I'M Your Wife

I'M Your Wife
Menyesal



Bita tersenyum lebar langsung mengeluarkan kucing oren yang tersembunyi dibelakangnya.


"what? ngapain Lo bawa kucing jelek nih kak??"


"hush,jangan ngatain kucing gue jelek,seimut ini masa dibilang jelek sih. Dan Lo harus ingat namanya mas oyen!" seru Bita menekankan nama kucing kesayangannya.


"nah jagain si gembul satu nih. Kami mau pergi!" ucap Alze menyerahkan kucing peliharaan mereka pada Sam.


"eh anak sialan,masa iya gue jagain kucing kalian?!" protesnya namun kedua manusia itu sudah menjauh dari tempatnya. "kak Bitaa!!" teriaknya,namun siempunya nama tidak menghiraukan panggilannya.


"sial banget gue." gerutunya lalu mengangkat setinggi -tingginya kucing itu. "Lo nyusahin gue aja sumpah!" gerutunya membawa masuk kucing itu kedalam rumahnya.


Sementara pasangan suami istri itu kini berada di perpustakaan besar ditengah kota demi mengerjakan tugas yang mereka tunda seminggu kemarin.


"Al,ini referensi dari mana Lo ambil?" tanyanya melihat data yang ditulis Alze. Alze menunjuk kearah buku tebal yang ada didekat istrinya. "Buku itu Bit."


"oh,okee." ia pun menulis beberapa yang dapat dijadikan referensi untuk presentasi didepan kelasnya.


"Al,gue nyari buku yang lain disana yaa." pamitnya.


"hm." sahut pria itu,Bita melenggang ketempat rak buku yang lain. Ia melirik satu persatu buku yang terpajang dirak dan menemukan apa yang ia cari.


"eh?" serunya saat hendak mengambil buku itu bersamaan dengan pria asing disampingnya. "oh maaf,Lo aja duluan." serunya sambil menyodorkan buku itu pada Bita.


"terimakasih." ucap Bita menerima buku tersebut,ia menyerngit heran menatap wajah pria didepannya ini tampak tidak asing.


"gue duluan yaa." ucapnya berlalu meninggalkan Bita yang hanya membalas anggukan. Kayak pernah liat,tapi entah dimana yaa??


Tidak ingin pusing akan hal itu,ia pun berjalan kembali ketempat suaminya.


"ternyata Lo disini Al!" seru pria disebelah suamiku.


"eh itu kan pria yang tadi..." gumam Bita mengamati mereka dari jauh.


"gue tadi liat bini lo disana tadi." serunya membuat Bita tercengang. Loh,kok dia tau gue?


"iyaa tadi dia lagi ambil buku." sahut Alze pelan.


"Lo ngapain disini Zig? nggak biasanya Lo mengunjungi tempat yang Lo benci?"


"cih,gue nggak benci yaa cuma nggak suka aja. Ini gue dipaksa sama Luna kesini. Manalagi anak itu menghilang pulaa." gerutunya.


"adik Lo rajin banget baca buku,beda banget sama Lo!".


"jangan samakan dengan gue!"


"oh ya,mumpung Lo ada disini, rumah yang itu jadi Lo beli?"


"hussst,jangan keras-keras Lo ngomongnya,gue nggak mau Bita sampai tau."


"idih,mau suprise nih ceritanya,kemarin udah gue tanya sama yang punya kontrakan, katanya boleh dijual asalkan bayarnya dua kali lipat."


Bita yang mendengar itu terkejut,suaminya ingin membeli rumahnya?


"berapa?"


"paling ada lah 500 juta."


"what? Al Lo jangan lakuin itu." lirihnya pelan tanpa mereka tahu. Ingin rasanya Bita mencegah pria itu membeli rumahnya,namun ia ingin mendengar alasan pria itu membeli rumah kontrakannya itu.


"gue mau nanya ke Lo, untuk apa Lo beli rumah itu kalau Lo udah punya rumah sendiri?" tanya Hazig lagi.


"gue mau dia nggak kehilangan kenangan sama orang tuanya,apalagi saat gue tau masa kelamnya. Gue nggak mau buat dia menangis lagi." sahut Alze menatap kosong kedepannya.


Bita tertegun mendengar alasan suaminya itu tanpa sadar membuat buku yang dipegangnya terlepas dari tangannya.


Bruuuk.


Kenapa gue masih belum ada rasa sama Lo Al? Lo udah sebaik ini sama gue? Gue terlalu bodoh untuk dicintai Al. Gue nggak bisa bohong kalau gue masih suka dengan Brian. Lirihnya dalam hati.


Alze dan Hazig terkejut dengan kehadiran Bita dibelakang mereka. Mata Bita berair langsung berlari memeluk suaminya.


"maafin gue." lirihnya lagi menangis sesenggukan. Alze yang bingung menoleh kearah Hazig yang mengedik bahu pertanda tidak mengetahui apa yang terjadi.


"kenapa Lo minta maaf?" tanya Alze lembut mengelus rambut istrinya.


"gue minta maaf karna belum ada rasa sama Lo Al." lirihnya lagi tetapi membuat hati Alze sedikit terhenyak mendengarnya. Tetapi,ia tidak menampakkan raut kekecewaan itu pada Bita,dan hanya menunjukkan senyum tipis pada istrinya itu.


"heh,Lo lupa Lo tantangin gue buat lo suka sama gue kan?"


Bita mendongak menatap wajah Alze, "iyaa juga yaa." gumamnya teringat dengan tantangannya itu.


Melihat wajah Bita yang terlihat imut dimatanya membuat Alze yang entah dari mana keberaniannya muncul mencium bibir gadis itu.


Deg.


"sialan kalian,nggak tau tempat!!" umpat Hazig mendadak menjadi saksi mata ciuman mereka. Tanpa mereka sadari bukan hanya Hazig saja yang menjadi saksi mereka itu melainkan gadis cantik dan seksi menatap benci kearah gadis yang kini dalam pelukan Alze.


"sialan,gue nggak akan tinggal diam Bita. Lihat saja pembalasan gue,lihat saja nanti!!" geram Mezza. Ia datang karena ada yang memberitahunya kalau Alze ada disini,dan siapa yang menyangka jika ia diperlihatkan dengan pemandangan yang membuatnya marah.


"gue akan buat Lo dalam masalah Birgitta,lihat saja nanti!!" ancamnya berjalan keluar dari perpustakaan dengan langkah tergesa-gesa.


***


Brian memutar-mutari ponsel ditangannya,membayangkan wajah Bita yang sangat cantik menurutnya.


Kita satu sekolah. kata-kata itu masih terus terngiang dikepalanya,ia terus menerka bahwa dulu tidak ada gadis secantik Bita,karena penasaran ia pun langsung mencari buku tahunannya yang siapa tau ada foto gadis itu.


"sial,nama Bita nggak ada disini." umpatnya kesal memandangi daftar isi buku nama-nama angkatan sekolahnya dulu. Tidak kehabisan akal,ia pun mencari di sosial media tentang gadis itu. Senyum seringainya muncul saat menemukan akun milik Bita.


"Lo akan jadi milik gue!" tekadnya langsung menyambar jaket miliknya. Ia berjalan keluar dari ruangan kerjanya dan berpapasan dengan istri bodohnya itu.


"mau kemana Lo?" tanya Maisya sambil menggendong putra kecilnya. Brian berdecak kasar, "nggak usah ikut campur urusan gue!!"


"gue harus ikut campur kak!! Lo tuh pria brengsek!" serunya kesal membuat Suaminya langsung menatapnya tajam sambil menjambak rambutnya. "Lo bilang apa tadi? gue brengsek? jelas Lo sendiri yang nyerahin tubuh Lo ke gue,ngapain juga gue salah huh? ingat yaa masih mending gue nikahin Lo dari pada nggak,Lo sendiri yang nanggung tuh anak!"


Plaaak.


"jaga mulut Lo kak,anak ini darah daging Lo sendiri,nggak ada rasa kemanusiaan nggak?"


"sial,gue nggak akan pulang!" cercanya menyambar tasnya melenggang pergi meninggalkan istrinya yang terus meneriaki namanya.


"nak maafin mama yaa." bujuk Maisya melihat anaknya terus menangis dalam pelukannya. Andaikan dirinya tidak terjerumus dengan rayuan Brian, mungkin saat ini ia bersama dengan Sam,kekasihnya dulu.


"gue nyesel milih Brian daripada Lo Sam,gue tau tatapan nanar Lo saat liat pernikahan gue." gumamnya sedih mengingat mantannya hanya diam menatap kosong kearahnya bersanding dengan pria lain sambil menyambut para tamu.