I'M Your Wife

I'M Your Wife
Mimisan



Ucapan Bita membuat semuanya terdiam menatap gadis itu dengan tatapan yang berbeda. Hingga Alze datang masuk kedalam kerumunan dan menemui Bita.


"ada apa lagi nih?" tanya Alze tidak suka melihat kerumunan disana,apalagi melihat Bita menjadi sorotan pasti ada yang dipermasalahkan dengan istrinya itu.


Tidak ada yang menanggapi Alze karena takut dengan sorot mata tajam pria itu,tetapi tidak dengan Mezza mendongak kearahnya.


"itu tidak benar kan?" tanyanya pada Alze. Alze bingung, "tidak benar apanya?"


"Lo nikah sama Bita,itu tidak benar kan?" tanyanya mendesak dengan sorot mata yang menyedihkan. Ia takut jika mendengar jawaban dari pria itu,pasti dirinya sangat hancur sekali.


Alze tanpa ragu mengangguk pelan,lalu menggenggam tangan Bita. "iyaa,dia istri gue. Kenapa?"


Sontak semuanya terkejut mendengar pernyataan Alze,semuanya menatap tajam kearah Bita yang telah merebut idola mereka.


Bita mengedik bahu tidak peduli,ia pun melirik kearah Mezza yang menatap nanar kearahnya. "tolong jangan lakuin hal yang membuat Lo malu Za." ucapnya pergi keluar dari kerumunan diikuti oleh suaminya dari belakang.


"Lo baik-baik aja?" tanya Alze khawatir melihat eskpresi istrinya yang terlihat datar. Bita mengangguk pelan sambil meletakkan tasnya diatas meja lalu bersandar dikursi menatap langit kelasnya. "huft."


Ia menatap tangannya yang masih terbalut perban sama halnya dengan tangan suaminya saat ini. Ia teringat waktu itu Azza mengatakan kalau suaminya mengamuk sambil menumbuk kaca sekuat tenaganya. Ia pun memegang tangan Alze yang terperban itu. "apa ini semua gara-gara gue?" tanya Bita menatap Alze. Alze tersentak,lalu berdeham pelan agar istrinya tidak merasa bersalah dengan lukanya.


"hanya kenak pisau aja,jangan khawatir." ucapnya pelan. Bita menggerutu pelan lalu menangkup wajah suaminya agar menatap dirinya. "jangan bohong,gue udah tau semuanya. Ini pasti sebab gue kan?"


Alze menghela napas lalu mengangguk pelan. Bita tersenyum ketir, "gue ada bilang sesuatu sama Lo yaa? atau gue nggak sengaja nyakitin perasaan Lo Al?" tanya Bita penasaran.


"Lo ada nyebutin nama pria brengsek itu pas tidur." gerutunya pelan,lalu menatap mata istrinya. "Lo masih suka sama dia?"


"nggak,gue malah benci sama dia. Gue kira dia pria yang baik tapi ternyata nggak." lirihnya pelan,bagaimana kejadian itu membuat dirinya terus terngiang.


"maaf yaa gue malah buat Lo sakit,apalagi saat Lo liat gue sama dia ada dihalte kemarin... malah semakin buat Lo salah paham."


"gue ngerti kok,gue juga minta maaf ninggalin Lo waktu itu. Seandainya gue bawa Lo langsung,kejadian itu pasti tidak ada."


Bita terkekeh pelan,lalu mencium pipi suaminya. "makasih Al." serunya berlari kecil meninggalkan Alze yang terdiam karena tindakannya barusan.


"ya ampun imutnya,eh Bit! ngapain Lo keluar woi,dosennya bentar lagi masuk!!" seru Alze namun siempunya nama sudah menghilang dari pandangannya.


ck. Alze langsung menyusul Bita sebelum dosen masuk kedalam kelasnya tanpa memperdulikan panggilan teman-temannya.


"gilaa mereka udah bucin banget woi,uwu kalii." seru salah satu teman kelasnya.


"yaah ayang gue udah jadi milik orang lain,beruntung banget Bita yaa."


"serius gue baru pertama kali liat Alze semanis itu!!" semuanya ricuh membahas pasangan suami istri itu,mereka semua terdiam saat dosen mereka masuk kedalam kelas.


"kita absen!" titahnya mengeluarkan bukunya.


"ya ampun,dua orang tuh malah pergi pula."


***


Alze celingak-celinguk mencari istrinya,ia pun tidak melihat istrinya berada dilorong kampus. "kemana dia? kenapa cepat sekali menghilangnya??" gumamnya berjalan menuju perpustakaan,barang kali istrinya berada disana saat ini.


Dor!


Bita tertawa puas melihat ekspresi terkejut suaminya. Alze berbalik dan menatap tajam kearah Bita. "darimana aja Lo?" tanya Alze.


"dari toilet,Lo ngapain keluar? bukannya ada pak Hendra tadi masuk?" tanya Bita sambil menyengir pelan menatap suaminya.


Alze yang masih diam dikejutkan dengan tas yang dilempar kearahnya. "nah,yuk kita jalan-jalan!" ajak Bita menggandeng lengan suaminya.


"kenapa? nggak mau nih?" tanya Bita lagi.


"bukan itu,tapi kita ada tugas yang mau dikumpulkan?"


"alah,nggak usah ambis kali Al. Tenang aja tugas kita udah gue kumpul sama Varrel,jadi kita bisa tenang keluar." seru Bita


"cih,dah pandai sekarang yaa??" gemas Alze mencubit hidung Bita.


"Karna tangan kita sama-sama diperban,gimana kalau naik bus aja??"


"emangnya apa hubungan tangan kita diperban sama naik bus?"


"Lo lagi nggak bisa mengendarai mobil,jadi kita naik bus aja. Yok!" ajaknya menarik Alze mendekati halte diddepan kampusnya.


"Bit rame woi,nggak ada tempat duduk." keluh Alze menatap padatnya penumpang bus didalamnya. Bita terkekeh pelan, "nggak papa,lagian kita bisa sambil berdiri kok." serunya memegang handle grip bus. Alze merasa kesal saat banyak orang-orang berdesakan dengannya,apalagi ia menatap tajam kearah pria paruh baya yang ingin didekat istrinya,tentu membuat pria itu tidak tinggal diam.


Alze melirik kearah wanita yang baru saja meninggalkan kursinya dengan cepat ia mendorong Bita agar duduk disana. "duduk disitu." ucapnya pelan,sedangkan Bita hanya terdiam mendongak kearah Alze,dalam hatinya ia tersenyum suaminya peka jika tadi ia hampir diganggu oleh pria paruh baya disebelahnya itu.


Sampai ditempat tujuan,Bita menarik tangan Alze keluar dari bus. Mereka berjalan memasuki kebun buah disana. "gimana? unik kan?" serunya memandang beberapa pohon yang terlihat ada buahnya. Bita begitu selera ingin mencicipi satu persatu buah yang ada disana.


"Al,kata orangnya kita boleh metik buahnya loh,gue mau metik buah mangga lah!" serunya berjalan mendekati pohon mangga yang besar itu.


"eh,Lo mau ngapain??" tanya Alze melihat Bita hendak memanjat pohon mangga itu. "mau metik lah,apalagi?"


"tengok tangan Lo tuh,belum sembuh. Jangan manjat!"


"alah,gue mau buah mangganya Al."


"bentar," ucapnya lalu mencari petugas yang bisa mengambilkan buah yang mereka inginkan.


Tak lama kemudian,Bita tersenyum riang melihat petugas itu sendiri yang mengambilkan buah untuknya.


"yeey,makasih pak!" seru Bita mengambil buah mangga yang ada ditangan bapak itu tadi. Bita mengajak Alze untuk makan bersamanya.


"hmm manis." gumamnya menikmati mangga yang ia kupas sendiri,sedangkan Alze hanya diam memperhatikan istrinya makan.


"Lo nggak makan Al?" tanya Bita disela ia makan mangga. Alze menggeleng pelan, "lanjut aja habisin semuanya.".


"ayolah,nih coba biar gue suapin!" serunya memasukkan satu potongan manggangnya kedalam mulut Alze.


"enak kan?" tanya Bita lagi membuat Alze terkekeh pelan sambil mengacak rambut istrinya itu.


"suapin lagi." ucap Alze membuka mulutnya,Bita tersenyum tipis sambil memasukkan potongan mangga lagi.


Alze senyam-senyum menatap wajah istrinya, seolah-olah dunia hanya milik mereka tanpa memperdulikan tatapan orang disekitarnya malu-malu menatap mereka. Seharian mereka tertawa bersama membuat hubungan mereka semakin dekat.


"wow,nggak terasa dah sore aja,yok kita pulang!" seru Alze berdiri sambil mengibas bajunya. Bita pun ikut juga lalu saat hendak ingin memasang tali sepatunya,ia terkejut melihat tetesan darah jatuh dari hidungnya.


"darah? gue mimisan lagi?" gumamnya pelan,Bita cepat-cepat mengambil tisu dalam tasnya.


"Bita Lo kenapa?" tanya Alze cemas menyamakan tinggi dengan istrinya. Ia terkejut saat melihat Bita mimisan.


"apa Lo sering mimisan kayak gini??" tanya Alze menatap lekat istrinya,Bita mengangguk pelan sambil mengusap hidungnya.


Deg.