
Bita sambil tersenyum riang membawa kucing yang barusan ia temui ditaman tadi masuk kedalam rumah. Sedangkan Alze hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang tidak bisa ia tebak. Kadang marah,kesal, senang,sedih mudah berubah -ubah tergantung situasi dan kondisi disekitarnya.
"kucing comel gue,hmm gue mau obatin kaki Lo boleh yaa??" tanyanya melirik kucing itu dengan gemas. Bita dengan semangat mengambil kotak obat di lemari lalu mengobati luka kaki kucing itu.
"meow."
"aow comelnyaa...hmm Lo bagusnya dipanggil apa ya??" gumam Bita memikirkan nama yang cocok untuk kucing imut itu.
"ah! gue tau,gimana kalau Lo dipanggil mas oyen? gimana-gimana Lo kan jantan cing,apalagi warna bulu Lo Oren,jadi pas lah nama tuh." ocehnya senang.
Alze menatap aneh melihat kelakuan abstrud Bita,semakin mengenal gadis itu semakin pula ia tercengang dengan sikapnya. Ia pun lebih memilih jalan ke dapur untuk menghilangkan dahaganya.
"Al!" panggil Bita membuat Alze yang tengah mengambil minuman dingin dikulkas menoleh malas kearah istrinya.
"hm?"
"bantuin gue dong,obatin mas oyen. Gue nggak bisa megang badannya,kalau gue juga yang obatin."
ck,Alze membuang napas kasar menghampiri Bita dan kucing oren itu. "mana lukanya?"
"nih." tunjuk Bita kearah kaki kanan mas oyen. Alze membalut luka kucing itu membuat pandangan Bita yang awalnya pada mas oyen,kini beralih menatap wajah suaminya.
Tampan . Bita sampai detik ini masih belum menyangka jika dirinya sudah menikah,terlebih menikah dengan orang yang banyak diincar para kaum hawa. Alze yang sudah siap mengobati Alse mendongak keatas. Jelas dari raut wajahnya terkejut saat melihat wajah Bita sedekat ini.
"eh." Bita memalingkan wajahnya,ia pun menggulung rambut lalu membawa mas oyen kedalam kamar mandi. Sedangkan Alze terduduk sambil memegang dadanya yang terasa berdegup kencang.
Usai memandikan mas oyen yang lumayan cukup sulit sampai tangannya pun ikut menjadi korban akibat cakaran mas oyen.
"mas! mas oyen!! pus...pus.. "
Bita menoleh kearah mas oyen yang sudah terlihat kinclong dan bersih,ia pun membiarkan kucing itu memainkan gantungan kunci miliknya. "Al,Lo ngapain?"
"entah." jawab Alze malas,sejak kedatangan kucing itu,semua perhatian Bita Teralih kearah kucing sialan itu. Entah kenapa,Alze menatap tidak suka.
"cih,sampai gue manggil seribu kalipun dia nggak bakalan dengar." gerutunya pelan sambil memainkan knop pintu buka-tutup.
"woi Al,Lo gabut ya?" tanya Bita merasa terganggu dengan tingkah suaminya yang abstrud itu.
"nggak." sahutnya ketus sambil melirik kearah luar. Ia pun langsung merogoh sakunya saat merasakan getaran ponselnya. Ia melihat nomor mamanya memanggilnya,Alze sekilas melirik Bita yang masih asyik dengan kucing temuannya itu,dan berjalan keluar teras.
"ya ma?"
"hah,udah enak ya diluar!! nggak ingat kamu sama mama?!" cerca Haura membuat Alze sedikit menjauhi ponsel dari telinganya.
"kenapa ma?" tanya Alze balik,ia sudah memaklumi sifat mamanya yang begitu unik baginya. Walaupun sifat dan didikan orang tuanya itu cukup berbeda dengan orang tua lain yang ada diluar sana,tetapi ia yakin jika orangtuanya ingin yang terbaik untuk mereka bertiga.
"bawa istri kamu kesini." ucap Haura membuat Alze mengangkat alisnya satu. Tidak menyangka Haura sudah mulai menerima kehadiran Bita.
"okee." ucapnya singkat,lalu menunggu Haura mengakhiri teleponnya terlebih dahulu,barulah ia mematikan ponselnya.
"huft." Alze membuang napas kasar berjalan kembali masuk kedalam rumah. Ia berdecak pelan melihat istrinya masih asyik bermain dengan kucing disana.
"Bit, siap-siap kita kerumah!" serunya membuat Bita terdiam membeku.
"ke-kerumah? rumah siapa? jangan bilang kerumah—"
"iyaa kerumah gue,mama mau ketemu sama Lo."
"eh?" Bita tidak bisa berkata-kata,dirinya seketika gugup bertemu dengan ibu mertuanya itu.
Bita menggigit bibirnya pelan,ia bingung harus bersikap apa nanti dihadapan mertuanya. Walaupun pernikahan ini diawali dengan paksaan,namun ia harus tetap menghormati pernikahan itu. Ia memang belum menyukai Alze,hatinya masih terlukis nama pria lain.
Mengingat pria yang disukainya itu,hati kecil Bita merasa ngilu. Air matanya lolos jatuh tanpa seizinnya,dengan cepat ia mengusap kasar.
Ah,Bita Lo nggak boleh kayak gitu,ikhlasin. Dia mungkin memang nggak baik buat Lo,huft...harus move on dari sekarang!! gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
"Bita Lo ngapain?" tanya Alze yang bingung menatap istrinya berdiam diri sambil menunduk. "cepatlah siap-siap,gue tunggu diluar!" serunya membuat Bita tersadar dan berlari kencang ke kamarnya.
Braak.
Alze tersentak kesal sambil mengelus dadanya,ia menatap tajam kearah pintu kamar Bita. "cih,dia itu perempuan atau buldozer sih? nggak ada anggun-anggunnya." decaknya pelan lalu duduk disofa. Ia menyorot tajam melihat kucing peliharaan istrinya sibuk memainkan tali sepatu milik Bita.
"ck." kesalnya mengangkat sepatu itu dari jangkauan mas oyen,lalu diletakkan ditempat rak sepatu. "kasian,nggak bisa main Lo!" ejeknya puas. Sedangkan mas oyen mengeong-ngeong berjalan mendekati Alze.
"ho ho,ngapain Lo dekatin gue hah? sana hush! hush!" Alze begitu kesal langsung mengangkat kucing itu keluar dari rumah. "nah disitu aja Lo. Nggak usah masuk!" cercanya langsung menutup pintu. Ia pun merebahkan dirinya diatas sofa sambil menunggu istrinya bersiap-siap.
ck. Alze langsung beranjak dari tempatnya dan membuka pintu lalu memasukkan kucing itu kedalam. "ish,Lo disitu aja. Jangan buat gue terbebani!" ketusnya sambil meletakkan bantal sofa di sudut ruangan. Ia pun meletakkan kucing itu diatas sana.
"Lo jangan dekat dengan istri gue yaa,dia milik gue. Lo nggak boleh modus!" ocehnya menatap jengah kearah mas oyen.
Kepalanya langsung mendongak saat mendengar suara pintu terbuka dari kamar Bita. Baju yang dikenakannya sangat sederhana,memakai baju denim ditambah celana jeans yang senada,apalagi rambutnya yang panjang digerai begitu saja.
"yok berangkat!" ajaknya sambil memasang sepatunya,Alze tersentak,memalingkan muka menghindari tatapan Bita. Alze mengangguk pelan lalu memberikan helm itu pada Bita.
"eh,Al nanti kita singgah bentar yaa." seru Bita membuat Alze menoleh kebelakang. "singgah kemana?"
"beli buah bentar,masa iyaa kita datang dengan tangan kosong." ucap Bita sambil menaiki motor Alze, ia menepuk bahu suaminya pelan. "udah,jangan protes." gerutunya saat melihat suaminya hendak menolak permintaannya.Alze hanya menghela napas lalu melajukan motornya.
***
Bita memegang erat kantong plastik ditangannya,ia termor berdiri didepan rumah yang begitu elegan. Bita banyak dibuat terkejut dengan perabotan-perabotan yang pastinya sangat mahal didalam rumah itu.
"assalammualaikum!!" seru Alze langsung masuk kedalam rumahnya,Bita langsung mengikuti suaminya masuk.
"wa'alaikumsalam,eh Lo dah balek kak?" tanya Azza terkejut,gadis itu tengah menonton drama kesukaannya diruang tengah sambil memegang cemilan ditangannya.
Alze mengangguk pelan,lalu duduk disamping adiknya. "ngapain Lo nonton yang beginian? tuh drama belum cocok untuk usia Lo!" tanyanya ketus.
"suka-suka guelah." jawabnya tak kalah ketus. Bira hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kakak beradik itu.
"eh kak Bit,duduklah sini kak!" seru Azza menggeser bokongnya agar kakak iparnya bisa duduk disana. "cih,kak geser dikit kak!" kesalnya mendorong kakaknya menggeser ke ujung sofa. Alze berdecak pelan menggeser tempatnya agar dua manusia itu bisa bercengkrama.
Bita duduk disamping Azza sambil menonton drama yang ditonton Azza. Azza menyenggol siku Bita pelan, "kak,tau drama ini nggak?"
"tau,ini episode berapa sih? kok gue nggak tau?"
"ini episode terakhir kak,serukan dramanya??"
"iyaa, gila pemain cowoknya buat gue meleyot. Itu huwaah suami idaman gue banget!!" seru Bita langsung dianggukan Azza.
"ya kan kak?? tulah,gue mau kesana kak. Jemput ayang gue kak,kasian dia dinegeri orang tapi jodohnya disini."
Alze memutar bola matanya malas, bisa-bisanya mereka berhalu terlalu tinggi. "ck, benar-benar aneh kalian berdua."
"tos dulu kak!" ajak Azza langsung dibalas Bita, mereka saling bertos ria dengan hobi mereka yang hampir mirip. Alze lagi-lagi menghela napas kasar melihat dua manusia abstrud itu.