I'M Your Wife

I'M Your Wife
Malas



Algha langsung menarik Azza dalam pelukannya. Ia jadi merasa bersalah dengan gadis itu. "Maaf gue nggak bermaksud buat lo takut Za."


Azza mengangguk masih memeluk pria itu membuat Algha terkekeh pelan. "Nyaman yaa dipelukan gue?"


Azza langsung melepaskan pelukannya dan memalingkan mukanya dari Algha. "Ah, ma-maaf."


Algha tersenyum tipis sambil menyelipkan anak rambut Azza kebelakang telinga. "Untuk apa lo minta maaf, justru gue malah senang. Apa gue sering-sering yaa kayak gini lagi biar dapat pelukan lo?" godanya membuat Azza melotot kearahnya.


"Jangan bercanda, Alghaishan!" kesalnya langsung melenggang pergi meninggalkan pria itu. Sebelum langkah kaki gadis itu semakin menjauh, Azza berbalik menatapnya. "Gue mohon jangan bertindak seperti tadi karna gue, beri gue waktu." ucapnya lalu berjalan masuk kedalam ruangan.


Algha menatapnya dengan tatapan yang susah diartikan. Ia sebenarnya penasaran apa yang membuat gadis itu takut, tapi sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahasnya. Tetapi, ada satu hal yang membuatnya tidak bisa berhenti senyum, yaitu mengetahui jika Azza juga menyukainya.


"Baiklah, gue akan buktiin ke lo kalau gue bisa jadi pasangan hidup lo, Azza." tekadnya.


Setelah mereka menyelesaikan mendekorasi tempat acara tersebut di Aula. Mereka pun langsung duduk istirahat dibawah pohon menjelang semuanya hadir. Walaupun acara ini mendadak, tetapi mereka dapat menyelesaikannya dengan baik.


"Huft, kak aku lelah!" rengek salah satu anggota OSIS-nya. Algha menggeleng-geleng heran, "Lo capek? Gue sama woi. Tapi, mumpung mood gue lagi goodmood, gue traktir minum di kantin." ucapnya sambil mengibas-ngibas tangannya.


"Yey." seru mereka semua beranjak dari tempatnya.


Azza hanya diam menatap pria itu, dalam hatinya lega sekaligus menyesal. Tidak seharusnya ia menyatakan perasaannya seperti tadi, apalagi sampai menangis. Ini seperti bukan dirinya saja.


Ya ampun, mau diletak dimana muka gue? Gerutunya dalam hati.


"Azza, Lo nggak ikut kita?" tanya Dita menghampiri sahabatnya. Azza mendongak lalu mengangguk pelan.


"Bentar." ucapnya sambil berdiri dan mengibas roknya. Setelah itu, ia mengikuti mereka semua.


Algha hanya diam menatap Azza yang asyik mengaduk-aduk jus miliknya tanpa berniat meminumnya. Ia jadi gemas sendiri langsung memegang tangan gadis itu. "Apa perlu gue suapin juga tuh jus?"


Semuanya memasang tampang cengo menatap kearah mereka berdua. Bahkan ada yang saling menyikut satu sama lain.


Azza seperti biasanya menatap datar kearah Algha, jika orang lain mungkin akan menciut menatap mata Azza. Lain hal dengan Algha yang sudah menang banyak daritadi, apalagi saat sudah tahu isi hati seorang gadis dingin itu.


Algha menopang dagunya pada meja, menatap lurus kearah Azza yang duduk dihadapannya. "Kenapa diam?"


"Aneh." ketus Azza langsung meneguk jus miliknya sampai kandas, lalu beranjak dari tempatnya saat melihat orang-orang sudah mulai bergerombolan memasuki acara mereka. "Gue duluan." pamitnya berlalu.


Dita kewalahan, menyusul sahabatnya yang super cuek itu sambil melambai-lambaikan tangannya pada pacarnya yang juga anggota OSIS seperti dirinya.


"Ya ampun Za, Lo makin dingin aja." gumamnya pelan langsung menutup mulutnya. Ia merutuki mulutnya yang asal main ceplas-ceplos saja.


Azza berbalik lalu menatap Dita, "Beneran gue sedingin itu?" tanya Azza membuat Dita kebingungan menatapnya.


"Iyaa Za, Lo akhir-akhir ini makin dingin. Jadi orang ngira lo musuhin mereka semua."


Azza mengumpat pelan sambil mengusap wajahnya kasar. "Gue kayaknya terlalu nething terus." gumamnya melanjutkan langkahnya menuju tempat para guru.


"Hah? Apa? Woi Azza jelasin apa maksud lo!" teriaknya masih belum paham dengan maksud Azza.


Sedangkan Algha hanya diam sesekali tersenyum tipis membuat anggota OSIS yang ada disana menatapnya heran. "Lo nggak gila kan Al?"


"Aura?"


"Ah, lo nggak perlu tau. Nih uangnya langsung bayar sama bude. Gue mau cabut dulu, bye!" serunya melenggang keluar dari kantin.


Ternyata tarik-ulur lo menyenangkan juga, kita lihat sampai berapa lama lo bertahan kayak gini terus Azza? gumamnya dalam hati.


***


Pria tampan itu masih menggulung dalam selimutnya. Ia seperti tidak berniat untuk terbangun dari tidurnya membuat Bita harus menghela napas sabar.


"Ya ampun, perasaan semalam Lo duluan tidur dari gue. Kok dia pula yang lama bangunnya." gerutunya duduk dipinggir kasur. Bita tidak pernah berhenti mengagumi wajah tampan suaminya itu, kadang ia juga sempat berpikir bagaimana bisa ia mendapatkan suami seperti Alze? Apalagi mengandung anaknya.


Bita terkekeh geli membayangkannya, ia menepuk pelan bahu suaminya. "Yang, bangun. Dah pagi loh!"


"Sayang, cepetan bangun." serunya lagi namun, masih tidak ditanggapi pria itu. Kadang Bita geram sendiri, Alze kadang-kadang suka menepis tangannya agar tidak menganggu tidurnya.


"Alze!" gemasnya namun siempunya nama masih nyaman dengan tidurnya.


"Huft,tembam liat papa kamu tuh, nggak bangun-bangun dia, apa kita sholat kan aja?" tanyanya pada janin dalam perutnya. Ia suka memanggil nama anaknya


"Heh, sembarangan aja kamu ngomong!" gerutu suaminya masih menutup matanya. Ia menahan tangan istrinya dan menggenggamnya lembut. "Kamu ngasih nama anak kita tembam?" tanyanya sambil membuka matanya perlahan.


"Ah, ini nama sementara aja kok. Lagian aku bingung mau manggil dia siapa."


Alze terkekeh pelan, "Lucu juga, aku suka." ucapnya sambil memeluk istrinya. Bahkan tangannya tampak mengelus sayang perut Bita. "Jam berapa sekarang?"


"Jam sembilan, cepat kita ada kelas jam sebelas nanti Al."


"Masih lama lagi, aku ngantuk kali Bit." Alze kembali memejamkan matanya.


Bita langsung menangkup wajah Alze, dan mencium bibir suaminya itu. "Udah, ayok bangun. Kita sarapan dulu Al, kamu juga belum sholat." gemasnya mengacak-acak rambut suaminya.


Alze semakin bergelayut manja dengannya, bahkan untuk beranjak dari tempat tidur rasanya sulit. "Aku masih ngantuk."


"Ish, ayo cepetan! Nggak ada ngantuk-ngantuk. Gue tunggu dibawah!" titah Bita beranjak dari tempatnya, melihat istrinya sudah menjauh darinya membuat Alze langsung terbangun dan cepat-cepat menghalangi langkah istrinya keluar. "Nggak boleh!"


Bita melipat tangannya didada, ia menahan tawa melihat suaminya yang masih sempoyongan karena nyawanya belum terkumpul semua. "Tapi, katanya mau tidur aja. Ya udah, nanti aku berangkat sendiri aja."


"Nggak boleh, jangan keluar tanpa izinku Bit!"


"Ya kalau gitu, kamu siap-siap dong, jangan malasan lagi. Cepat sana mandi, baju kamu udah aku siapin di atas meja. Aku ke dapur dulu bantu mama." ucapnya menepuk bahu suaminya lalu keluar dari kamar. Alze tersenyum tipis sambil menggangguk pelan. Lalu ia menutup kembali pintunya. Bukannya, segera mandi pria itu malah menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.


Entahlah, rasanya malas untuk melakukan sesuatu hari ini, apakah ini juga termasuk ngidam? Semoga saja begitu, biar ada alasan baginya untuk bergolek-golek disini.


"Lima menit ajalah tidur." gumamnya sambil menutup mata, ekspektasi tidak sesuai yang direncanakan pria itu, malah ia keblabasan tertidur pulas di kasurnya.


Bita yang merasa suaminya tidak kunjung keluar dari kamar, membuatnya ia berjalan ke kamarnya. Sampai dikamar, ia begitu terkejut melihat suaminya masih anteng dikasurnya, membuat bumil itu gemas sendiri. Ia pun membawa gayung berisi air, lalu memercikkan pada suaminya itu.


"Ya ampun Al, bangun woi!!"