sam.
"ngapain Lo minta nambah?" tanyanya heran.
"Lo kayaknya senang banget naik ini,ya udah kami tambah lagi putarannya."
Alze berdecak pelan, "sejak kapan gue suka naik beginian???"
"lah,tuh Lo senyam-senyum tadi naik ini." seru Azza yang daritadi memandang wajah Alze tampak ceria.
Alze tertegun,sekaligus lega karena adiknya tidak tau jika ia bukan menikmati bianglala ini,melainkan hal yang lain. "bukan,siapa juga yang suka beginian. Sekarang turun!" sentaknya kesal. Sekilas ia melirik kearah Bita yang sudah beranjak dari tempat bersama kedua bocah itu.
"mana bisa kak,udah dibilang sama oomnya." protes Azza. Ia tidak paham kenapa kakaknya tiba-tiba tidak menyukai bianglala padahal tadi wajahnya ceria naik ini.
"nggak,gue mau turun!"
"nggak bisa woi,sabarlah."
"aaarghh...kenapa juga kalian tambah putarannya woii?!" kesal Alze mengacak-ngacak rambutnya gemas. Adik laknatnya itu malah membuatnya terjebak disini setelah melihat Bita sudah menghilang dari pandangannya.
Tapi,tunggu...Kenapa gue kepikiran gadis itu?
"AAARGH!!" kesalnya berdecak kasar membuat kedua adiknya menatap heran kearahnya.