
Bita yang terus mengusap hidungnya terkejut saat seseorang menangkup wajahnya. Pria itu membantunya membersihkan darah yang terus keluar dari hidung istrinya.
"kita kerumah sakit sekarang!" serunya tetapi Bita menggeleng keras. "nggak,nggak papa kok. Gue udah biasa kok kayak gini."
"nggak ada Bita,Lo harus ikut gue!" titahnya tidak ingin dibantah,mau tak mau Bita pun terpaksa ikut kerumah sakit.
Alze dan Bita sampai dirumah sakit,sambil menunggu antrian mereka masuk keruang pemeriksaan. Bita melirik sekeliling suasana rumah sakit tampak tenang. Lalu pandangannya berhenti saat melihat ada beberapa orang yang terluka parah dibawa cepat oleh para tenaga medis. Bita terdiam menatap semua itu seolah-olah mengingatkannya pada hari itu,hari dimana kedua orang tuanya kecelakaan dan tidak bisa diselamatkan nyawanya.
Bita waktu itu menangis histeris meminta bantuan agar orang tuanya segera diselamatkan,namun karena terhambat biaya sehingga operasi keduanya tidak bisa dilakukan. Apalagi saat itu tepat sehari sesudah ia berniat mengakhiri hidupnya. Ia waktu itu tidak mengetahui jika kedua orang tuanya sudah menyimpan tabungan untuknya.
Bita tersentak dari lamunannya lalu menoleh kearah orang yang menepuk pundaknya.
"Lo melamun?" tanya Alze mengamati wajah istrinya yang terlihat tegang. Bita menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "yok duduk sana!" seru Bita mengalihkan topik,ia menarik tangan Alze untuk duduk didekatnya.
Alze tahu jika istrinya menutupi masalahnya sendiri,namun ia juga tidak memaksa istrinya menceritakan masa lalunya,walaupun sebenarnya selama ini ia tahu semua masa lalu Bita dari buku diary gadis itu yang ia baca diam-diam.
***
Semua mata tertuju pada wanita berpakaian seksi itu,berjalan memasuki kantor polisi untuk menemui seseorang yang ingin ia temui. Sambil menguraikan rambutnya ia menunggu orang itu berhadapan dengannya.
"Brian kan?" tanyanya melihat pria berwajah tampan dan datar itu menatapnya. "Lo siapa?" tanya Brian menelisik wanita asing didepannya ini.
"gue Mezza,kita langsung ke intinya gue butuh bantuan Lo sekarang." ucapnya tanpa basa-basi. Brian tersenyum sinis, "gue nggak kenal Lo,ngapain Lo minta bantuan gue!" ketusnya.
"gue bantu Lo keluar dari sini." tawarnya lagi.
"apa yang Lo mau dari gue?" tanya Brian penasaran,wanita asing ini membutuhkan bantuannya?
"gue ingin Lo bawa Bita jauh dari Alze." ungkapnya tegas.
Brian mengangkat alisnya satu, "darimana Lo kenal dia?"
"gue sejurusan sama dia,dan gue mau Lo bawa dia sejauh mungkin kalau bisa Lo lenyapkan dia dari sini!"
"kenapa harus gue? kenapa nggak cari orang lain aja?'
"gue rasa cocok tugas ini untuk Lo sekarang,Lo pasti ngincar Bita kan?"
"tunggu,kenapa Lo bisa tau semuanya? siapa Lo sebenarnya??" tanya Brian curiga.
"gue pacar Alze,hanya itu yang perlu Lo ingat baik-baik Brian. Gue akan bebasin Lo dari sini setelah Lo setuju apa yang gue mau."
"apa Lo nggak waras,pria sialan itu sudah menikah. Lo banyak halu bodoh."
"cih,mereka bisa cerai. Jadi nggak akan ada lagi yang halangi gue untuk memiliki Alze. Cepat putuskan!"
"keuntungan gue nggak sebanding dengan yang Lo tawar."
"Lo boleh kok jadiin Bita mainan Lo,Lo pasti mau kan?"
"ck,nggak akan bisa ngarepin dari wanita sialan itu,suaminya bakalan menghajar gue habis-habisan."
"itu karna Lo bodoh,nggak pakai akal untuk membuat strategi. Cepat, langsung ke intinya Lo setuju nggak?" desaknya.
"apa jaminannya kalo Lo bisa bebasin gue dari sini?"
"gue anak konglomerat disini,gue bisa melakukan apapun yang gue suka. Untuk bebasin Lo itu hak yang mudah bagi gue. Jadi gimana? setuju?"
"terserah Lo aja,seujung rambut gue nggak akan pernah Lo sentuh nanti. Dah,Karna kita sudah setuju artinya sekarang kita kerja sama. pengacara gue akan ngurus masalah Lo besok,jadi sampai jumpa diluar penjara. Gue akan bicarakan rencana lebih detailnya lagi ke Lo setelah keluar." jelas Mezza langsung berjalan keluar dari ruangan jenguk. Brian menatap kearah Mezza sambil tersenyum seringai.
Kalau gue bisa dapat Bita Lo juga bisa gue jadikan mainan seperti yang Lo bilang,sekali menyelam minum air. gumamnya santai sambil berjalan menuju tempat penjaranya.
Mezza berjalan angkuh keluar dari kantor polisi yang membuatnya sesak,ia akan mengutuk tempat ini sebagai tempat yang paling buruk baginya.
"gue harap Lo sengsara Bita, mengatasi hidup Lo melawan pria berhidung belang itu." gumamnya pelan.
Mezza berjalan masuk kedalam mobilnya,ia mengingat pria tampannya yang selalu membuatnya terpesona dengan ekspresi dingin pria itu. Tetapi perlakuan Bita padanya saat dikampus saat itu,ia pun langsung bertekad membalaskan dendamnya.
"gue akan rebut apa yang seharusnya menjadi milik gue!"
***
Alze berdecak pelan menatap hasil pemeriksaan istrinya. Bagaimana bisa seorang Bita mengalami insomnia dan mimisan sekaligus??
"apa Lo sering nggak tidur semalaman hah?"
"hmm gue dah biasa sih kayak gitu. Nggak papa kok Al,ini cuma biasa aja kok." ucapnya pelan. Ia memang santai saja untuk masalah ini,namun tidak dengan Alze.
"mulai malam nih Lo tidur sama gue! gue nggak nerima penolakan. Apalagi mimisan kayak gitu,apa yang Lo pikirkan terus hah sampai Lo stres?" oceh pria itu setelah mendengar penjelasan dokter tadi mengenai masalah fisik istrinya. Bita hanya menggaruk tengkuknya tidak gatal,ia bingung harus menjawab apa pada suaminya karena memamng seperti itulah kenyataannya.
Bita sering stres karena urusan kehidupannya sebelum menikah dengan Alze, tidak ada tempat curhat atau keluh kesahnya mungkin membuatnya stres tanpa ia sadari. Apalagi sejak kejadian kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya ia tidak bisa tidur dengan nyenyak,membuatnya terus bergadang setiap dirinya tidak bisa tidur.
"huft." Alze hanya menghela napas kasar,ia tidak menyangka istrinya mengalami hal seperti ini. Alze menarik tangan Bita sambil menggenggamnya menuju resepsionis untuk meminta obat.
"ini mas." seru apoteker itu yang sudah meracik obat milik Bita,Alze mengeluarkan beberapa lembaran uang dari dompetnya lalu membawa gadis itu keluar dari rumah sakit.
"makasih." jawabnya sambil membawa Bita keluar dari rumah sakit. Ia dan Bita berjalan menuju tempat taksi yang berjejeran disana.
"pak antarkan ke alamat ini." serunya menunjukkan alamatnya. Sementara Bita hanya diam seribu bahasa mengikuti suaminya.
"Al,kenapa Lo—" belum ia selesai bicara, suaminya itu menutup mulutnya dengan tangannya.
"jangan bertanya kenapa Lo mau bantuin gue lagi,bukan itu yang ingin gue dengar sekarang Bita. Dah sekarang Lo banyak istirahat,jangan banyak gerak!" serunya membantu Bita membaringkan diri dikasurnya,Alze memutuskan untuk sementara waktu ia dan Bita tinggal dirumah keluarganya.
Setelah melihat istrinya tertidur pulas,ia tersenyum tipis mengecup kening istrinya. Lalu beranjak dari kasur secara perlahan-lahan sambil mengambil ponsel dan bungkus rokoknya.
"Lo mau kemana kak?" tanya Sam melihat Alze tengah memakai helmnya. Alze mendongak menatap adiknya, "jagain Bita sebentar." ucapnya lalu berjalan keluar rumah,namun sedetik kemudian ia kembali masuk lagi menemui Sam yang masih diam disana.
"kenapa?" tanya Sam bingung. Alze berdecak pelan, "yang jagain istri gu,Azza ajalah. Lo nggak usah masuk!" titah Alze menatap tajam kearah Sam.
"astaga kak,iya...iya nggak bakalan gue rebut kakak ipar gue dari Lo. Tenang aja, sebrengsek apapun gue,gue nggak bakalan mau mengambil milik orang lain." seru Sam menggeleng-geleng kepala melihat kakaknya sudah masuk fase bucin.
"terserahlah..." ucap Alze acuh tak acuh,ia berjalan menuju motornya. "Hazig,apa yang Lo bilang tadi benar huh?" tanyanya melihat sahabatnya sudah menunggu didepan rumahnya.
"hm." gumam Hazig menyalakan motornya,lalu mereka melaju menuju suatu tempat.
.
.
.
~Maaf nggk upload kemarin,karena lagi ujian hehehe~